Jarak

420 39 16
                                        

Cuaca pagi ini di Bandung sangat mendung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan deras.

Sama seperti hati Aldo yang selalu sendu, kosong dan hampa, sudah 2 minggu dia dan Maya tidak berkomunikasi, dia sendiri tidak tahu bagaimana nasib pernikahan ini.

Setiap hari dia hanya dikantor, tidur makan juga dikantor, dia tidak ingin pulang kerumah apalagi masuk ke kamar yang terasa begitu aneh tanpa Maya.

"Do , ini mama masak ikan pindang, makan ya"

"Taruh saja ma, nanti aku makan" kata Aldo masih fokus pada komputernya

"Mama mau lihat kamu makan, jika ditaruh saja mama yakin berujung tidak kamu makan"

Aldo tidak merespon tetap fokus pada pekerjaannya

"Do, sudahlah Maya tidak akan kembali, belajar lupakan dia!"

"Setelah mama memintaku untuk belajar mencintainya sekarang mama memintaku untuk belajar melupakannya? apa aku hanya robot bagi mama? yang selalu harus mengikuti perintah mama?" jawab pelan Aldo tapi sungguh menusuk hati

"Do ! Maya sudah punya anak ! mama tidak mungkin menerimanya lagi!"

"Kenapa ma?! bukannya mama sayang dengannya?"

"Iya benar, tapi sekarang berbeda Do ! mama tidak bisa jika harus menerima anaknya! apa kamu benar sanggup menerima anak yang bukan anakmu?! bagaimana jika kelak Maya memilih tidak mau memiliki anak lagi? atau jika kalian memiliki anak Maya akan lebih sayang pada anak pertamanya?! kamu sanggup?!"

Aldo diam mendengar ocehan ibunya, dia juga sendiri tidak tahu apakah bisa menerima anak Maya yang tidak dia ketahui siapa ayahnya itu atau tidak

"Belum lagi nanti ayah anak itu ingin bertemu atau apalah nanti masalahnya, kamu bisa Do? yakin bisa?!"

"Sudah ma, aku belum mau membahas itu"

Widya kesal pergi dari ruangan Aldo, sedangkan Aldo tetap fokus pada pekerjaannya meski hatinya juga berasa nano nano setelah mendengar perkataan ibunya

*

"Ma, yang ini bagus tidak? atau yang ini?" Bella mengambil beberapa setel gaun dan ditaruh dibadannya

"Yang ini saja, Bella coba dulu , nanti mama lihat"

Bella masuk keruang ganti, Maya melanjutkan mengitari toko tersebut.

Mereka berdua sedang berada dimall, Maya butuh sesuatu untuk menyegarkan otak dan hatinya.

"Bagus nak, cantik anaknya mama , yang ini saja, eh beli semuanya saja Bel, semua bagus"

Bella dengan riang membawa baju itu ke kasir, sudah sangat lama terakhir kali dia berduaan dengan ibunya.

Mereka keluar dengan banyak kantong belanjaan, tapi sebuah tangan besar langsung membantu membawakan kantong itu

"Om Dimas !" tidak sengaja mereka bertemu Dimas disana

"Hai anak manis, om bantuin ya"

"Terima kasih om" jawab antusias dari Bella

"Setelah ini mau kemana?" tanya Dimas

"Mama mau kemana setelah ini?"

"Mama terserah kamu Bel mau kemana"

"Makan saja ya? Bella sudah lapar"

Mereka bertiga berjalan bersama dengan Bella ditengah seperti sebuah keluarga harmonis.

"Bel pesan yang ini saja, jangan yang itu pasti pedas nanti kamu sakit perut" kata Maya

"Sekali saja ya ma? Please?" Bella memohon dengan menyatukan kedua tangannya

"Iya , sekali saja ya Bel" Dimas tiba-tiba menimpali

"Tapi Mas, nanti Bella sakit perut"

"Bella jangan makan banyak-banyak ya tapi"

"Iya om, terima kasih om ! om memang terbaik !" Bella mengangkat kedua jempolnya membuat Dimas tertawa dan mengusap kepala Bella, Maya hanya diam melihat interaksi keduanya

Maya tidak makan , memilih melihat putrinya yang makan dengan lahap

"Mama kenapa sih diet-diet ?" tanya Bella yang mengira Maya tidak makan karena diet

"Biar mama tidak gendut, nanti tidak cantik lagi" jawab Maya

"Kamu kurus atau gendut tetap cantik Ta" kata Dimas tiba-tiba

Maya yang tidak tahu harus menjawab apa memilih diam, dia risih dengan keberadaan Dimas, andai yang berkata seperti itu Aldo pasti dia sudah tertawa gembira.

"Bel setelah ini pulang ya, kaki mama sudah pegal"

"Kaki kamu sakit? mana sini aku lihat" kata Dimas langsung ingin menaikan kaki Maya

"Eh Mas tidak perlu, tidak apa-apa hanya sedikit pegal"

"Jika nyeri nanti aku berikan obat anti nyeri" kata Dimas yang memang seorang dokter

Maya , Bella berpamitan pada Dimas karena Dimas membawa mobil sendiri dan Maya diantar supir.

Perjalanan pulang sangat macet, mereka harus berhenti beberapa kali, Bella sampai tertidur dipaha Maya.

Ting

Suara pesan masuk ke ponsel Maya,

"Ada yang ingin aku bicarakan, hubungi aku secepatnya" isi pesan Aldo

Maya memilih tidak membalas, dia tidak tahu harus berkata ataupun menjawab pertanyaan Aldo nanti.

"Maaf Do, tapi untuk sementara lebih baik kita menjaga jarak dulu" kata Maya dalam hati sambil mengelus pipi putrinya

"Kenapa dia selalu tidak membalas pesan dan menjawab panggilanku! apa benar dia akan meninggalkanku dan mengakhiri pernikahan ini!" kesal Aldo membanting ponselnya

Sudah sejak lama Aldo tidak pergi ke diskotik, tapi malam ini dia kembali ketempat ini

Menikmati alkohol dan musik, berusaha melupakan semua masalahnya,

Asik menegak alkohol matanya tertuju pada sosok yang asing namun pernah dia lihat, dia berjalan mendekati wanita itu

"Kamu !"

"Siapa ya?" tanya wanita itu

"Kamu wanita waktu itu kan? wanita yang 12 tahun lalu yang aku mintai tolong membawa temanmu ke kamar hotel?"

Wanita itu mengingat kembali karena 12 tahun bukan waktu yang singkat

"Oh ! kamu pria yang memberiku 500 ribu itu ya?"

"Dimana temanmu itu?!"

"Kenapa? kamu masih ingin menikmati tubuhnya?"

"Cepat jawab!" nada Aldo meninggi

"Aku tidak tahu, dia memutuskan hubungannya denganku sejak saat itu, tapi aku dengar dia sudah pindah keluar negeri"

"Apa kamu tahu dimana rumahnya? atau kontaknya?siapa namanya?"

"Namanya Sella, sudahlah lupakan dia, aku juga tidak pernah mendengar beritanya lagi"

Wanita itu kemudian pergi menikmati alunan musik,

Aldo menghela kasar napasnya, sumber yang tahu keberadaan wanita itu pun sekarang tidak dapat membantu lagi.

.....

TBC

Inheritance LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang