Jam menunjukkan pukul 10.44.
Irgina menelepon Yuda, tapi tidak diangkat. Ia menoleh pada Natalia yang melamun.
"Natalia, coba kau telepon Mas Yuda. Dia tidak mengangkat telepon dariku," gerutu Irgina.
Natalia menoleh pada Irgina. "Kalau dia tidak mengangkat telepon dari Kakak, dia juga tidak akan mengangkat telepon dariku."
"Mungkin saja dia mengangkat telepon darimu," ujar Irgina.
Natalia pun menurut. Ia mencari kontak Yuda lalu menelepon nomor pria itu. Namun, sama saja. Yuda tidak mengangkat telepon darinya.
Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah Zyara. Irgina menyingkap gorden. Ternyata mobil Yuda yang berhenti di depan.
"Itu Mas Yuda, ayo kita pergi," kata Irgina.
Natalia mengangguk. Mereka pun membawa koper dan tas lalu keluar dari kamar. Di depan kamar, mereka berpapasan dengan Rina.
Irgina mengangguk santun sambil tersenyum. "Kami berterima kasih karena Zyara telah mengizinkan kami bermalam di sini. Maaf kami banyak merepotkan dan membuatmu tidak nyaman."
Rina tersenyum tipis tanpa memberikan jawaban. Irgina merinding melihatnya.
Pandangan Natalia tertuju ke pintu kamar Zyara yang tertutup rapat. Ia pun bertanya, "Ngomong-ngomong, Zyara di mana, ya? Kami harus bertemu dan berpamitan dulu dengannya sebelum pergi."
"Dia masih tidur, aku akan menyampaikan salam kalian padanya saat dia bangun," jawab Rina lalu ia membuka pintu. "Silakan."
Irgina dan Natalia pun keluar. Mereka memasuki mobil Yuda.
"Mas Yuda, kenapa tidak mengangkat telepon?" tanya Irgina saat sudah berada di dalam mobil.
Yuda terlihat cemas. "Ponselku hilang entah ke mana."
Irgina dan Natalia saling pandang. Mobil pun melaju meninggalkan rumah Zyara.
Samar-samar Irgina mendengar suara bisikan misterius. "Heeiii~"
Irgina melihat Rina berdiri di depan rumah menatap mobil yang ditumpanginya melaju pergi dengan tatapan tajam.
Selama dalam perjalanan, Natalia tampak melamun.
🥀 Flashback On 🥀
Sosok-sosok mengerikan itu berada di sekeliling Rina. Salah satu dari sosok itu menyadari kalau Irgina dan Natalia tengah mengintip dari kamar. Natalia mengalihkan pandangannya ke arah lain pura-pura tidak melihat.
Natalia mengernyit melihat asap hitam di kamar Zyara yang sebenarnya adalah kamar Rina (dulu dipakai Rina sebelum menghilang).
Asap hitam itu tidak lagi menempel pada Zyara. Tampaknya ia takut pada sosok-sosok di belakang Rina, jadi dia bersembunyi di kamar itu. Tiba-tiba wajah gosong muncul dari asap hitam itu melihat pada Natalia. Natalia tersentak kaget. Ia segera mengalihkan pandangannya.
"Hantu itu wanita," gumam Natalia. Sekilas ia melihat rambut ikal sebahu pada hantu berwajah gosong itu.
🥀 Flashback Off 🥀
Natalia menggelengkan kepalanya lalu ia melihat ke luar jendela. Mobil mereka sudah melewati rumah-rumah penduduk dan banner pemilihan umur.
Irgina melihat ke spion tengah, tepatnya pada Yuda. Pria itu tampak cemas.
"Mas Yuda kenapa?" tanya Irgina.
"Aku merasa ada sesuatu yang tertinggal," kata Yuda.
"Mas Yuda meninggalkan sesuatu? Tapi, bukannya Mas Yuda hanya membawa tas? Aku lihat tas Mas Yuda ada di bagasi tadi," ucap Natalia.
"Aku tidak tahu, tapi aku merasa seperti meninggalkan sesuatu," jawab Yuda.
"Tentu saja Mas Yuda khawatir, karena Mas Yuda kehilangan ponsel," ujar Irgina.
"Bukan itu, aku merasa meninggalkan sesuatu yang lain, sesuatu yang berharga," kata Yuda.
Irgina dan Natalia saling pandang. Natalia bertanya, "Apa kita akan kembali lagi ke Desa Limus? Siapa tahu Mas Yuda memang meninggalkan sesuatu yang berharga di sana."
"Tidak perlu, Om Eldo menyuruhku membawa kalian dan segera pulang," jawab Yuda.
Mobil mereka melewati hutan. Sebentar lagi mereka akan melewati jalanan mulus menuju ke kota.
Samar-samar Irgina mendengar suara bisikan yang sama, "Hei~"
Bahkan kali ini suara misterius itu terdengar berulang-ulang. Irgina menutup kedua telinganya.
Natalia menyentuh bahu Irgina. "Kakak? Kakak kenapa?"
Irgina tersentak lalu menoleh pada Natalia. "Yang kudengar bukan 'Hei', tapi... Hell."
"Apa?" tanya Natalia.
"Suara misterius sewaktu kita datang ke rumah Zyara bukan mengatakan, 'Hei', tapi 'Hell'," jelas Irgina.
Natalia tampak berpikir. "Aku rasa, kita harus kembali ke rumah Zyara. Dia pasti berada dalam bahaya!"
"Mas Yuda, kita harus kembali ke rumah Zyara," kata Natalia.
Yuda tampak berpikir. "Bagaimana kalau Om Eldo marah? Dia tidak hanya akan memarahiku, tapi juga memarahi kalian."
"Tapi, bagaimana dengan Zyara? Wanita yang mengaku sebagai kakaknya itu terlihat tidak ramah, bahkan pada adiknya. Bagaimana jika dia melukai Zyara?" ucap Natalia.
"Iya, wanita itu terlihat mencurigakan dan menakutkan," sahut Irgina.
"Tapi, Pak RT bilang, Zyara memang punya kakak, seorang kakak perempuan bernama Rina yang menghilang beberapa bulan yang lalu. Warga juga sering mendengar Zyara berbicara dengan seseorang di rumahnya, padahal dia sendirian. Itulah sebabnya warga mengira dia memiliki gangguan jiwa," jelas Yuda.
Natalia tampak berpikir. "Aku rasa... Zyara tidak memiliki gangguan jiwa sama sekali. Mungkin saja dia berbicara dengan asap hitam itu, alias si hantu muka gosong. Mungkin itulah alasannya kenapa Zyara tidak mau membuka gorden rumahnya, karena dia menyadari kehadiran hantu muka gosong itu yang menemaninya selama ini. Dia akan menjadi sensitif dan marah saat aku membuka gorden dan membiarkan cahaya masuk ke rumahnya, karena pada dasarnya hantu memang tidak menyukai ruangan terang."
Irgina dan Yuda mencerna ucapan Natalia.
Natalia melanjutkan, "Zyara sengaja membiarkan hantu muka gosong itu berada di sekitarnya. Sebenarnya aku juga tidak merasakan aura jahat dari hantu muka gosong itu. Dia juga tidak pernah menganggu kita, dia hanya menempel pada Zyara. Itu pun tidak membuat Zyara terluka atau terganggu."
"Ja-jadi, kau bisa melihat hantu?" tanya Yuda.
Natalia mengalihkan pandangannya.
"Nanti akan aku ceritakan. Yang penting sekarang kita harus kembali, Mas Yuda," pinta Irgina.
Mobil berhenti pertigaan. Di depan mereka adalah jalan raya menuju ke kota. Yuda tampak berpikir. Ia pun memutar balikkan mobilnya dan kembali menuju ke Desa Limus.
"Apa mungkin wanita berwajah hitam itu ibunya Zyara yang selama ini menghilang?" tanya Irgina.
Natalia tampak berpikir. "Aku tidak tahu."
"Bisa jadi, ibunya Zyara tidak menghilang, tapi meninggal dibunuh seseorang. Itulah sebabnya dia tetap berada di rumah itu untuk menjaga anaknya. Dan itu juga alasan yang membuat Zyara membiarkan ibunya tetap di sana dengan menutup seluruh rumah dengan gorden agar ibunya tetap bersamanya," ucap Irgina.
"Kalian ini sebenarnya bicara apa? Ini tidak masuk akal. Yang kalian bicarakan seperti cerita horror mystery. Kalian terlalu banyak membaca naskah misteri selama di LD Publisher. Sepertinya kalian membutuhkan lebih banyak waktu lagi untuk cuti," kata Yuda.
"Lebih baik Mas Yuda fokus menyetir saja," gerutu Irgina sinis.
"Baiklah, pasang sabuk pengaman kalian," kata Yuda.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
🥀🥀🥀
09.54 | 1 Desember 2020
By Ucu Irna Marhamah
KAMU SEDANG MEMBACA
MISANTHROPE
KorkuSINOPSIS Bermula dari seorang editor naskah novel yang mencari seorang penulis novel yang akhir-akhir ini sulit sekali dihubungi. Seolah-olah ditelan bumi, penulis novel misterius itu tidak ada kabar sama sekali setelah beberapa minggu terakhir. Pem...
