Part 25

148 10 0
                                        

Di sekolah, Zyara memegangi perutnya. Tampaknya ia merasa sakit di bagian perutnya itu. Zyara membuka tasnya lalu mencari sesuatu. Gadis itu mengernyit melihat plastik kemasan pembalut di dalam tasnya.

"Ke mana perginya pembalutku? Kenapa hanya tinggal kemasannya?" gumam Zyara. Pandangan Zyara tertuju ke jendela di mana ada pembalut yang ditempel ke kaca jendela.

"Orang gila sialan mana yang menempel pembalut di sana?" gumam Zyara. Ia keluar dari kelas lalu mencabut pembalut tersebut dari kaca. Gadis itu merasakan seseorang menyentuh bokongnya. Ia menoleh, ternyata seorang siswa yang memegang bokongnya.

"Apa yang kau lakukan?!" gerutu Zyara sambil menjauh.

Dua siswa lainnya tertawa di belakang siswa yang baru saja menyentuh bokongnya itu.

"Ayolah, Resa, jangan munafik begitu. Aku tahu kau suka diperlakukan seperti ini, kan?"

Zyara mengepalkan tangannya geram.

"Untuk apa menghalanginya dengan pembalut. Lebih baik punyaku saja yang menyumpalnya, bagaimana?"

"Kau...." Zyara ingin sekali merobek mulut laki-laki di depannya itu.

"Kau bahkan menggambarkan persetubuhan dengan sangat indah di novelmu. Kenapa kau hanya menulisnya saja? Kenapa tidak melakukannya? Aku ada di kelas sebelah kalau kau sedang gatal," kata laki-laki itu.

"Jangan sembarangan! Aku menulis novel dewasa bukan berarti aku pernah melakukannya!" bentak Zyara.

"Jadi, kau belum melakukannya? Mana mungkin, kau pasti belajar dari ibumu, kan? Gaya apa yang kau suka? Dari belakang? Dari depan? Dari bawah? Atau samping?" Laki-laki itu mendekati Zyara.

Zyara terpojok ke dinding. Laki-laki itu mendekatkan wajahnya. Tanpa pikir panjang, Zyara menampar wajah siswa itu dengan pembalut di tangannya hingga laki-laki itu tersungkur dan pingsan dengan pembalut masih menempel di wajahnya.

Dua temannya yang sedari tadi berdiri di belakangnya mengguncangkan tubuh laki-laki itu.

Zyara mendengus kesal lalu berlari kabur.

Di rumah, Zyara sendirian. Ia berpikir untuk mengubah haluan genre novelnya. Gadis itu mulai menulis cerita horror seperti saran dari Widya. Sebuah ide terlintas di benaknya. Ia membayangkan teman-teman sekelasnya yang sudah berbuat jahat padanya dijadikan bahan cerita dalam novelnya. Mereka mati satu per satu dalam penderitaan.

Tampaknya Zyara senang saat menulis semua itu. Semua emosinya dicurahkan ke dalam tulisannya tersebut.

~Ingin tahu cara kematian apa yang paling menyakitkan? Tenggelam, dikuliti, dan dibakar hidup-hidup. Begitulah caranya aku mati. Sungguh mengerikan, tapi saatnya aku membalas mereka…~

Saat Zyara mengajukan naskah horror thriller itu ke penerbit yang biasa menerbitkan karyanya, ternyata penerbit itu menolaknya, karena mereka hanya menerima dan menerbitkan novel dewasa.

Tidak putus asa, Zyara mencari penerbit lain yang bisa menerima naskah horror miliknya. Ada salah satu penerbit yang memberikan royalty besar untuk novel genre apa pun. Dan pilihannya jatuh pada penerbit tersebut, yaitu LD Publisher.

Di sanalah Zyara mengenal Irgina sebagai editornya. Novel horror-nya sangat laku di pasaran. Dengan begitu, Zyara pindah arah. Ia mulai sering menerbitkan novelnya di LD Publisher.

Suatu hari....

Zyara mencari Rina. Ia ingin menunjukkan karya barunya, tapi tampaknya Rina tidak ada di rumah. Ia mencari ke luar rumah dan melihat kakaknya duduk termenung di bawah pohon depan rumahnya.

"Kakak!" Zyara menghampiri Rina lalu menunjukkan novel horror-nya. "Kakak lihat, aku menulis novel horror."

Rina menoleh. Zyara terkejut melihat mata Rina yang merah. "Kakak baik-baik saja?"

Saat berkedip, warna mata Rina kembali normal. Ia berlalu meninggalakan Zyara tanpa mengatakan apa pun.

