Natalia meletakkan laptopnya di meja lalu mengecasnya. Setelah itu ia merebahkan tubuhnya di samping Irgina yang mengotak-atik ponselnya.
"Persediaan makanan kita habis," kata Irgina. "Besok kita harus pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan kalau masih mau tinggal di sini atas izin Rina."
Natalia menoleh pada Irgina. "Baiklah."
"Sekalian aku membahas tentang apa yang diceritakan oleh Zyara," kata Irgina. Ia meletakkan ponselnya ke meja di samping ranjang.
"Kakak mau tidur?" tanya Natalia.
Irgina mengangguk. "Ya, aku mengantuk."
Natalia menatap langit-langit kamar.
"Ngomong-ngomong, apakah kau bisa memegang hantu?" tanya Irgina.
Natalia mengangguk. "Kadang-kadang. Mungkin karena aku bisa melihat mereka, aku juga bisa menyentuh mereka."
"Seperti apa rasanya? Apakah sama seperti memegang tubuh manusia?" tanya Irgina penasaran.
"Tergantung, kalau hantunya biasa saja, dalam artian tidak jahat dan tidak kuat, rasanya seperti menyentuh tubuh manusia, tapi suhu tubuhnya sangat-sangat dingin. Sementara hantu yang jahat dan kuat, rasanya seperti memegang air. Aku bisa menyentuhnya tapi tidak bisa memegangnya. Seperti menembus, tapi masih bisa merasakannya," jelas Natalia.
"Begitu, ya?"
Natalia mengangguk lalu menoleh pada Irgina. "Kenapa Kakak tiba-tiba menanyakan tentang hal ini? Tidak biasanya Kakak ingin tahu tentang hantu."
"Aku hanya sedikit penasaran."
🥀🥀🥀
Keesokan paginya.
Dua orang pria paruh baya memakai topi anyam berjalan melewati gang. Yang satu membawa cangkul di pundaknya dan yang satu membawa golok yang diikat ke pinggangnya.
Mereka melihat ada tumpukan daun kering yang terlihat sedikit menonjol seperti kuburan.
"Yo, lihat itu. Sepertinya ada sesuatu di bawah tumpukan daun mati itu."
Karena penasaran, kedua pria paruh baya itu memeriksanya. Mereka menggunakan cangkul untuk menyingkirkan dedaunan kering tersebut. Sebuah tangan yang hanya dibalut daging muncul membuat kedua pria itu berteriak kaget.
Sementara itu, Natalia bangun pagi. Ia keluar dan menghirup udara segar di depan rumah. Natalia melihat ibu-ibu yang berjalan melewati rumah Zyara. Mereka tampak serius membicarakan sesuatu.
"Iya, di gang sebelah. Tubuh Bu Isah dikuliti habis dan dua payudaranya hilang dipotong oleh si pembunuh."
"Menakutkan sekali, makanya jangan suka pulang sendirian malam-malam. Apalagi kalau pulangnya lewat gang sepi dan gelap seperti itu."
"Kasihan Bu Isah, anak-anaknya juga masih kecil."
"Siapa yang tega melakukan itu pada Bu Isah? Apakah orang desa kita yang membunuhnya?"
"Memangnya ada orang yang sejahat itu di desa kita?"
"Itu bisa saja terjadi. Siapa pun bisa menjadi pembunuh. Apalagi Bu Isah orang yang suka mencari perkara dengan orang lain. Mungkin saja si pembunuh sakit hati atau tersinggung dengan perilaku Bu Isah."
"Aku rasa itu perbuatan orang luar desa. Meski di desa kita sering terjadi pembunuhan, tapi belum pernah ada pembunuhan yang sesadis ini."
Natalia mengernyit mendengar gosip ibu-ibu itu. Ia bergumam, "Ada pembunuhan? Serius?"
"Memangnya pembunuhan harus selalu terjadi di kota?"
Natalia terlonjak kaget mendengar suara seseorang dari sampingnya. Ia menoleh, ternyata Rina.
KAMU SEDANG MEMBACA
MISANTHROPE
TerrorSINOPSIS Bermula dari seorang editor naskah novel yang mencari seorang penulis novel yang akhir-akhir ini sulit sekali dihubungi. Seolah-olah ditelan bumi, penulis novel misterius itu tidak ada kabar sama sekali setelah beberapa minggu terakhir. Pem...
