Zyara meneguk habis satu botol air mineral. Ia tampak lebih tenang. Irgina mengusap bahu Zyara.
"Apa Kakak sudah membaca naskah novelku yang tadi aku kirim lewat email?" tanya Zyara.
"Sebenarnya aku sedang masa cuti. Natalia yang memeriksa naskahmu. Kalau kau tidak ingin menerbitkannya, aku akan menyuruhnya memeriksa naskah penulis lain," ucap Irgina.
"Sebenarnya novel Pembalasanku dan novel Tetesan Darah itu adalah sequel dari novel Dia Datang. Kalau Kakak belum mengajukan naskahku yang Dia Datang ke percetakan, aku akan mengubah ending dari novel tersebut menjadi akhir yang tidak ada sequel-nya," kata Zyara.
Irgina terdiam untuk sesaat lalu ia bersuara, "Tapi...."
Sementara itu di LD Publisher, buku berjudul Dia Datang sudah dikemas dan siap diedarkan.
Zyara menghela napas berat. "Tidak apa-apa, kalau begitu aku akan membuat Dia Datang 2 sebagai ending. Dengan begitu, novel Pembalasanku dan Tetesan Darah tidak akan pernah terbit."
Irgina tampak berpikir. "Kalau kau tidak berniat menerbitkannya, kenapa kau terburu-buru mengirimkan naskahnya?"
Zyara menjawab, "Seperti yang Kakak tahu, aku hidup sendirian dan membutuhkan uang makan. Tapi, setelah dipikir-pikir, lebih baik aku menyimpan naskah itu dulu."
🥀🥀🥀
Irgina meletakkan kopernya di sudut kamar, sementara Natalia sudah mulai bekerja. Ia fokus dengan laptopnya.
"Mas Yuda akan menginap di rumah Pak RT. Mas Yuda bilang, kalau kita butuh sesuatu, telepon dia saja," kata Natalia.
Irgina mengangguk. Pandangannya tertuju ke meja di kamar yang mereka tempati. Ada piala dan medali emas. Irgina berjalan menuju meja tersebut dan melihatnya. Ternyata piala penghargaan cipta puisi tingkat nasional. Ada banyak penghargaan lain. Semuanya mengenai kejuaraan bidang sastra.
"Dia pasti murid yang sangat cerdas," ucap Irgina. Ia melihat raport di meja. Karena penasaran, ia membukanya.
"Resa Wulandari, kelahiran 2003? Dia baru berusia 17 tahun? Hebat sekali dia bisa membagi waktu belajar dan menulis," gumam Irgina. "Tapi, kenapa dia memalsukan tanggal lahirnya di biodata penulis?"
"Ada banyak naskah yang datang. Pekerjaanku masih banyak. Naskah punya Zyara nanti saja. Aku takut kalau harus merevisinya malam-malam," ucap Natalia.
Irgina berbalik menatap Natalia. "Oh, aku lupa memberitahumu. Zyara membatalkan naskahnya."
"Oh? Tiba-tiba?" tanya Natalia.
Irgina mengangguk. "Dia bilang, dia akan membuat novel lain untuk sequel Dia Datang."
Natalia tampak berpikir. "Aku merasa ada yang aneh dengan novel karya Zyara."
"Aneh kenapa?" tanya Irgina.
"Kejadian di penginapan siang tadi..." Natalia berhenti sejenak lalu ia melanjutkan, "plafon itu tiba-tiba bolong karena gedoran dari dalam atap. Semua itu terjadi saat aku membaca novel Zyara. Apa mungkin ada hubungannya?"
Irgina tidak memberikan respon. Ia teringat dengan kejadian di LD Publisher saat lembur dan membaca bagian Prolog dari novel Dia Datang. Suara cakaran dan hal-hal aneh terjadi, puncaknya adalah lampu-lampu di lantai dua meledak satu per satu.
"Aku rasa... kau benar," ucap Irgina. "Kau ingat kejadian waktu kita lembur?"
Natalia tampak berpikir. "Iya, waktu itu lampu di lantai dua semuanya meledak."
"Iya, saat itu aku juga sedang membaca novel Zyara yang berjudul Dia Datang," kata Irgina.
Natalia mencerna ucapan Irgina. "Apa Kakak juga merasa ada yang janggal?"
"Sebenarnya aku merasa janggal sejak awal. Aku pernah bercerita padamu waktu pertama kali kita datang ke rumah ini, aku mendengar suara bisikan perempuan, heiii~. Lalu tadi siang sewaktu kita tiba di sini, aku mendengarnya lagi," ucap Irgina.
Natalia menghela napas berat. "Malam ini aku akan mengurus naskah romance dan comedy saja. Besok siang, baru aku akan mengurus naskah horror dan thriller. Aku bersyukur Zyara tidak jadi menerbitkan dua novelnya yang baru itu."
Irgina melelapkan tubuhnya ke ranjang. Ia menarik selimut, karena suhu kamar terasa semakin dingin.
"Kakak tidak salat?" tanya Natalia.
"Aku sedang ada tamu bulanan," jawab Irgina.
"Pantas saja tadi marah-marah," gumam Natalia.
"Kau bilang sesuatu?" tanya Irgina.
Natalia menoleh pada Irgina. "Tidak, kok. Kak Irgina jangan tidur duluan, aku takut sendirian, tunggu aku selesai mengerjakan semuanya sampai jam 9."
"Aku tidak tidur, kok," sanggah Irgina.
Natalia yang takut ditinggal tidur pun mengajak Irgina berbincang, "Mas Yuda sempat berbicara mengenai Zyara dengan pak RT. Orang-orang desa menganggapnya memiliki gangguan jiwa, bahkan para polisi juga berpikir begitu. Mereka bilang, Zyara suka berhalusinasi. Itulah sebabnya polisi tidak menanggapi, meski Mas Yuda sudah menghubungi mereka."
"Aku rasa mereka keterlaluan, seharusnya mereka menunjukkan usaha untuk membantu Zyara, termasuk mencari ibunya yang hilang," kata Irgina.
Sambil bekerja, tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop, Natalia bertanya, "Apa lebih baik kita melapor pada polisi di kota saja? Aku rasa tanggapan polisi di kota lebih cepat. Mereka pasti akan menemukan ibunya Zyara, sama halnya dengan ibuku dulu, mereka menemukan ibuku di tengah hutan."
Tiba-tiba Irgina tertawa cekikikan membuat Natalia terkejut dan sontak menoleh ke arah Irgina, ternyata gadis itu sudah tidur. Lalu dari tadi ia bicara dengan siapa?
Natalia segera menutup laptopnya lalu ia tidur di samping Irgina dan menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut. Suara cekikikan itu masih terdengar jelas.
Keesokan harinya, Irgina bangun lebih awal. Ia melihat Natalia yang terbungkus selimut. Irgina menarik selimutnya agar tidak menutupi kepala Natalia.
"Bagaimana bisa dia tidur dengan keadaan sekujur tubuh ditutup selimut? Dia bisa kesulitan bernapas dan kehabisan oksigen," ucap Irgina.
Melihat keadaan rumah Zyara yang berantakan, Irgina pun membereskan rumah. Setelah itu, ia pergi ke dapur dan memasak.
Zyara tersentak bangun saat ia mendengar suara aktivitas dari dapur. Ia tampak ketakutan. Namun, beberapa saat kemudian, ia kembali tenang. Zyara keluar dari kamarnya. Ia melihat ruang tamu dan ruang keluarga yang sudah bersih dan rapi.
Pandangan Zyara tertuju ke dapur. Gadis itu melangkahkan kakinya. Ia melihat Irgina sedang memasak.
Merasakan kehadiran seseorang di belakangnya, Irgina menghentikan aktivitasnya lalu menoleh melihat Zyara yang sedang memperhatikannya.
Irgina kembali fokus ke wajan. "Oh, kau sudah bangun? Aku memasak sarapan untukmu. Kau harus pergi ke sekolah, kan?"
Zyara tidak merespon. Ia tampak berpikir.
Irgina terdiam untuk sesaat kemudian ia kembali menoleh pada Zyara. "Jangan salah paham, aku tidak memata-mataimu... aku...."
"Aku tidak akan pergi ke sekolah," potong Zyara.
"Oh, baiklah. Kalau begitu, kita sarapan bersama, ya." Irgina menyajikan mie instan, telur gulung, capcay, dan tumis pakis ke meja.
"Tolong cek nasinya. Sekarang pasti sudah matang," kata Irgina. Ia pun berlalu. "Aku akan membangunkan Natalia."
Zyara melihat makanan di meja lalu ia melihat bahan makanan miliknya pemberian dari LD Publisher yang masih utuh.
"Dia membawa bahan makanan sendiri dan memasaknya?"
🥀🥀🥀
07.00 | 1 Desember 2020
By Ucu Irna Marhamah
KAMU SEDANG MEMBACA
MISANTHROPE
TerrorSINOPSIS Bermula dari seorang editor naskah novel yang mencari seorang penulis novel yang akhir-akhir ini sulit sekali dihubungi. Seolah-olah ditelan bumi, penulis novel misterius itu tidak ada kabar sama sekali setelah beberapa minggu terakhir. Pem...
