keromantisan Aisyah dan Nabi

6K 347 15
                                        

Kembang api terdengar di mana-mana,  Suara rabbani menjadi alunan musik yang indah beriringan dengan shalawat. Nafiya yang berdiri di dalam kamar nya saja mampu mendengar nya dengan jelas. Apalagi ia berada di dalam acara itu.

Nafiya penasaran dengan acara yang ada di luar rumahnya, ia berjalan melewati gus Arshya yang tengah duduk di ruang tamu. Setelahnya Nafiya kembali masuk ke dalam kamar namun beberapa menit kemudian Nafiya kembali melihat ke arah luar melewati gus Arshya yang tengah menatapnya dan kembali masuk kedalam kamarnya.

Nafiya melakukan itu berulang kali sampai gus Arshya yang melihat nya bingung. Gus Arshya berjalan ke arah kamarnya dan melihat Nafiya yang tengah duduk di bibir kasur dengan raut wajah yang tak bisa di duga.

Gus Arshya duduk di samping Nafiya, memeluk istrinya dari samping dengan salah satu tangannya mengusap lembut perut buncit Nafiya. "Sayang. Kamu mau lihat acaranya? " tanya Gus Arshya lembut tepat di telinga Nafiya

Nafiya awalnya diam sejenak dengan bibir yang di tekuk ke bawah. "Emang boleh? " tanya Nafiya balik

Gus Arshya tersenyum manis mengecup pipi Nafiya pelan dan bangun dari duduknya. "Boleh sayang. Yuk mas temani. " ucap Gus Arshya tangannya ter ulur ke depan membantu Nafiya bangun. Nafiya tersenyum hangat menerima uluran tangan Gus Arshya dan bangun dari duduknya.

Nafiya dan Gus Arshya berjalan berdampingan dengan bergandengan tangan sesekali Nafiya akan memeluk dan bersandar di lengan Gus Arshya.

Nafiya dan Gus Arshya melihat acaranya di depan rumah saja tapi meski begitu banyak orang yang berkerumun bahkan ternyata banyak santri yang berada di acara itu.

Nafiya berdiri di samping Gus Arshya tapi dengan bangku sebagai pijakannya berbeda dengan Gus Arshya yang berdiri tanpa pakai pijakan bangku sama sekali. Gus Arshya tersenyum saat melihat istrinya tengah tersenyum bahagia melihat acara itu. Nafiya bersandar di pundak Gus Arshya dengan pipinya dan pipi Gus Arshya menempel.

Lengannya masih setia memeluk lengan Gus Arshya. Mata Nafiya berbinar saat melihat keramaian meski Nafiya tak terlalu suka keramaian tapi entah mengapa semenjak mengandung terkadang Nafiya suka dan tak suka keramaian.

"Eh lihat deh ning Nafiya dan Gus Arshya. " ucap salah satu santri yang sadar kehadiran Nafiya dan Gus Arshya.

"Mana? Ih kok sweet banget. "

"Iya ih jadi keinget kisah Nabi sama istrinya Aisyah. "

"Iya ih sama lagi begini, jadi pengen juga. "

"Husstttt.... Jangan kenceng-kenceng nanti ketahuan. "

"Coba aja di pondok bisa bawa HP udah aku potoin mereka berdua soalnya sweet banget. "

"Liat Ning Nafiya senyumnya manis banget, "

"Gus Arshya juga keliatan bahagia banget lagi. "

"Iyalah siapa sih yang gak bahagia kalo pipinya di tempelin pipi pasangannya mana di peluk manja pula. "

"Aduh ning Nafiya sama Gus Arshya sadar gak sih disini banyak yang jomblo. "

"Udah ih jangan ngomongin ning Nafiya sama Gus Arshya mulu mending pokus sama acaranya. "

Gus Arshya melirik Nafiya menggunakan ujung matanya sembari terkekeh kecil. "Istriku sudah puas menonton nya? " tanya Gus Arshya pelan. Nafiya mengerucutkan bibir nya sembari merengek manja

Gus Arshya kembali menatap depan dan membiarkan Nafiya menonton pertunjukan nya kembali, selang beberapa menit kemudian Gus Arshya kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama dan di jawab dengan jawaban yang sama pula oleh Nafiya.

peran pengganti (End) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang