"Apakah ini yang kau maksud sebagai kerja keras?!" atasan Irgina melemparkan buku tebal itu ke wajah Irgina.
Tidak ada perlawanan yang dilakukan oleh Irgina. Ia menunduk.
"Bagaimana bisa kau bekerja seperti ini? Kenapa kau bisa diterima bekerja di sini? Seharusnya kau bekerja menjadi OB saja!" ucap wanita berambut pirang itu.
Irgina mendongkak menatap wanita itu. "Bu Listin, sebenarnya itu bukan pekerjaanku, tapi juniorku."
"Ya, aku tahu. Juniormu yang merevisi naskah tersebut. Tapi, kenapa kau tidak mengajarinya dengan benar? Bukankah itu tanggung jawabmu?" tanya Bu Listin sambil menatap kesal pada Irgina.
"Aku sudah memberitahukan apa yang harus dia lakukan, tapi dia asal-asalan mengerjakan tugasnya. Kalau boleh jujur, dia tidak bisa mengerjakan tugasnya dengan baik. Dia tidak bisa melakukan apa-apa selama menjadi karyawan magang. Bahkan dia tidak tahu cara bersopan santun," kata Irgina.
Tamparan keras mendarat di wajah Irgina membuat gadis itu berhenti bicara. Terasa perih dan panas sekali pipinya.
"Itulah akibat dari kesabaran dan kebaikan yang kau punya," bisik sosok bermata merah di belakang Irgina. "Wanita di depanmu bertindak berlebihan. Dia bukan atasan, tapi penjajah. Kau tahu harus bagaimana? Penjajah harus dibantai."
Listin mendorong Irgina hingga terpundur. "Kau siapa? Beraninya mempertanyakan kesopanan seseorang. Sekarang kembali ke meja kerjamu."
Irgina pun berlalu ke meja kerjanya. Rizal dan Tisa melihat ke arah Irgina.
"Kau baik-baik saja? Kenapa sudut bibirmu berdarah?" tanya Tisa khawatir.
Irgina mengusap darah dari sudut bibirnya. Ia melihat pada gadis muda yang duduk di kursinya. Tertera nama Linda di name tag yang ia pakai.
"Kenapa lama sekali, Senior? Katanya Senior mau mengajariku? Kenapa aku tidak bisa mengerjakan semua pekerjaan ini dengan baik? Senior Irgina tidak becus membimbing juniornya," gerutu Linda.
"Kenapa kau tidak mengambil pena itu lalu tusuk matanya?" tanya wanita bermata merah di samping Irgina.
Pandangan Irgina tertuju ke pena di mejanya.
"Senior Irgina!" bentak Linda.
Perhatian Irgina teralihkan pada Linda. "Aku harus melanjutkan pekerjaanku. Kau bisa meminta pada senior lain untuk mengajarimu. Lagi pula kau sudah menjadi karyawan tetap. Kau tidak perlu lagi menanyakan tentang pekerjaanmu pada rekan kerjamu."
Linda bangkit dari kursi lalu menatap kesal pada Irgina. "Kenapa kau bilang begitu? Aku memang karyawan tetap sekarang karena sudah menandatangani kontrak, tapi aku masih butuh bimbingan."
"Minggir," suruh Irgina.
"Kau mengusirku?! Beraninya!"
"KUBILANG MINGGIR!!!!" teriak Irgina. Linda tersentak bahkan sampai terpundur.
Ekspresi Irgina menunjukkan kemarahan yang sebelumnya tidak pernah ia tunjukkan. Seisi ruangan lantai dua menoleh padanya.
Wanita bermata merah tersenyum lebar. "Aku merasakan perasaan ingin membunuh dari dirimu, Irgina. Aku menyukai ini, sayangnya kau pengecut."
Linda pun berlalu sambil bersungut-sungut.
Irgina mendengus kesal lalu ia duduk di kursinya. Gadis itu memasukkan pena yang di atas meja tersebut ke dalam laci. Ia melihat ke sekeliling. Semua orang menatap ke arahnya, tak terkecuali Rizal dan Tisa.
"Apa yang kalian lihat? Pekerjaan kalian sudah selesai?" tanya Irgina dingin.
Mereka segera beralih ke perkerjaan masing-masing. Begitu pun dengan Rizal dan Tisa.
"Menyebalkan, dia pikir aku tidak bisa marah? Lihat saja nanti, aku akan memotong-motong mereka sampai bagian terkecil," gerutu Irgina.
Wanita bermata merah itu tertawa. "Aku suka auramu."
Waktunya pulang. Irgina keluar dari gedung LD Publisher. Ia melihat Listin dan Linda berbicara kemudian mereka memasuki mobil yang sama.
"Ternyata Linda itu adiknya Bu Listin," ucap Tisa yang tiba-tiba muncul di samping Irgina.
"Pantas saja, tabiat mereka sama saja. Sama-sama tidak punya sopan santun, emosian, dan sama-sama menyebalkan," gerutu Irgina. "Bagaimana bisa Pak Eldo mengangkat Bu Listin menjadi manager. Dia sangat sombong dan jahat."
Tisa mengusap bahu Irgina. "Sabar, sabar, tidak biasanya kau semarah ini. Kau sedang datang bulan, ya?"
Irgina menoleh pada Tisa membuat gadis itu menelan saliva. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kau tahu dari mana? Apa tembus?" tanya Irgina sambil melihat bokongnya.
"Tidak, tidak tembus, kok. Aku hanya menebak, ternyata memang benar kau sedang datang bulan. Dari tadi kau marah-marah terus." Tisa menggandeng tangan Irgina agar segera pergi.
"Tapi, Bu Listin marah-marah setiap hari. Apa dia datang bulan setiap hati?"
"Itu bawaan dari lahir."
"Menyebalkan!"
"Sudah-sudah."
Keesokan harinya, Irgina datang pagi ke perusahaan. Ia mendengar suara tabrakan. Gadis itu berbalik dan melihat ke jalanan. Kedua matanya terbelalak melihat seseorang terkapar di jalanan dengan darah menggenang di sekitar tubuhnya.
Irgina berlari menghampirinya, tapi saat korban tabrak lari itu mendongkak menatap ke arahnya, Irgina berhenti berlari. Ia melihat wajah yang tak asing baginya. Seorang wanita berambut pirang yang kemarin membentaknya dan melemparkan buku tebal ke wajahnya.
"Tolong," ucap wanita itu yang tak lain adalah Listin.
Irgina tidak kunjung menolongnya. Kakinya dipegang kuat oleh sosok wanita bermata merah.
"Tidak perlu menolongnya, dia sudah melukaimu. Ingatlah buku yang dia lempar ke wajahmu dan tamparan keras itu," kata sosok bergaun merah itu.
"Tolong aku... Irgina," ucapnya lirih.
Beberapa karyawan LD Publisher yang juga datang pagi berlarian menolong Listin.
"Bu Listin!"
"Bu Listin, bertahanlah!"
Irgina tidak bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri. Ia merasakan hembusan angin menerpa wajahnya.
Wanita bermata merah itu kini berada di depan wajah Irgina. "Kau senang, kan? Tersenyumlah dan katakan sesuatu."
Irgina tersentak kaget saat ada tangan yang mencengkeram kaki kirinya. Ia menunduk melihat Listin yang berlumurah darah menatap tajam ke arahnya.
"Kenapa kau tidak menolongku?!"
"Hhh!" Irgina tersentak bangun dari tidurnya. Ia merasakan kaki kirinya mati rasa. "Apa yang terjadi dengan kakiku?!"
Setelah dirasa-rasa, ternyata kaki kiri Irgina kesemutan. Gadis itu mendengus kesal. Ia melihat ke pintu kamar yang sedikit terbuka. Gadis itu melihat ada mata yang mengintip kemudian pergi.
Sambil berjalan tertatih karena kesemutan, Irgina menuju ke pintu. Ia membukanya. Tidak ada siapa-siapa di depan kamar. Terdengar suara pintu ditutup. Pandangan Irgina tertuju ke pintu kamar Rina. Ia yakin yang barusan adalah suara pintu kamar Rina.
Irgina mengerutkan keningnya. "Apa baru saja dia mengawasiku?"
Tidak mau berpikir panjang, Irgina menutup pintu lalu kembali merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Namun, ia tidak bisa tidur gara-gara mimpi barusan.
"Kenapa aku bermimpi kejadian yang sudah berlalu?" gumam Irgina. "Itu adalah mimpi buruk yang menakutkan."
"Natalia ke mana? Mana mungkin dia pergi ke kamar mandi sampai setengah jam. Apa mungkin dia pergi ke luar? Kenapa dia pergi tanpa memberitahuku?" gerutu Irgina.
Ia teringat dengan ucapan Natalia. "Aku melihat sosok yang mengelilingi Rina. Mereka memiliki aura negatif. Bahkan hantu muka gosong pun takut padanya,"
Irgina menepuk dahinya. "Kalau tahu begitu, kenapa dia meninggalkanku sendirian?"
🥀🥀🥀
19.23 | 1 Desember 2020
By Ucu Irna Marhamah
KAMU SEDANG MEMBACA
MISANTHROPE
HorrorSINOPSIS Bermula dari seorang editor naskah novel yang mencari seorang penulis novel yang akhir-akhir ini sulit sekali dihubungi. Seolah-olah ditelan bumi, penulis novel misterius itu tidak ada kabar sama sekali setelah beberapa minggu terakhir. Pem...
