Part 65

126 13 0
                                        

"Tanggal 11 malam? Saat mati lampu selama tiga jam itu?" gumam Natalia setengah bertanya. Ia teringat dengan hantu baru yang muncul dan mengikuti Rina seperti hantu lainnya.

Kedua mata Markus melebar. "Benar, apakah Rina pulang ke rumah malam itu?"

Natalia mengangguk. "Iya, malam itu dia pulang, ya walau dia pulang agak malam dari biasanya."

"Apa dia tampak mencurigakan?" tanya Markus sambil mengeluarkan buku catatannya dan bersiap untuk menuliskan keterangan dari Natalia.

"Dia tampak biasa saja, ekspresinya selalu datar dan misterius," jawab Natalia.

Markus tidak jadi menulis di buku catatannya. Ia menatap Natalia. "Tidak ada perbedaan sama sekali?"

Natalia mengangguk. "Iya, dia memang selalu seperti itu. Lagipula aku dan Kak Irgina tidak terlalu dekat dengannya. Dia tipe orang yang tidak ramah. Kami hanya memiliki urusan dengan adiknya, jadi kami jarang berkomunikasi satu sama lain."

"Karena kau pernah menginap di rumahnya, apa kau tahu makanan apa saja yang dia makan atau kebiasaan yang dia lakukan?" tanya Markus.

"Aku dan Kak Irgina memasak untuk Rina dan Zyara, karena kami merasa tidak enak menumpang terlalu lama di rumahnya. Dia sangat menyukai tumis kangkung, orek tempe, dan ikan asin. Dia tidak menyukai makanan pedas. Dia akan protes saat masakan yang kami buat terlalu pedas atau terlalu banyak potongan cabenya. Mengenai kebiasaannya, aku tidak tahu pasti apa yang dia lakukan, karena saat di rumah, dia hanya akan berdiam diri di kamarnya," jelas Natalia.

Markus menuliskan penjelasan Natalia ke dalam buku catatannya. "Ada lagi?"

Natalia tampak ragu. "Pak Polisi bilang, Rina menjadi buronan, kan? Jadi, itu artinya dia tidak ada di rumahnya, kan?"

Markus mengangguk. "Iya, menurut kesaksian adiknya, dia menghilang sejak semalam."

"Bisakah Pak polisi memeriksa bak sampah di belakang rumah Rina?" tanya Natalia.

Markus mengernyit. "Bak sampah? Tapi, dia tidak punya bak sampah."

"Bak sampah yang aku maksud adalah sebuah kolam ikan bekas yang dijadikan tempat pembuangan sampah," jelas Natalia.

Markus tampak berpikir. "Apa ada yang mencurigakan di sana? Kau melihat sesuatu?"

"Entahlah, aku merasa ada sesuatu di dalam sana. Aku mencium bau busuk yang menyengat setiap melewati bak sampah itu," jawab Natalia.

"Baiklah, terima kasih atas penjelasan dan juga waktunya."

Percakapan di antara mereka pun berakhir.

Yuda mengantarkan Natalia ke RSJ tempat ibunya Natalia dirawat. Dalam perjalanan, mereka terlibat percakapan.

"Dia polisi? Apa terjadi sesuatu?" tanya Yuda.

"Kakaknya penulis yang kita datangi itu sekarang menjadi buronan setelah membunuh dua korbannya," jawab Natalia.

"Polisi tadi meminta keterangan darimu?" tanya Yuda lagi.

Natalia mengangguk. "Iya."

Sampailah mereka di RSJ. Yuda dan Natalia masuk ke dalam. Beberapa dokter dan perawat menyapa.

"Aku tunggu di sini, ya," kata Yuda.

Natalia mengangguk.

Setelah berbicara dengan suster dan dokter yang merawat Serena, Natalia pun dipersilahkan menemui ibunya.

Kini Natalia dan Serena duduk berhadapan. Serena tidak bisa membendung air matanya.

"Natalia," ucap Serena dengan suara bergetar.

MISANTHROPETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang