Natalia tidak bisa tidur. Ia meminum banyak air. Entah berapa gelas yang sudah ia teguk sedari tadi.
Natalia memutuskan untuk duduk di mejanya dan mengotak-atik laptop. Ia teringat sesuatu lalu membuka halaman pencarian dan mengetik Desa Limus.
Muncul artikel yang sama. Natalia mendengus kesal. "Bagaimana caraku mencari tahu tentang rumah itu? Tidak ada lagi orang yang menuliskan artikel tentang Desa Limus atau tempat di sekitarnya. Yang ada hanya rekomendasi tempat untuk berlibur."
Natalia menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia tampak berpikir. Natalia teringat sesuatu. Ia segera menghapus bar pencarian lalu menggantinya dengan "Kaki Bukit Desa Limus".
Muncul beberapa artikel. Natalia terus scrolling ke bawah. Ia menemukan kaki bukit yang pernah ia lewati. Ada pohon besar juga di sana. Bahkan berita terbaru tentang penemuan mayat minggu lalu juga ada. Tak lain itu adalah mayat Elis, ibunya Zyara dan Rina.
Natalia terus scrolling dan menemukan foto hitam putih yang menarik perhatiannya, yaitu rumah yang masih utuh di lokasi tersebut sebelum menjadi tempat tumbuhnya pohon besar. Ia langsung membukanya.
~Tahun 1990, ditemukan keluarga yang meninggal di sebuah rumah di kaki bukit Desa Limus. Terdiri dari ayah, ibu, dan dua orang anak. Tetapi, satu anak menghilang entah ke mana. Diduga dialah pelaku pembunuhan atas keluarganya sendiri. Sampai saat ini, anak yang hilang itu tidak pernah ditemukan.~
Natalia tampak berpikir. Ia melihat foto rumah itu lalu memperbesarnya. Ada banyak kain putih yang tampaknya dijemur di depan rumah. Beberapa kain itu memiliki corak-corak indah.
"Apakah pemilik rumah ini punya usaha membatik?" gumam Natalia. Ia teringat dengan bak berisi cairan hitam di rumah itu.
Natalia tersentak kaget saat ponselnya berdering. Natalia pun melihat ke layar.
"Nomor tak dikenal?" gumam Natalia. Ia mengabaikannya kemudian kembali fokus ke layar laptopnya.
Namun, beberapa menit kemudian, ponselnya kembali berdering. Ia menolak panggilan tersebut dan panggilan kembali masuk dari nomor yang sama.
Akhirnya Natalia menyerah. Ia pun mengangkat panggilan tersebut. "Halo? Dengan siapa ini?"
"Oh, halo, Nona Natalia. Aku Zaki, polisi di Desa Limus yang menangani kasus kematian Ibu Elis. Kau ingat padaku?" ucap pria di seberang sana.
"Oh iya, aku ingat," jawab Natalia.
"Maaf mengganggu waktunya, tapi apakah kita bisa bertemu besok?" tanya Zaki.
"Besok? Aku tidak bisa, aku sudah kembali ke kota," jawab Natalia datar.
"Apa? Kau dan temanmu sudah kembali ke kota?"
"Iya, kalau ada yang penting, Pak Polisi bisa menanyakannya padaku sekarang," ucap Natalia.
"Ini tidak bisa dibicarakan di telepon, kita harus bertemu secara langsung," ujar Zaki. "Apa kau punya waktu?"
"Aku tidak yakin, aku seorang karyawan yang harus bekerja di tempat kerjaku. Aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaanku begitu saja. Ada banyak pekerjaan belakangan ini," jawab Natalia.
Setelah panjang lebar berbicara, akhirnya panggilan pun berakhir.
"Kenapa tidak sekalian ditanyakan waktu itu? Dia pikir bisa seenaknya menyuruhku itu ini!" gerutu Natalia.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah wanita bermata merah itu ada hubungannya dengan rumah di kaki bukit?" Natalia menghela napas berat lalu ia pun merebahkan tubuhnya ke ranjang dan tidur.
Sementara itu, malam yang sunyi dan dingin di Desa Limus. Suara hewan malam bersahutan di mana-mana membuat suasana tidak ramah.
Rina berjalan gontai menyusuri gang sepi setelah bekerja seharian penuh di rumah Bu RT.
"Rina, tunggu sebentar."
Langkah Rina terhenti saat mendengar suara seseorang memanggil namanya. Ia berbalik melihat dua orang polisi berdiri di sana. Mereka tak lain adalah Dedi dan Farhan yang menangani kasus kematian Isah dan Tati.
"Kami perlu bicara sebentar," kata Farhan.
Perlahan tangan Rina bergerak mengeluarkan gunting benang dari dalam tasnya. Ia menatap dua polisi itu yang menghampirinya.
Angin malam berhembus cukup kencang dan menusuk kulit.
"Rina, kau ditangkap atas kasus pembunuhan Ibu Isah dan Ibu Tati. Sekarang ikut kami ke kantor polisi," kata Dedi.
Farhan mengeluarkan borgolnya. Rina tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Farhan mendekat dan memasangkan borgol ke tangan Rina, tapi tiba-tiba Rina menusuk perut Farhan dengan gunting benang yang sedari tadi ia pegang.
Farhan meringis sembari memegangi perutnya yang mulai mengeluarkan darah segar.
Dedi segera mengeluarkan pistolnya dan menodongkannya pada Rina. "Jangan bergerak dan jangan melawan atau aku akan menembakmu!"
Rina tidak peduli. Ia memperdalam tusukannya ke perut Farhan. Hingga darah terciprat ke wajahnya.
Dedi menarik pelatuknya, tapi pistolnya tidak berfungsi. Pelatuknya tidak bisa ditarik.
Kedua mata Dedi terbelalak melihat Farhan tersungkur dengan perut menganga lebar. Ia melihat jantung yang masih berdetak di tangan Rina. Tangan Rina berlumuran darah yang sebagian menetes ke tanah.
Bagaimana mungkin? Batin Dedi. Ia masih berusaha menarik pelatuk pistolnya, tapi tidak bisa.
Pandangan Rina teralihkan pada Dedi membuat Dedi menelan saliva. Bukan tanpa alasan, ia ketakutan karena tubuhnya yang tiba-tiba tidak bisa digerakkan.
Rina tersenyum. Cipratan darah Farhan di wajahnya membuatnya terlihat lebih menakutkan seperti psikopat.
Dedi berusaha menggerakkan tubuhnya, tapi tetap tidak bisa. Rina menghampirinya sambil membuang jantung Farhan ke tanah. Ia mengacungkan gunting benangnya yang berlumuran darah lalu menusukkannya ke leher Dedi.
Sosok wanita bergaun merah di belakang Rina tertawa.
Dedi pun tersungkur dan sekarat, sementara Farhan sudah tewas saat jantungnya diambil secara paksa oleh Rina entah bagaimana caranya.
Rina berbalik membuatnya berdiri berhadapan dengan sosok bermata merah itu.
"Kau pasti kesal," kata sosok itu.
Rina menggerakkan bola matanya menatap sosok wanita bergaun merah itu. Ternyata ia bisa melihatnya. Hantu-hantu lainnya muncul di belakang Rina. Muncul juga dua hantu baru yang kemungkinan adalah hantu Dedi dan Farhan.
"Tidak ada yang aku sukai. Aku benci semua orang. Tidak ada alasan kenapa aku harus menyukai orang-orang, termasuk kau," kata Rina kemudian berlalu melewati sosok wanita itu.
Wanita itu tersenyum sambil mendecih. "Aku bukan manusia, kau juga tahu itu. Aku memberimu sesuatu yang tidak bisa diberikan dan didapatkan oleh manusia lain. Apakah aku manusia?"
Langkah Rina terhenti. Ia berbalik menatap punggung wanita bermata merah itu. "Kau hantu, sama saja dengan mereka yang ada di sekelilingku."
"Itu karena aku memilih wujud manusia dan aku juga menginginkan tubuh manusia sebagai cangkangku," kata sosok itu sambil berbalik menatap Rina. Terdengar suara tulang-tulang yang retak dan daging yang robek.
Kedua mata Rina terbelalak sambil mendongkak secara perlahan melihat sesuatu yang sebelumnya belum pernah ia lihat.
"Inilah wujud asliku. Manusia biasa akan terbakar matanya saat melihat wujud asliku," itu adalah perkataan si sosok wanita bergaun merah dengan suara yang berbeda.
Rina menelan saliva.
🥀🥀🥀
11.18 | 1 Desember 2020
By Ucu Irna Marhamah
KAMU SEDANG MEMBACA
MISANTHROPE
KorkuSINOPSIS Bermula dari seorang editor naskah novel yang mencari seorang penulis novel yang akhir-akhir ini sulit sekali dihubungi. Seolah-olah ditelan bumi, penulis novel misterius itu tidak ada kabar sama sekali setelah beberapa minggu terakhir. Pem...
