Part 45

131 10 0
                                        

Rina mengetuk pintu kamar Zyara. "Buka pintunya, Resa."

Tak lama kemudian, Zyara membuka pintu. Ia menunduk tidak berani menatap kakaknya.

"Kau tahu ke mana kedua editor itu pergi?" tanya Rina.

Zyara mengedikkan bahunya.

"Apa mereka sudah kembali ke kota?" tanya Rina.

"Barang-barang mereka masih ada di sini," jawah Zyara pelan.

Rina tampak berpikir. "Ya sudah, karena mereka tidak ada, kau yang harus memasak untukku."

🥀🥀🥀

Saat berusaha bangkit, Irgina merasakan ada tangan yang mencengkeram lehernya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Kedua kakinya sudah tidak menyentuh tanah lagi.

Tangan yang mencekiknya dengan kuat itu memiliki kuku yang tajam dan runcing. Irgina merasakan kuku-kuku itu menancap ke lehernya.

Irgina menutup matanya. Dalam hati, ia mulai berdo'a. Ia membaca ayat kursi.

Sosok yang mencekik leher Irgina melemparkan tubuh Irgina. Ia berteriak sambil memegangi kepalanya. Mata, lidah, dan telinganya berjatuhan ke lantai.

Ada bagusnya Irgina tidak bisa melihat itu. Seandainya ia tahu apa yang terjadi, ia pasti sudah pingsan karena ketakutan.

Sementara di ruangan lain, Natalia meringis dan merasa sesak saat sosok ular raksasa dan berkepala manusia sebesar mobil itu melilit tubuhnya. Natalia mencakar badan ular itu, tapi hal tersebut tidak berpengaruh sama sekali.

Natalia menautkan jemarinya dan mulai berdo'a.

Sosok ular berkepala manusia itu berteriak kepanasan. Ia melepaskan lilitannya pada tubuh Natalia yang masih khusyuk berdo'a.

Namun, ular raksasa itu menggerakkan ekornya membuat kain-kain putih di ruangan itu berkibar-kibar. Hal tersebut tidak membuat Natalia terganggu dalam berdo'a. Gadis itu mengambil dua lembar kain dan membuat tanda salib di dinding. Natalia melihat ular itu menggeliat dan tubuhnya tiba-tiba hancur. Organ dalamnya berceceran di lantai. Namun, beberapa saat kemudian organ-organ itu mulai menghilang.

Natalia terduduk lemas sambil membuang napas panjang.

"Kak Irgina?" Natalia teringat pada Irgina. Ia segera bangkit dan membuka pintu, tapi masih terkunci.

Dengan jantan, Natalia menendang pintu hingga roboh. Ia melihat makhluk-makhluk mengerikan yang ada di sekitar Irgina. Mereka berteriak saat satu per satu tubuhnya tercerai berai.

Natalia melihat Irgina yang menengadahkan tangannya sembari berdo'a dalam hati.

Hening.

Organ yang berceceran di lantai itu mulai menghilang. Natalia berlari menghampiri Irgina yang terkulai lemah.

"Kak Irgina!" Natalia membantu Irgina berdiri. Padahal dirinya juga kesakitan.

Irgina menunjuk ke pintu. "Sepertinya itu pintu keluarnya."

Natalia melihat ke arah yang ditunjuk oleh Irgina. Ia melihat pintu dan jendela di sana yang tertutup tanah dari luar. Ia pun menghampiri pintu itu lalu membukanya. Memang tidak terkunci, tapi tanah atau mungkin batu di luar membuat pintu tersebut tidak bisa dibuka.

Dengan sekuat tenaga, Natalia menendang pintu itu hingga rusak, tapi belum bisa membukakan jalan.

"Minggir!" teriak Irgina.

Natalia menoleh melihat Irgina yang berlari ke arahnya sambil mengangkat kursi. Natalia segera menyingkir dari pintu.

Irgina melemparkan kursi tersebut ke pintu. Rusaknya semakin parah. Natalia dan Irgina pun menggunakan barang-barang di sekitar mereka untuk menghancurkan pintu dan lapisan yang menghalanginya.

Tengah malam itu, terdengar suara hataman dari kaki bukit. Warga-warga yang tinggal di sekitar sana tampak ketakutan. Begitu pun para petani yang menginap di gubuk dekat persawahan.

"Suara apa itu?"

"Sepertinya suara itu berasal dari kaki bukit."

"Benarkah? Bukankah di sana ada pohon tumbal yang angker?"

"Benar, apa mungkin penunggu pohon tersebut sedang marah?"

Bruaakksss!

Akhirnya Irgina dan Natalia berhasil keluar dari dalam sana. Mereka berjalan bersebelahan sambil sempoyongan dan tertatih. Rambut acak-acakan dan pakaian yang compang-camping membuat mereka terlihat seperti gelandangan.

Irgina mendengus kesal. Apa yang terjadi padanya barusan membuatnya syok dan trauma. Seumur hidup, baru kali ini Irgina mendapatkan gangguan dari makhluk tak kasat mata.

Begitu pun dengan Natalia. Meski ia sudah terbiasa melihat hantu dan semacamnya, tapi sosok ular raksasa berkepala manusia itu adalah makhluk yang paling menyeramkan yang pernah ia lihat. Padahal sebelumnya ia juga pernah melihat sosok ular berkepala manusia, tapi yang sebesar itu baru pertama kali ia melihatnya dan berhadapan langsung dengannya.

Natalia melihat ponselnya. "Sinyalnya lumayan. Aku akan menelepon polisi."

Irgina menatap punggung Natalia yang pergi menaiki dataran yang lebih tinggi. Ia pun memiliki duduk di saung bambu sambil menyeka air matanya yang terus mengalir karena masih terguncang.

"Bagaimana mungkin aku melupakan ayat kursi di saat-saat genting seperti itu? Aku sudah hapal dengan benar, tapi situasi tadi membuatku panik setengah mati. Bagaimana bisa aku mencampurkan ayat kursi dengan do'a iftitah?" Irgina mengusap kepalanya yang terasa sakit karena terbentur tadi.

Jam menunjukkan pukul 1 dini hari.

Polisi sudah berada di lokasi kejadian, setelah Natalia menelepon dan melaporkan bahwa mereka menemukan mayat di lokasi.

Sementara Irgina dan Natalia segera dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan pertolongan.

Selain memeriksa rumah yang berada di bawah akar pohon, para polisi juga memeriksa pohon raksasa yang tumbang tersebut. Ada banyak sekali mayat anak kucing yang sengaja di simpan di dahan dan di lubang-lubang pohon tersebut. Berikut kertas-kertas yang diikat oleh rotan yang juga tersangkut di dahan pohon.

Pita kuning dipasang di sekitar lokasi, menandakan kalau wilayah tersebut sudah menjadi TKP dan tidak sembarangan orang bisa masuk menerobos pita kuning tersebut.

Zyara berlari menuruni terasering bukit menuju ke lokasi kejadian. Ia melihat para polisi yang melakukan pekerjaannya.

Dengan air mata berlinang, Zyara berlari dan menerobos garis polisi yang sudah terbentang di area tersebut.

Namun, para polisi segera menahannya agar tidak melangkah lebih jauh lagi.

"Aku harus melihat ibuku!" tangis Zyara. Ia melihat para polisi itu memasukkan jenazah ke dalam kantong mayat. Sesaat Zyara melihat tangan mayat tersebut. Ada gelang yang menggantung di pergelangan tangannya.

🥀 Flashback On 🥀

"Selamat ulang tahun, Ibu." Zyara memasangkan gelang ke pergelangan tangan ibunya.

Elis menatap putrinya. "Apakah kau sengaja membelinya untuk Ibu? Tapi, ini sangat mahal, Zyara. Ibu tidak enak memakainya."

Zyara tersenyum kecil. "Tidak apa-apa, Bu. Hanya ini yang bisa aku berikan pada Ibu. Aku harap, Ibu tidak keberatan memakainya."

Elis memeluk putrinya. "Terima kasih, Zyara."

🥀 Flashback Off 🥀

"Tenangkan dirimu, Nak! Bisa jadi itu bukan ibumu. Wajahnya sudah tidak bisa dikenali. Kami hanya menemukan KTP-nya saja. Kami harus memastikan identitasnya dengan mengirimnya ke luar desa untuk diotopsi."

"Dia ibuku! Dia ibuku!" jerit Zyara. Tangisannya semakin histeris. "Aku mengenali ibuku! Aku anaknya!"

Rina juga datang ke lokasi kejadian. Ia melihat ke sekeliling. Pandangannya tertuju ke pohon besar yang sudah tumbang itu. Saung bambu yang tadinya berdiri di dekat pohon besar itu juga ambruk tertimpa dahan pohon.

🥀🥀🥀

19.17 | 1 Desember 2020
By Ucu Irna Marhamah

MISANTHROPETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang