"Pertanyaan adalah, tempat itu dikenal cukup angker. Aku rasa rumah di bawah pohon itu digunakan oleh seseorang yang praktik ilmu hitam. Mungkin orang itu menggunakan ibumu sebagai tumbal. Bahkan di pohonnya pun kami menemukan banyak sekali bagkai kucing yang sepertinya sengaja diikat dan disangkutkan di dahan pohon."
Zyara mencerna ucapan Zaki.
"Apa kau mencurigai seseorang? Ibumu dibunuh dengan begitu kejinya. Sepertinya si pembunuh memiliki dendam kesumat dan nekat membunuh dan menumbalkannya," ucap Zaki.
"Tapi, ibuku jarang berinteraksi dengan orang-orang desa. Ibuku juga bukan orang yang mudah diperdaya atau dimanipulasi oleh orang lain. Pasti ada seseorang yang menyeret paksa ibuku ke sana dan membunuhnya," ucap Zyara.
"Sebelum ibumu menghilang, apa dia mengatakan sesuatu atau bilang mau pergi ke mana?" tanya Zaki.
Zyara menggeleng. "Ibuku hanya bilang kalau dia akan pergi bekerja ke luar seperti biasa. Selama hidupnya Ibu tidak pernah memberitahu kami dia bekerja di mana dan bekerja sebagai apa. Kami hanya tahu dari mulut-mulut tetangga yang tidak pernah berhenti memberikan informasi dan gosip setiap harinya."
Zaki tampak berpikir. "Lalu kakakmu di mana saat itu?"
"Setelah pulang sekolah, kakakku pergi ke rumah Bu RT dan bekerja sebagai penjahit seperti biasa. Jadi, kakakku tidak bertemu dengan Ibu saat Ibu pergi," jawab Zyara pelan.
Zaki menatap Zyara. "Begitukah? Lalu apakah malam itu kakakmu pulang?"
Zyara mengangguk. "Kakak pulang, tapi keesokan harinya dia menghilang."
"Menghilang? Apa kau tahu kira-kira ke mana dia pergi?" tanya Zaki.
"Aku mengirimkan laporan dua orang hilang ke pihak kepolisian, tapi kalian tidak memprosesnya. Kalau ada orang yang sudah meninggal, baru kalian sok-sokan kerepotan," gerutu Zyara.
"Yang menangani kasus orang hilang bukan kami, tapi tim polisi lain. Jadi, jangan marah padaku. Tugasku adalah menangani kasus pembunuhan," kata Zaki.
Zyara membuang muka.
"Apa kau tahu kalau kakakmu juga bekerja seperti ibumu?" tanya Zaki.
Zyara menatap Zaki dengan tajam. "Jangan sembarangan! Dia bukan gadis yang seperti itu."
"Dia sendiri yang bilang begitu. Dia bilang, ibu kalian yang menyuruhnya," ucap Zaki.
Zyara tampak berpikir. "Kak Rina pasti sudah gila. Kakakku tidak mungkin sebodoh itu. Ibu kami juga tidak pernah menyuruh kami bekerja. Ibu selalu menyuruh kami belajar. Kak Rina pasti berbohong."
Zaki memijit pelipisnya. Ia mengganti pertanyaan, "Apa ibumu pernah bertengkar dengan kakakmu?"
"Setiap hari," jawab Zyara pelan. "Mereka selalu bertengkar."
"Kakakmu bilang, kalau ibumu lebih menyayangimu," ucap Zaki.
"Itu benar, tapi bukan berarti Ibu tidak menyayangi Kakak," kata Zyara. "Ibu hanya sedikit tegas pada Kakak, karena Kakak anak tertua."
Zaki mengangguk. "Kedengarannya sedikit menyakitkan, tapi aku rasa itu bukan alasan yang bagus untuk tidak menangis saat mengetahui ibunya sudah meninggal. Kakakmu tidak terlihat menangis sama sekali. Dia bahkan sangat tenang."
Zyara tampak berpikir. Ia tidak terlalu memperhatikan kakaknya kemarin, karena ia terlarut dalam tangisannya.
"Baiklah, kalau ada informasi lain atau ada hal yang berkaitan dengan kematian ibumu, hubungi aku." Zaki menyodorkan kartu namanya.
Zyara mengambilnya lalu pergi.
"Tunggu, aku akan mengantarmu pulang. Ini sudah malam. Jarak dari kantor polisi ke rumahmu cukup jauh," kata Zaki sambil beranjak dari kursinya.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." Zyara berlalu. Langkahnya terhenti lalu ia kembali menoleh pada Zaki. "Jangan panggil aku dengan nama Zyara. Itu nama penaku, tidak sembarangan orang bisa memanggilku dengan nama itu."
Zyara melanjutkan langkahnya.
"Dia benar-benar jutek," gumam Zaki. Ia menoleh pada Markus yang berdehem pelan.
"Kenapa malah melihatku? Kejar dia," kata Markus.
Di depan kantor polisi, Zyara menelepon Irgina.
"Mas Yuda membawa mobilnya, karena sekarang dia menyewa kamar penginapan," ucap Irgina di seberang sana.
Zyara menghela napas berat.
"Kalau kau mau, aku akan mencari abang ojek di sekitar sini untuk menjemputmu dari kantor polisi."
"Tidak usah, Kak." Zyara melihat ke sekeliling berharap ada tukang ojek sekitar yang mangkal.
"Lalu, bagaimana kau pulang kalau tidak dijemput?" tanya Irgina khawatir.
Zyara berjalan keluar melewati gerbang kantor polisi. Di seberang sana terlihat beberapa pria dewasa duduk di sebuah bangku. Ada tiga motor yang terparkir di depan mereka.
"Ada tukang ojek, kok. Aku matikan teleponnya, ya." Zyara menutup panggilannya tanpa menunggu jawaban dari Irgina.
Zyara menghampiri pria-pria yang menurutnya adalah tukang ojek itu. "Mas, Mas, tukang ojek, ya?"
Para pria itu menoleh pada Zyara.
"Mau ke mana, Neng?" tanya salah satu dari mereka sambil tersenyum menggoda Zyara.
"Ke Jalan Limus, Kampung Limus, Desa Limus," jawab Zyara yang agak risih dengan tatapan mereka.
"Dengan senang hati," kata salah satu dari mereka sambil menaiki motornya.
"Naik motor abang saja, Neng," kata yang lainnya. Mereka berebut tumpangan.
Terdengar suara klakson motor berbunyi. Zyara menoleh melihat Zaki di seberang sana sambil melambaikan tangannya.
"Tidak jadi, Mas." Dengan tampang tidak berdosa, Zyara segera pergi menyeberang menghampiri Zaki.
Zaki memberikan helm pada Zyara. Gadis itu segera memakai helm tersebut lalu menaiki motor Zaki. Motor pun melaju pergi.
"Ah, gadis matre, dia lebih suka pria yang bergaji."
"Iya, lagi-lagi kita kalah dari aparat keamanan."
"Tentu saja, alasannya hanya karena mereka punya seragam. Kita juga tampan kalau berseragam seperti itu."
Dalam perjalanan, Zaki dan Zyara sama-sama diam. Mereka melewati jalan yang di sisi-sisinya adalah perkebunan karet yang rimbun. Lampu redup dipasang berjarak belasan meter. Dengan penerangan minim seperti itu, sama sekali tidak mengubah keadaan menjadi sedikit lebih terang.
"Lain kali jangan menolak kebaikan orang lain," kata Zaki.
"Aku tidak mau merepotkan, bukankah tugas polisi itu berat? Aku tidak mau pekerjaan Pak polisi terganggu hanya karena mengantarku pulang," jawab Zyara.
Zaki tersenyum. Ternyata dia punya sisi baik juga.
"Tetap saja kau tidak boleh pulang sendirian malam-malam begini. Meski kita tinggal di pedesaan, tidak menutup kemungkinan adanya tindak kriminal. Dan aku sudah menyelidiki lebih dari 6 kasus pembunuhan sejak aku bertugas menjadi polisi di desa ini," ucap Zaki.
Zyara tidak merespon.
"Dan satu lagi, jangan menganggap semua pria yang mangkal dan memiliki motor itu adalah tukang ojek," ucap Zaki.
"Mau bagaimana lagi, di sini tidak ada angkot, tidak ada taksi, grab, gojek, atau bus. Aku harus pulang dengan cara apa?" gerutu Zyara.
"Itulah sebabnya sekolah-sekolah di desa menerapkan kebijakan pulang lebih awal ketimbang di kota. Pemerintah mencegah terjadinya tindakan kriminal terhadap para siswa yang pulang terlalu sore apalagi larut malam, karena situasi di desa yang terlalu sepi," kata Zaki.
Zyara menghela napas berat.
🥀🥀🥀
18.39 | 1 Desember 2020
By Ucu Irna Marhamah
KAMU SEDANG MEMBACA
MISANTHROPE
HorreurSINOPSIS Bermula dari seorang editor naskah novel yang mencari seorang penulis novel yang akhir-akhir ini sulit sekali dihubungi. Seolah-olah ditelan bumi, penulis novel misterius itu tidak ada kabar sama sekali setelah beberapa minggu terakhir. Pem...
