Di sebuah kamar yang bernuansa hitam abu, seorang pemuda kini tangah berdiri di jendela kamarnya menggenggam sebuah kota berwarna hitam berukuran kecil. Dan tatapan matanya mengarah pada foto dirinya yang tengah memeluk gadis cantik sembari tersenyum bahagia. Dia Galen yang pikiran nya tengah di penuhi oleh Nafiya yang sekarang sudah tak lagi menjadi kekasih nya.
Galen menatap sendu foto dirinya dan Nafiya, foto yang selalu ia pandang saat malam tiba. Foto dengan penuh kenangan yang indah dimana dirinya dan Nafiya saling menyayangi satu sama lain. Dulu sebelum semuanya berakhir Nafiya akan menghubungi nya hanya sekedar mengadu ia sedang bertengkar dengan kakak keduanya. Kini semuanya sudah tak lagi sama, Galen sadar ia melakukan kesalahan.
Ia mencintai seseorang di saat ia masih memiliki kekasih, ia menyukai Aisyah saat pertama kali bertemu. Dengan sifatnya yang baik, dewasa dan ramah membuat Galen semakin jatuh dalam pesona nya.
Perlahan perhatian Galen mulai beralih pada Aisyah, dan perlahan Galen mulai abai dengan keberadaan Nafiya. Nafiya hanya meminta haknya sebagai kekasihnya tapi Galen terus menerus abai menganggap Nafiya tak ada di samping nya.
Seketika Galen melupakan kisah yang indah dengan Nafiya, saat ia dan Nafiya berusaha menyembunyikan hubungannya dengan Nafiya dari keluarga Nafiya karna peraturan keluarga nya yang memang tak boleh memiliki kekasih saat masih sekolah.
Galen menghela nafas panjang berjalan ke arah meja belajar nya. Menaruh kotak hitam yang ia gengam tadi dan duduk di bangku belajar.
Galen masih ingat saat dimana ia bertemu dengan Nafiya untuk pertama kalinya. Gadis kepang dua dengan kacamata bulat besar, bukan karna ia culun. Ia memakai itu karna mendapat hukuman dari seniornya karna datang terlambat.
Meski dapat hukuman seperti itu gadis itu tetap terlihat cantik dan berkelas, membuat sebagian dari seniornya menyukainya bahkan Galen sendiri sudah jatuh hati pada Nafiya.
"Nih." Galen memberikan botol minum pada Nafiya
Nafiya menatap Galen heran. "Sorry lo orang ke 10 yang ngasih gue minum. " ketus Nafiya sembari melangkah pergi dari hadapan Galen
Galen melihat punggung Nafiya yang semakin menjauh dari lapangan. Minuman yang seharusnya untuk Nafiya ia minum sendiri.
Pulang sekolah Galen tak langsung pulang ia berniat mengunjungi rumah sakit, mamah nya tengah di rawat. Di tengah jalan Galen bertemu dengan Nafiya tengah memaki-maki angin yang tak bersalah.
"Lagi ngapain? " tanya Galen sembari mebuka helmnya
"Lagi nguras danau pake sedotan nih, mau bantu? "
Galen terkekeh kecil. "Mau gue anter? Kebetulan kita searah. "
"Gak."
"Yakin? . "
"Hm."
"Dari pada lo jalan sendirian di tambah mataharinya lagi terik, ikut aja yuk. "
"Gue bilang enggak ya enggak! Budek lo ya? "
"Serius nih enggak? " tanya Galen meyakini
"Gue lempar pake batu lu ya. "
Galen tersenyum "silahkan kalo berani. "
Nafiya benar-benar mengambil kerikil jalanan dan melemparnya dan mengenai pelipis Galen. "Tuh gue berani sama lo. " ketus Nafiya sembari berjalan dengan langkah yang lebar
Bukannya marah Galen malah tersenyum saat pelipisnya berdarah.
Nafiya yang terus menolak pemberian atau ajakan Galen tak bisa membuat Galen menyerah begitu saja, hingga perlahan Nafiya mulai menerima kehadiran Galen.
KAMU SEDANG MEMBACA
peran pengganti (End)
De Todotransmigrasi karna sebuah kecelakaan seorang gadis harus ber transmigrasi ke dalam tubuh seorang gadis antagonis yang di penuhi masalah yang mengancam keharmonisan keluarga nya. Membuat nya bertekad untuk merubah semua alur cerita nya. Perlahan cer...
