Natalia mengeratkan pegangannya pada pecahan gelas di tangannya sampai telapak tangannya terluka dan darahnya menetes ke lantai.
Pandangan Natalia tertuju ke sosok di belakang Herdian dan wanita muda itu. Bukan sosok yang menempel pada ayahnya, tapi sosok lain. Wanita berbaju merah dengan rambut sepinggang.
"Bunuh! Bunuh!! Bunuh!!!" teriak sosok berbaju merah itu.
Natalia kembali menatap ibu tirinya. Tangannya yang berdarah itu gemetar.
"BUNUHHH!!!!" teriak wanita berbaju merah itu.
Natalia melayangkan tangannya memukul wajah wanita muda di depannya itu dengan cukup keras hingga tersungkur ke lantai.
Wanita berbaju merah itu tertawa cekikikan. Lalu menghilang setelah mengumpat, "Pengecut!"
"Natalia!" Herdan menjambak rambut Natalia.
Tidak tinggal diam, Natalia menancapkan pecahan gelas di tangannya ke lengan ayahnya.
Herdan meringis kesakitan. Ia pun melepaskan jambakannya. Darah mengalir dari lengannya.
"Mas? Mas, jauhi dia! Dia mau melukai kita." Wanita muda itu berlari memeluk Herdian. Hidung wanita itu mengeluarkan darah, mungkin karena pukulan Natalia tadi.
Natalia menatap lurus, tepatnya pada sosok yang menempel pada ayahnya. Melihat Natalia yang menatap ke arahnya, sosok itu baru menyadari kalau Natalia bisa melihatnya. Sosok itu pun melesat ke arah Natalia sambil membuka mulutnya yang lebar.
"Hhhh!" Natalia tersentak bangun. Ia mengusap keringat dingin yang terus mengalir dari keningnya. Bahkan baju dan rambutnya juga basah.
"Kenapa belakangan ini aku bermimpi buruk? Mimpi burukku di masa lalu yang terus terulang," gumam Natalia. "Tapi, siapa sosok berbaju merah itu? Dulu aku tidak melihatnya. Aku rasa aku pertama kali melihatnya. Dia jenis hantu yang berbeda dari kebanyakan hantu yang kulihat."
Suara ketukan di pagar depan membuat Natalia terlonjak kaget. "Sialan! Mengagetkan saja."
Natalia melihat Irgina yang masih tidur di sampingnya. Ia pun bangkit dari tempat tidurnya dan melihat lewat jendela. Ternyata Anita dan Sani yang mengetuk pintu pagar.
"Mereka lagi. Apa Zyara tidak berniat menemui mereka dan pergi ke sekolah? Dia sudah tiga hari tidak pergi ke sekolah," gerutu Natalia sambil berlalu menuju ke kamar Zyara.
Natalia mengetuk pintu kamar Zyara, tapi tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, masih tidak ada jawaban.
"Tidak biasanya Zyara menutup pintu kamarnya. Apa terjadi sesuatu padanya?" Natalia membuka pintu.
Ruangan kamar tersebut tampak gelap. Natalia melihat Zyara masih tertidur. Namun, asap hitam mengepul dan membumbung di atas tubuh Zyara. Tentu saja itu bukan asap biasa. Ia masuk lalu membuka gorden jendela kamar Zyara.
Asap hitam itu pun berubah menjadi partikel kecil dan menghilang begitu saja.
Zyara terbangun karena sinar matahari yang masuk lewat jendela menyorot wajahnya. Ia mengucek matanya lalu melihat pada Natalia yang berdiri di dekat jendela kamarnya.
"Ada apa ini? Kenapa kau di kamarku?!" tanya Zyara setengah membentak.
"Bisakah kau membuka seluruh gorden di rumahmu? Sekalian buka jendelanya agar udara segar masuk," kata Natalia.
Zyara bangkit lalu menghampiri Natalia dan menutup kembali gordennya. "Aku tidak suka suasana terang. Aku tidak bisa berkonsentrasi saat menulis novel."
"Meski kau tidak sedang menulis novel, gordennya selalu ditutup. Apa kau tidak takut hantu bersarang di kamarmu? Hantu suka tinggal di ruangan yang gelap dan lembab," ucap Natalia.
"Jangan pedulikan aku, bisakah kau mengurus urusanmu sendiri?" gerutu Zyara.
Natalia kembali membuka gorden jendela kamar Zyara. "Harus ada cahaya dan udara segar yang masuk ke ruangan rumahmu. Kenapa kau senang tinggal dalam kegelapan? Pantas saja kau terlihat seperti zombie."
Zyara kesal. "Kenapa kau peduli?!"
Natalia melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap kesal pada Zyara. "Berapa usiamu? Kenapa kau tidak sopan berbicara pada orang yang lebih dewasa darimu?"
Zyara mendengus kesal. "Memangnya kenapa kalau kau lebih tua dariku? Apa karena usiamu lebih tua, kau merasa bangga dan bebas mengaturku?!"
Natalia menggerutu ia melihat pada Irgina yang ternyata sedari tadi berdiri di depan pintu kamar Zyara. Irgina memperhatikan dua gadis itu yang sedang bertengkar.
"Kak Irgina," gerutu Natalia berharap kali ini Irgina membelanya. Zyara menoleh pada Irgina.
"Natalia, keluar dari kamarnya," kata Irgina.
Natalia cemberut. Ia membelakangi Irgina karena kesal. Zyara tersenyum senang, karena Irgina memihak padanya.
"Zyara," panggil Irgina.
Zyara menoleh pada Irgina. "Iya, Kak?"
"Natalia itu 5 tahun lebih tua darimu, jadi bersikap baik 'lah padanya," kata Irgina.
Zyara terdiam.
Natalia menoleh menatap Irgina. Ia tersenyum senang, karena kali ini Irgina di pihaknya.
"Teman-temanmu menunggu di depan rumah, sebaiknya temui mereka kalau kau tidak mau sekolah lagi," kata Irgina.
"Tidak mau!" tolak Zyara.
Irgina menghela napas berat. "Kenapa? Apa kau tidak kasihan pada temanmu yang berdiri di depan dan terus menunggu?"
"Kenapa aku harus peduli pada mereka? Mereka bukan orang baik!" teriak Zyara.
"Aku tahu alamatmu berkat teman-temanmu. Kami...." ucapan Irgina terpotong.
"Bohong, pembohong!" bentak Zyara.
Irgina dan Natalia tersentak kaget dengan nada bicara Zyara yang tiba-tiba meninggi.
Irgina menjelaskan, "Aku tidak berbohong, aku...."
"Mereka pembohong!" potong Zyara. "Aku tidak punya teman di sekolah. Mereka bukan temanku! Mereka membenciku dan menjauhiku!"
Irgina terdiam.
"Mereka menindasmu di sekolah?" tanya Natalia yang terlihat kesal. "Kenapa tidak bilang pada guru atau polisi?"
Zyara menatap Natalia. "Hidup di kampung tidak semudah yang kalian bayangkan. Sanksi sosial di kampung lebih mengerikan, bahkan tidak masuk akal. Jangan mengira orang kampung lebih polos dan lebih baik dari orang kota."
"Mungkin aku memang tidak tinggal di kampung dan tidak mengerti seperti apa tata sosial bermasyarakat di kampung ini, tapi... aku tidak pernah mau ditindas oleh orang lain lagi. Aku melaporkan orang yang menindasku pada guru, tapi guru tidak menanggapi, aku melapor pada polisi, mereka juga tidak menindaklanjuti." Sejenak Natalia berhenti.
Lalu ia melanjutkan, "Terakhir aku melapor pada komnas HAM dan aparat yang mau membantu. Guru dan polisi yang menolak membantuku langsung dipecat, dan orang-orang yang membullyku mendapatkan teguran keras. Mereka tidak bisa mendaftar di sekolah negeri mana pun."
Irgina menatap Natalia. Tersirat rasa sakit yang masih tersimpan di mata juniornya itu.
"Apa kau senang setelahnya?" tanya Zyara.
Natalia mengangguk. "Ya, aku senang mereka mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan. Orang yang menonton saat orang lain ditindas lebih kejam dari orang yang menindas."
Zyara terdiam.
Natalia meraih tangan Zyara kemudian menggenggamnya. "Kalau kedua bajingan itu memang orang yang menindasmu, ayo kita datangi dan habisi mereka."
Saat Natalia melangkahkan kakinya, ia berhenti, karena Zyara sama sekali tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
Zyara menggeleng. "Kalau aku menuruti perkataanmu, maka aku juga akan terjebak. Dia pasti datang lagi dan menyuruhku melakukan sesuatu yang lebih jahat lagi. Aku tidak mau!"
🥀🥀🥀
21.13 | 1 Desember 2020
By Ucu Irna Marhamah
KAMU SEDANG MEMBACA
MISANTHROPE
HorrorSINOPSIS Bermula dari seorang editor naskah novel yang mencari seorang penulis novel yang akhir-akhir ini sulit sekali dihubungi. Seolah-olah ditelan bumi, penulis novel misterius itu tidak ada kabar sama sekali setelah beberapa minggu terakhir. Pem...
