Nafiya menarik napas panjang dan mengeluarkan nya pelan, sepertinya tubuhnya akan hancur berkeping-keping. Ia kabur dari pesantren membawa mobil sendiri dari jogja ke jakarta lalu di lanjut kekantor Ibra, setelah itu langsung berangkat kebandara untuk penerbangan dari Indonesia-Amerika. Setelah sampai pun Nafiya tak langsung ke hotel yang sudah ia pesan sebelum nya. Ia memilih mencari tau keluarga nya yang ada di Amerika secara diam-diam.
Tapi rasanya sia-sia karna semuanya sedikit tertutup, Ia sulit mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Ia masih menerka-nerka jawaban dari deary Nafiya.
di balik senyumnya yang ramah terdapat iblis kejam yang siap menghabisi siapa saja yang menghalangi nya, dia terus menatapku seperti akulah target yang sempurna untuk ia habisi.
Nafiya masih bingung maksud dari setiap kata itu. Dia? Dia siapa? Apa yang di maksud itu Aisyah? Entahlah dia benar-benar lelah untuk berpikir saat ini.
Nafiya berjalan ke arah ruang keluarga mini terdapat satu TV besar disana, Nafiya langsung duduk di sofa single dan menyalakan TV mencari chanel yang pas untuk ia tonton. Ia benar-benar bosan sebenarnya sampai ia tercengang sendiri saat melihat wajah seseorang yang familiar disana. Nafiya kaget dan langsung menegakan tubuhnya, setelah nya menambah volumenya agar terdengar jelas suara dari orang-orang itu.
Sebenarnya hanya acara TV swasta nasional. Namun yang membuat Nafiya tercengang itu salah satu tamunya yang begitu familiar, Nafiya meringis pelan sepertinya apa yang ia duga itu benar. orang itu sudah mempelajari ilmu jalangkung dimana Nafiya pergi disana pun dia akan ada meski tak benar-benar di hadapan nya. gus Arshya, Ia benar yang ada di televisi itu gus Arshya. Penampilan nya cukup berbeda di TV ia tak menggunakan kokoh ataupun gamis seperti biasanya melainkan baju kemeja biru dengan lengan panjang yang sedikit di lipat, ia juga tak memakai peci kebanggaan nya rambutnya hitam yang tersisir rapih.
Nafiya menggeleng samar saat ia mulai mengatakan gus Arshya itu tampan saat ini dalam hatinya, hey jangan sampai ketahuan ia memuji gus dingin yang hobby menghukum itu nanti dia akan terbang jika tau Nafiya sudah memujinya.
Nafiya langsung terpokus dengan apa yang mereka bahas. "Ternyata dakwah nya gak main-main yah ampe berani muncul di TV, keren juga ternyata dia. " kagum Nafiya setelah sadar apa yang ia ucapkan langsung menepuk bibirnya pelan. "Astagfirullah enggak, dia gak keren dih amit-amit yang ada. " kata Nafiya
"Menurut saya hijab itu di zaman sekarang tidak terlalu penting, lagi pula apa dengan memakai hijab akan terhindar dari rayuan syetan? " tanya bapak tua yang sudah beruban itu dalam bahasa Inggris.
Nafiya langsung kembali menatap layar TV dengan serius, wah sepertinya bakal ada perdebatan nih di acara. Pikir Nafiya
Gus Arshya memandang bapak tua itu sembari tersenyum hangat, Nafiya tertegun sejenak. Ia baru pertama kali nya melihat gus Arshya tersenyum hangat seperti itu,
"Ya ukhtana billahi la yagwhik dha sahyitoni,
(Wahai saudariku demi Allah jangan tergoda dengan rayuan sahyiton)
Inaal hijabba faridatun min robbinal mamnani
(Sungguh kewajiban hijab adalah perintah dari rabb yang maha memberi)
Inna samiena ukhtanak qoullal 'ujab
(Aku dengar saudari berkata hal yang aneh)
KAMU SEDANG MEMBACA
peran pengganti (End)
Randomtransmigrasi karna sebuah kecelakaan seorang gadis harus ber transmigrasi ke dalam tubuh seorang gadis antagonis yang di penuhi masalah yang mengancam keharmonisan keluarga nya. Membuat nya bertekad untuk merubah semua alur cerita nya. Perlahan cer...
