Part 53

128 9 0
                                        

"Aku hanya mengikuti alur yang kau tulis. Seharusnya kau merasa senang, karena kakakmu ini adalah penggemar novelmu," kata Rina.

Zyara terdiam untuk sesaat. Ia merasa familiar dengan kata-kata seperti itu.

🥀 Flashback On 🥀

Di saung bambu dekat pohon besar, Zyara duduk sambil mengotak-atik ponselnya.

Saat serius menulis novel, Zyara mendengar suara misterius, "Aku tahu, dalam hatimu kau ingin membalas mereka. Kenapa hanya diam? Kau tidak punya keberanian? Ada aku di sini. Aku bisa membantumu dengan memberikan sedikit keberanian dan menghabisi mereka."

"Mari kita lakukan seperti alur di novelmu. Mereka pantas mati."

Melalui genangan air di bawah kakinya, Zyara melihat sosok bayangan wanita bermata merah yang tersenyum mengerikan.

🥀 Flashback Off 🥀

Zyara menatap Rina. "Semenjak Kakak mendatangi saung bambu dekat pohon besar itu, Kakak menjadi aneh."

"Ya, sekarang pohon itu tumbang gara-gara kedua temanmu yang ceroboh itu. Bahkan dahan pohonnya menimpa saung bambu itu hingga roboh. Aku tidak bisa lagi datang ke sana untuk menenangkan hati dan pikiran seperti dulu saat Ibu memarahiku," sahut Rina.

Zyara mengepalkan tangannya. "Kakak bahkan tidak menangis saat mengetahui kalau Ibu ditemukan tewas. Jenazah Ibu ditemukan di rumah yang tersembunyi di bawah akar pohon itu. Apakah ini semua kebetulan?"

Zyara meletakkan sisirnya ke meja rias. Ia menatap pantulan wajah Zyara lewat cermin.

"Apakah... Kakak yang tega membunuh Ibu dan menyimpan mayatnya di sana?" tanya Zyara dengan suara bergetar.

Rina tersenyum lebar lalu ia menoleh pada Zyara. Kedua mata Zyara terbelalak melihat bayangan Rina di cermin yang tidak sinkron dengan gerakan yang dilakukan Rina. Alhasil Rina asli dan Rina bayangan di cermin yang tidak bergerak sama sekali sama-sama menatap pada Zyara.

Tangan Zyara gemetar. Ia ingin sekali berlari dan berteriak di situasi yang menegangkan itu, tetapi seolah-olah tubuhnya membeku dan suaranya tercekat di tenggorokan. Ia tidak bisa melakukan apa pun.

Tiba-tiba lampu menyala. Ruangan kamar menjadi terang. Rina dan bayangannya juga tampak normal, di mana Rina tengah menatap Zyara dengan ekspresi dingin. Bayangannya di cermin juga tampak sinkron.

"Sepertinya polisi-polisi brengsek itu memanipulasimu. Mereka ingin mengadu domba kita agar saling menyalahkan satu sama lain. Aku tahu polisi yang menginterogasimu memberikan surat persetujuan untuk otopsi," kata Rina sambil kembali menatap ke cermin.

Zyara tidak berani mengeluarkan suara. Ia mendengarkan perkataan Rina tanpa menanggapi bahkan menatapnya sedikit pun.

Rina melanjutkan, "Bukankah seharusnya mereka memintaku untuk menandatanganinya? Secara aku ini adalah anak tertua yang memiliki lebih besar tanggung jawab dan sebagian besar keputusan memang ada di tanganku. Kenapa mereka malah memintamu menandatangani surat tersebut? Karena mereka ingin menyudutkanku. Saat polisi tidak menemukan jalan keluar, mereka dengan mudah akan menangkap siapa saja yang memiliki kemungkinan membunuh, meski pun nyatanya tidak bersalah."

Zyara mencerna ucapan Rina yang ada benarnya. Ia juga baru menyadari, kenapa para polisi itu memintanya menandatangani surat persetujuan otopsi alih-alih meminta Rina yang melakukannya?

"Kau bertanya, kenapa aku tidak menangis saat melihat jenazah Ibu? Karena aku sudah kehilangan rasa sayangku padanya. Melihatnya meninggal seperti itu tidak membuatku sedih, tapi juga tidak membuatku merasa senang. Aku hanya merasa seperti sedang melihat orang asing," ucap Rina.

MISANTHROPETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang