Gus Arshya merasa tak nyaman saat ini. Awalnya ia di ajak ustadz yusuf untuk membicarakan soal pesantren setelah pulang dari masjid namun ustadz yusuf izin sebentar untuk mengambil beberapa berkas yang harus di tanda tangani oleh gus Arshya, selagi menunggu gus Arshya memesan minuman di kantin.
Namun tak di sangka secara tiba-tiba ustadzah Icha datang duduk di hadapan gus Arshya sembari memesan beberapa makanan. Ustadzah Icha juga terus mengajak gus Arshya mengobrol namun tak di respon sama sekali oleh gus Arshya.
"Jadi bagaimana gus untuk usulan saya tentang acara ulang tahun pesantren? " gus Arshya hanya diam mengalihkan pandangannya
Maafkan saya Nafiya, saya tak pernah bermaksud untuk menyakiti hati mu atau menduakan mu. Sungguh saya benar-benar mencintaimu hanya dirimu tak ada wanita lain yang saya sayangi dan senangi selain dirimu dan anak kita. Batin gus Arshya
Ustadzah Icha menatap gus Arshya heran. Dan ketika tangannya hendak menyentuh tangan gus Arshya, gus Arshya langsung terkejut dan berdiri.
"Astaghfirullah." kaget gus Arshya, ustadzah Icha ikut berdiri dengan sama terkejutnya.
"Gus Arshya kenapa? " tanya ustadzah Icha khawatir.
"Yang boleh menyentuh saya hanya istri saya. Kamu tak ada hak untuk itu lagi pula saya sudah bilang jika ada keperluan tolong langsung laporkan pada ustadz Adam atau ustadz yusuf, maaf saya hanya menjaga perasaan istri saya. " tungkas gus Arshya
"Tapi gus Arshya, seorang laki-laki bisa menikah empat kali dan gus Arshya pasti paham betul tentang poligami. Saya mau menjadi istri kedua gus Arshya. " tegasnya terang-terangan. "Lagi pula bukannya ada hadist yang menyatakan 'Barangsiapa yang membenci sunnahku maka bukan termasuk golonganku.' apa gus Arshya membenci sunnah itu? "
Gus Arshya tersenyum tipis mendengar perkataan itu. "Saya tak pernah membenci sunnah nabi, masih banyak sunnah nabi yang perlu di lakukan di banding dengan poligami. Hadits itu bukan hanya bertujuan untuk berpoligami asal ustadzah tau. "
Ustadzah Icha mengepalkan tangannya kuat. "Saya mencintai gus Arshya lebih dulu. "
"Saya hanya mencintai wanita yang mahram bagi saya. "
"Apa baiknya Nafiya! Dia hanya wanita bar-bar tak pantas untuk bersama gus. "
"Siapa anda mengatakan seperti itu? Allah yang menyatukan kami, itu artinya allah mengatakan kami di takdirkan untuk bersama. "
Ustadz yusuf datang dengan raut wajah bingung menatap wajah merah gus Arshya, ustadz yusuf tau bahwasanya gus Arshya tengah manahan amarahnya.
"Assalamu'alaikum gus. " salam ustadz yusuf
"Wa'alaikumsalam, apa berkasnya ada? "
Ustadz yusuf mengangguk pelan. "Ada gus. "
"Kalo begitu ustadzah kami pergi dulu, assalamu'alaikum. "
"Wa'alaikumsalam."
*******
Gus Arshya melihat sekeliling rumahnya, tampak sepi dan sunyi tak ada teriakan Nafiya di pagi hari karna menyiapkan makanan untuk Meera dan dirinya.
Gus Arshya menghela napas ia sudah keterlaluan pada Nafiya. Seharusnya ia tak mengatakan itu jika saja ia bisa mengendalikan amarahnya, jika saja rasa cemburu dan rasa takutnya bisa ia pendam sedikit mungkin tak akan ada perselisihan antara dirinya dan Nafiya.
Ia tak melihat Nafiya ada di tempat itu sungguh gus Arshya hanya pokus dengan perintah uminya saja, dan soal ustadzah Icha yang ikut bersamanya kemarin bukan kemauan gus Arshya tapi hasil pemaksaan ustadzah Icha sendiri dengan alasan ia juga ingin membeli beberapa buku.
KAMU SEDANG MEMBACA
peran pengganti (End)
Randomtransmigrasi karna sebuah kecelakaan seorang gadis harus ber transmigrasi ke dalam tubuh seorang gadis antagonis yang di penuhi masalah yang mengancam keharmonisan keluarga nya. Membuat nya bertekad untuk merubah semua alur cerita nya. Perlahan cer...