Karena Rina tidak memberikan tanggapan mengenai novelnya, Zyara pun pergi ke rumah Widya dan menunjukkan novelnya.

"Wah, ini keren sekali. Meski sadis dan penuh darah, tapi aku menyukainya," kata Widya.

"Jangan berbohong, aku tahu buku favoritmu adalah buku romance dewasa," gerutu Zyara.

Widya tertawa begitu pun dengan Zyara.

"Tapi, kau bisa membuat cerita hantu dan pembunuh dalam satu buku. Itu hebat, kau sangat hebat, aku bangga padamu," kata Widya.

Zyara tersenyum. "Terima kasih, kau satu-satunya orang yang memujiku dengan tulus."

Widya menepuk pelan lengan Zyara. "Apa yang kau katakan? Ibumu juga bangga padamu pastinya. Bukankah dia selalu bilang begitu?"

Zyara tersenyum kecut. "Ibuku hanya membuatku dan kakakku hidup dalam sebuah kompetisi dan persaingan yang tidak sehat. Aku tidak tahu, kenapa ibuku mendidik kami seperti itu. Aku tidak suka dengan kondisi seperti ini yang membuat hubungan persaudaraan kami menjadi buruk."

Widya mengusap punggung Zyara. "Setidaknya kau tahu kalau ibumu lebih menyayangimu dibandingkan dengan kakakmu. Dengan begitu, kau hanya perlu bersikap baik pada ibu dan kakakmu. Maka semuanya akan baik-baik saja."

Zyara mengangguk.

🥀🥀🥀

Pulang sekolah, Zyara memasuki rumahnya. "Aku pulaaang!"

Ia melihat ke sekeliling. Rumah terasa sepi. "Ke mana orang-orang rumah? Padahal Ibu tidak pergi bekerja, Kakak juga tidak pergi ke sekolah, karena tidak enak badan."

"Bu? Kak?" panggil Zyara.

Tidak ada jawaban. Zyara mendengar suara benda jatuh di kamar Rina. Ia mengetuk pintu kamar kakaknya, tapi tidak ada jawaban. Ia pun membuka pintu kamar tersebut. Tidak ada siapa-siapa di dalam.

Zyara melihat asap hitam mengepul dari dapur. Ia mencium aroma terbakar yang kuat. Karena khawatir, Zyara segera pergi ke dapur dan melihat apa yang terjadi.

Ternyata asap hitam itu berasal dari halaman belakang, bukan dari dapur. Pintu menuju halaman belakang yang sedikit terbuka membuat asap hitam itu masuk.

Zyara membuka pintu sambil terbatuk-batuk. Ia melihat Rina berdiri membelakangi Zyara. Tampaknya gadis itu tengah membakar sesuatu.

"Kak? Kakak sedang apa?" tanya Zyara.

Rina tidak menjawab, bahkan tidak menoleh sedikit pun.

Ksrssskk!

Pandangan Zyara teralihkan pada objek yang terbakar di depan Rina. Kedua mata Zyara terbelalak lebar melihat yang dibakar itu ternyata adalah sosok manusia. Tampaknya ia masih hidup dan sedang sekarat. Ia merangkak memohon pertolongan. Mulutnya disumpal kain yang juga terbakar.

Zyara mendengar suara tawa Rina yang mengerikan. Ia menelan saliva lalu segera masuk ke dalam dan kembali dengan seember air. Zyara terbelalak melihat Rina tertawa-tawa sambil menginjak-injak manusia yang sekarat dan terbakar itu.

"Tidak," gumam Zyara. Ia menyiramkan semua air dalam ember di tangannya ke manusia yang terbakar itu. Sebagian membasahi tubuh Rina.

Zyara terbelalak saat melihat sosok yang terbakar itu yang kini sudah tewas. Ia mendongkak menatap Rina yang menatap tajam padanya. Warna matanya merah dan ekspresinya dipenuhi dengan kebencian.

"K-kenapa Kakak tega melakukan ini?!" teriak Zyara dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.

Tiba-tiba Rina sudah berada di depannya. Ia tersenyum lebar. "Kau terkejut, karena aku benar-benar ada?"

"Aaaarrgghhh!" Zyara terlonjak bangun. Ia melihat ke sekeliling. Keringat dingin di dahinya menetes ke matanya membuat Zyara meringis sambil mengusap mata dan dahinya.

Saat membuka matanya, ia terkejut mendapati wajah Rina yang sangat dekat dengan wajahnya.

🥀🥀🥀

14.03 | 1 Desember 2020
By Ucu Irna Marhamah

MISANTHROPETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang