Part 01

322 18 0
                                        

Setelah jam istirahat selesai, Irgina memasuki bilik kerjanya. Ia membuka jasnya lalu diletakkan di sandaran kursi. Gadis itu duduk lalu melihat ke layar.

Terdengar suara tepukan dua kali. Semua editor di lantai dua menoleh pada pria paruh baya berjas hitam yang berdiri di tangga menuju lantai tiga.

Dengan senyuman bijaknya, ia menyampaikan pengumuman, "Malam ini kalian jangan dulu pulang, ya. Kita akan merayakan ulang tahun LD Publisher yang ke-2. Ada banyak kejutan untuk kalian semua."

Semua karyawan tampak senang mendengar hal tersebut. Ruangan menjadi berisik.

"Wah, benarkah?"

"Tidak terasa aku sudah dua tahun di sini."

"Aku senang sekali bisa bergabung untuk merayakan ulang tahun perusahaan, padahal aku baru 2 minggu bergabung."

"Rasanya baru kemarin aku bergabung dan menandatangani kontrak kerja dengan LD Publisher. Sekarang aku ikut merayakan ulang tahun perusahaan yang ke-2."

"Wah, pasti akan sangat menyenangkan."

"Apakah kita akan makan-makan dan apakah ada minumannya juga, Pak Eldo?"

Pria paruh baya bernama Eldo itu mengangguk. "Tentu saja, sekarang lanjutkan pekerjaan kalian."

Setelah berkata demikian, Eldo Yudesta yang merupakan pemilik LD Publisher pun menaiki tangga menuju lantai tiga yang merupakan ruangannya. Tidak hanya ruangannya, tapi juga ada ruangan CEO dan manager yang terpisah di lantai tiga tersebut.

Lantai tiga itu hanya memenuhi separuh bangunan. Dan lagi ruangannya juga terbuka dengan kaca besar sebagai sekat. Siapa pun yang naik ke lantai tiga akan melihat aktivitas Eldo, dan manager, serta CEO di ruangan-ruangan lantai tiga itu. Namun, Eldo juga memiliki ruangan pribadi dan kamar mandi yang tertutup merangkap dengan ruangan di lantai tiga tersebut.

Setiap hari, Eldo suka melihat kinerja karyawan dari lantai tiga. Ia tidak pernah turun tangan secara langsung untuk melihat kinerja karyawannya. Ia hanya mengawasi di kejauhan. Namun, bukan berarti ia sombong atau tidak dekat dengan para karyawannya. Justru ia sangat dekat dengan mereka. Eldo dikenal sebagai seorang Bos yang baik hati, peduli, dan bijaksana. Itulah sebabnya semua karyawan LD Publisher sangat menghormatinya.

Jam menunjukkan pukul 10 malam. Di salah satu restoran dekat Kantor LD Publisher, terlihat Eldo bersama para karyawan duduk di meja makan panjang. Tidak hanya tim editor atau revisi naskah, tim percetakan, dan juga tim packing juga hadir semua. Manager dan CEO juga duduk bersama para karyawan lainnya.

Ada banyak makanan dan minuman di meja. Semua menu makan malam itu tampak menggugah selera.

Eldo memulai pidato, "Meski pun LD Publisher adalah penerbit kecil, tapi setidaknya kita semua telah bekerja keras bahkan sekarang tak terasa sudah menginjak tahun ke-2. Semoga tahun depan kita bisa menjadi penerbit mayor dan menerbitkan lebih banyak lagi buku berkualitas."

"Ya! Kita pasti bisa!"

"Mari berusaha menjadi lebih baik!"

"Siap!"

Eldo tersenyum. "Para karyawan yang setia dan sangat rajin datang pagi, aku mengirimkan sedikit bonus ke rekening kalian. Harusnya sekarang sudah datang." Eldo melihat jam tangannya.

Notifikasi dari ponsel para karyawan itu berbunyi bersahutan.

"Silakan kalian cek tanpa menyebutkan nominalnya," ucap Eldo.

"Wah, terima kasih, Pak Eldo."

Eldo tersenyum. "Terima kasih juga, karena kalian sudah nyaman bekerja padaku. Aku harap kalian tetap nyaman. Apabila selama ini aku pernah mengatakan sesuatu yang membuat kalian tersinggung atau sakit hati, aku minta maaf. Lain kali aku akan bicara dengan lebih baik lagi."

"Tidak, kok."

"Tidak ada, kok."

"Tidak ada kata-kata yang membuat kami tersinggung, kok, Pak."

"Iya, kami tidak pernah sakit hati. Bapak tidak pernah membentak kami."

Eldo tersenyum sendu lalu ia mengangkat gelas. "Baiklah, LD Publisher menuju sukses!"

Semua karyawan juga mengangkat gelas mereka. "LD Publisher menuju sukses!"

"Bersulang!"

Mereka pun meneguk minuman dari gelas masing-masing, terkecuali Irgina. Ia meletakkan gelasnya ke meja sambil tersenyum senang.

Perempuan di sampingnya menyikut lengan Irgina lalu ia berbisik, "Kau tidak minum, Irgina?"

Irgina menggeleng lalu menjawab dengan bisikan juga, "Aku tidak minum."

Mereka pun menikmati makan malam bersama dengan kegembiraan.

Setelah selesai makan malam, Irgina pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari Kantor LD Publisher. Ia membawa satu kardus mie instan dan juga tas plastik yang ditenteng bersisi bahan makanan lainnya seperti ikan kalengan, sayuran, telur, buah-buahan, dan lainnya.

"Selain memberikan bonus, Pak Eldo juga membeli bahan makanan sebanyak ini untuk setiap karyawan. Seandainya ulang tahun perusahaan diadakan setiap hari, aku tidak perlu membeli stok bulanan lagi."

Tiba-tiba hembusan angin menerpa wajah Irgina. Anak rambutnya bergerak-gerak. Hawa dingin yang ditimbulkan oleh angin membuat Irgina sedikit merinding. Pandangannya tertuju ke vending machine di tepi jalan, tepat di sampingnya.

Irgina memutar bola matanya lalu ia melanjutkan langkahnya menganggap yang barusan adalah hawa dingin dari vending machine tersebut. Namun, sepertinya Irgina salah. Karena setelah ia pergi, terdengar suara napas tertahan dari pohon besar nan rimbun dekat vending machine.

Sesampainya di rumahnya, Irgina meletakkan kardus mie instan di lantai. Ia merogoh tasnya lalu mengeluarkan kunci. Setelah pintu dibuka, Irgina pun masuk.

"Ah, aku lelah sekali." Irgina masuk ke dapur dan merapikan semua bahan makanan ke dalam kulkas, lemari, dan beberapa diletakkan di meja.

Setelah itu, Irgina pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia menyalakan air hangat. Kemiskinan Irgina memasak mie instan kuah. Ia juga menyeduh cokelat panas. Uap-uap lembut itu menari-nari di atas cangkir berwarna putih tersebut. "Kenapa aku harus diet ketat? Aku kurus, kok."

Setelah mie kuahnya matang, ia menyantapnya di kala suasana malam yang sangat dingin itu.

"Mie instan kuah rasa soto tidak pernah mengecewakan. Rizal dan Tisa mendapatkan mie kuah ayam bawang. Mereka pasti akan meminta sebagian mie mereka ditukar dengan punyaku," gumam Irgina. Gadis itu mengambil cokelat panasnya lalu meneguknya pelan-pelan.

Perlahan Irgina menghela napas berat. Ia mengusap punggungnya yang terasa kaku dan tidak nyaman. "Kenapa badanku pegal sekali? Padahal aku terbiasa pulang jam 11. Aku juga mandi dengan air hangat."

Bahkan saat tidur pun, Irgina masih merasa pegal. Ia bangun lalu menyalakan lilin aroma terapi. Ia juga mengoles bahu dan lengannya dengan minyak urut mawar. Setelah merasa lebih baik, Irgina kembali merebahkan tubuhnya ke ranjang. Gadis itu pun tidur nyenyak.

Angin berhembus di dalam ruang kamar Irgina. Beberapa benda ringan di ruangan itu bergerak melambai merespon gerakan angin yang entah dari mana asalnya. Lalu angin tersebut keluar melalui celah-celah ventilasi udara.

🥀🥀🥀

23.32 | 1 Desember 2020
By Ucu Irna Marhamah

MISANTHROPETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang