Dina yang baru kembali dari dapur terkejut ketika tidak menemukan ketiga cucunya di dalam pagar bermain mereka. Dia tadi bermain dengan ketiga cucunya di sana, sampai bik Tum memintanya mengicip masakan, dia meninggalkan ketiganya bermain di dalam pagar untuk ke dapur, tapi saat dia kembali bagian pintu sudah terbuka dan ketiga cucunya menghilang.
"Kenapa mi?" tanya Lucy yang baru turun dari kamarnya untuk mengambil penutup dada.
"Tadi mami meninggalkan mereka untuk ke dapur, kembali mereka sudah hilang."
Lucy tertawa dan melangkah ke ruang depan, "Tuh." Tunjuk Lucy pada Dina.
Ketiga bayi gembul itu sedang duduk di depan jendela yang menghadap halaman dan jalanan depan, mereka tidak mengoceh tapi kepala mereka bergerak menoleh kanan kiri.
"Astaga, ngapain mereka di sana? Bagaimana mereka bisa ke sana?" kata Dina dengan suara pelan karena ingin tahu apa yang akan dikerjakan ketiga cucunya.
"Mami lupa jika mereka sudah bisa merangkak?" kata Lucy sambil berdehem membuat ketiga bayi itu langsung menoleh ke belakang, melihat apa yang dibawa Lucy ketiganya langsung berbalik, merangkak yang dipikir Dina mendekati Lucy tetapi dia heran karena ketiganya melewati Lucy dan kembali masuk ke dalam pagar, bahkan setelah masuk, Lucas kembali merapatkan pagar, membuat Dina heran sekaligus geli.
"Kamu cuma berdehem, mengapa mereka bisa langsung kembali?"
"Bukan karena dehemanku mi, tapi karena ini." Lucy mengangkat kain penutup dada, melangkah masuk ke dalam pagar bermain di mana ketiga anaknya sudah menunggunya.
Lucy tertawa, setelah memastikan kedua bayinya menyusu dan satu menunggu sambil berbaring di sampingnya, baru Lucy menjelaskan.
"Tadi sebelum aku naik, bukankah aku mengatakan pada mereka untuk menunggu di sini, jadi tadi melihat aku kembali dengan kain ini, mereka harus kembali karena aku tidak akan menyusui mereka jika tidak kembali."
"Astaga, lucu juga tingkah mereka. lihat saja bagaimana mereka sabar bergantian."
"Lucu? Yang ada mereka nakal dan selalu saja ada ulah mereka."kata Lucy pada Dina yang secara khusus mengambil cuti untuk menemani Lucy dan ketiga cucunya karena Tina pulang ke rumah orangtuanya.
"Tadi mengapa keluar?" tanya Lucy pada Lucas yang menunggu giliran.
Lucas bangkit dari berbaring menjadi duduk, memandang Lucy menjawab dengan matanya.
"Mencari Tina?" tanya Lucy dan Lucas berkedip, seperti membenarkan.
"Salah kalian mengapa sering membuat Tina kesal, sekarang dia pulang dan bukannya kemarin kalian juga mengantarkan kepergiannya?"
Raut wajah Lucas mulai berubah dan dua tangan lainnya menepuk dada Lucy dari balik kain, "Kalian pukul mami, mami laporkan papi. Kalian dilarang nenen, jangan salahkan mami." Tegur Lucy pada Lala dan Lili yang rupanya sama kesalnya dengan Lulu.
Dina tersenyum, "Pantas saja mereka usil, kamu yang mengajari mereka."
Lucy tertawa, melihat wajah putranya yang masih merengut kesal, "Ya, mami hanya menggoda kalian. Tina merindukan orangtuanya, seperti kalian merindukan mami dan papi. Dua- tiga hari lagi Tina kembali, baru kita pulang ke Jakarta." Setelah mendengar perkataan Lucy baru raut wajah Lucas berubah kembali normal, dia menyingkap penutup menyusui untuk mengintip kedua saudaranya, menagih gilirannya.
Lucy pulang ke Malang sekaligus mengantarkan Tina untuk mengurus ijasah dan beberapa suratnya untuk keperluan melanjutkan sekolahnya, Perkasa sedang pergi dengan teman-temannya dan Val berangkat ke Batam mengurus pekerjaan, dan nanti saat perjalanan kembali baru menjemput istri dan anak-anaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Love You
PuisiValentino Putra Hadinata, penerus tunggal H Group yang memberi kejutan pada semua orang jika Perkasa Hadinata memiliki keturunan, padahal saudara dan keluarga istrinya berpikir jika mereka yang akan mendapat warisan dari Perkasa. Mereka tidak menyan...
