🥀 Flashback On 🥀
Elis tersungkur di sudut ruangan dengan kepala berlumuran darah membasahi wajahnya. Ia menatap Rina yang berdiri di depannya.
"Kau melakukan ini pada Ibu?" tanya Elis dengan suara bergetar.
Rina menatap dingin pada ibunya. Ia melemparkan batu yang berlumuran darah di tangannya ke sembarangan arah.
"Ibu?" gumam Rina. "Apakah dirimu pantas disebut ibu?"
Elis tidak menjawab.
"Bukankah kau ingin menyingkirkanku? Kau ingin aku mati bahkan saat aku masih berada dalam perutmu?" tanya Rina.
Elis masih diam.
"Yang kau inginkan hanya Resa. Kau hanya menyayanginya. Resa adalah putri bagimu, sementara aku seperti ayam bagimu," kata Rina sambil berjongkok di depan Elis.
"Katakan sesuatu sebelum kau mati," ucap Rina.
"Ya, kau bukan anak yang aku inginkan," kata Elis.
Rina menatap Elis.
"Seharusnya kau mati saat ada dalam kandunganku! Aku menyesal telah melahirkanmu! Aku membencimu!"
Rina tertawa sambil mencekik leher Elis. "Aku juga tidak menginginkanmu. Aku tidak ingin lahir dan menjadi anakmu. Kau bukan ibu yang aku inginkan."
Elis terbatuk-batuk. "Inilah alasan kenapa aku tidak menginginkanmu."
"Satu-satunya alasanku melakukan ini adalah kau ibuku!" Rina mengeratkan cengkeramannya pada leher Elis. Ia meraih gunting di benang yang menggantung di tasnya lalu ia menusukkannya ke dada Elis.
Rina mengeluarkan organ hati dan jantung Elis. Tampaknya Elis masih sekarat meski jantungnya sudah diambil. Rina mengambil salah satu kain lalu membelit leher Elis dan mencekiknya dengan kuat. Rina meraih batu yang tadi ia lempar lalu dihantamkannya kembali ke kepala dan wajah Elis dengan penuh kemarahan.
🥀 Flashback Off 🥀
Di kantor polisi.
Zaki tampak berbicara dengan dua orang polisi senior. Sementara Zyara duduk di kursi tunggu. Ia masih terlihat cemas.
Setelah selesai bicara dengan dua polisi senior itu, Zaki menghampiri Zyara. "Ayo, aku akan mengantarmu ke kamar tidur."
"Di sini?" tanya Zyara.
Zaki mengangguk. "Ada beberapa kamar di sini untuk polisi yang rumahnya jauh dan kebagian tugas pagi."
"Jadi, aku akan tidur di kamar milik polisi?" tanya Zyara lagi.
"Kadang ada saksi atau orang yang tersesat yang menginap di kamar ini. Tidak perlu merasa canggung," ucap Zaki.
Mereka sampai di kamar yang dimaksud.
"Kalau membutuhkan sesuatu, kau bisa menghubungiku," ucap Zaki.
Zyara mengangguk. "Terima kasih."
Zaki pun pergi. Zyara menghela napas berat. Ia melihat ada beberapa ranjang bertingkat di kamar tersebut seperti sebuah kamar asrama. Zyara duduk di salah satu ranjang.
Pandangannya tertuju ke meja. Ada foto Zaki yang memakai seragam bersama dua orang yang kemungkinan adalah orang tuanya. Zyara tersenyum melihat senyuman keluarga kecil itu.
"Yang ini pasti tempat tidur Pak Zaki," gumam Zyara.
Malam telah tiba.
Zaki tampak sibuk di mejanya. Ia menatap ke layar komputer dengan serius.
KAMU SEDANG MEMBACA
MISANTHROPE
TerrorSINOPSIS Bermula dari seorang editor naskah novel yang mencari seorang penulis novel yang akhir-akhir ini sulit sekali dihubungi. Seolah-olah ditelan bumi, penulis novel misterius itu tidak ada kabar sama sekali setelah beberapa minggu terakhir. Pem...
