Rutinitas wanita yang sesekali maaih turun tangan untuk membantu kelas jika guru pengampu pelajaran berhalangan hadir itu, sangat padat. Hari ini contohnya, sejak pagi ia berpindah dari satu kelas ke kelas lain untuk menggantikan guru mapel bahasa Indonesia yang absen.
Satu guru tengah dirawat di rumah sakit, satu guru cuti melahirkan, dan satu guru lain cuti menikah, hingga tak ada pengampu pelajaran bahasa Indonesia.
"Miss Laura, jaman dulu sudah ada kalimat gombal belum sih?"
"Gombal? Kain bekas?" tanya Laura sok bodoh.
"Bukan itu, Miss. Gombalan kayak itu loh kalau saya lagi ngerayu ayank gitu, Miss."
Sorakan murid yang lain membuat gaduh suasana kelas. Laura menanggapunya dengan santai.
"Hmm ... I'm not sure, tapi mungkin ada. Saya dulu terlalu sibuk belajar, sampai tidak memperhatikan tentang perkembangan rayuan cinta."
Suara berisik dari obrolan beberapa murid terdengar seperti lebah. Mereka mengomentari ucapan Laura dengan teman sebangku mereka.
Di saat yang bersamaan, suara penanda berakhirnya mata pelajaran terdengar. Wajah-wajah yang sudah lelah itu terlihat lega. Waktu sudah menunjukkan pukul lima belas tiga puluh. Dan tanpa ba-bi-bu, tak lebih dari lima menit semua sudah siap merapikan tasnya, berdoa bersama kemudian mengucap salam perpisahan dan terima kasih pada Laura.
Satu persatu dari mereka keluar dari kelas. Rapi dan sangat tertib, bergantian menyalami Laura sebagai tanda takdim.
Tanpa wanita itu sadari, sejak lima belas menit lalu ada seseorang menunggunya di luar. Memperhatikannya berinteraksi dengan murid-murid.
Saat Laura melangkah keluar, sosok tegap itu pun tampak jelas di matanya.
"Mas? Ngapain di sini?"
Pria berjaket hitam dengan kaos putih dan celana lapangan hitam itu malah mengalihkan topik. "Apa diijinkan berbohong saat mengajar?"
"Ha? Berbohong? Maksudnya apa?" Laura bingung.
"Jawabanmu tadi. Saya dulu terlalu sibuk belajar, sampai tidak memperhatikan tentang perkembangan rayuan cinta. Pencitraan sekali, Bu Guru. Padahal jelas-jelas ketika kita duduk di bangku yang sama dengan mereka saat ini, kamu selalu aku hujani dengan rayuan cinta kan?"
Laura memelototkan matanya. Ia menarik tangan Salman untuk menjauh dari sana.
"Jangan bicara aneh-aneh! Kalau muridku dengar bagaimana?"
Salman terlihat santai. "Begitu itu kalau berbuat salah. Takut kan rasanya? Takut ketahuan. Kenapa tidak kamu ceritakan saja aslinya bagaimana."
Laura tidak menjawab sampai ia masuk ke dalam ruang kantornya yang berada di antara unit empat unit tingkat pendidikan di yayasannya.
"Nggak semua hal harus kita ceritakan, Mas. Aku nggak mau anak-anakku meniru kesalahanku. Aku nggak mau mereka terluka karena cinta semu. Toh, memang pacaran itu nggak boleh. Haram. Cukup stop di aku aja."
Salman duduk tanpa dipersilakan. Ia mengamati ruangan sekeliling milik sang mantan kekasih. Ada jajaran foto Laura dengan para staff, para siswa berprestasi, dan juga putranya, Nathan ketika wisuda.
"Eh iya. Mas mau ngapain ke sini?" Laura bertanya lagi tentang alasan Salman datang tanpa berkabar terlebih dulu.
"Jemput kamu. Ada yang mau aku bicarakan."
Laura mengamati ekspresi Salman. Terlihat sangat serius. Wanita itu pun tidak menyiakan waktu. Dia segera memberesi barangnya dan mengambil kunci mobil miliknya.
"Aku yang nyetir."
"Kamu nggak bawa mobil atau motor?"
Salman menggeleng. "Tadi bareng sama Iqdam ke sini."
Laura mengembus napas. "Namanya sih nggak jemput tapi nebeng pulang."
Salman tak merespon. Ia terlalu serius dengan apa yang sedang dipikirkan. Sembari mengenakan kacamata hitam miliknya.
Pria yang masih terlihat tampan dan penuh wibawa itu cukup menarik perhatian beberapa warga sekolah yang belum pulang. Laura pun sama, menyembunyikan wajahnya dibalik masker ketika menuju ke arah parkiran mobil.
Beberapa orang menyapa keduanya bergantian. Dari belakang, Laura mengekor Salman. Tubuh kekar itu jauh lebih menarik dari pada penampilan sang pria dua puluh tahun lalu.
Mas, Mas, makin tua kamu malah makin bagus badannya. Ya Allah, seganteng ini ternyata mantanku, batin Laura.
Salman dengan santainya menekan remote dan membukakan pintu untuk Laura. Perlakuan sederhana itu cukup membawa si wanita terbawa perasaan.
Tidak lama, Salman menyusul naik ke dalam mobil. Keduanya pun melaju membelah jalanan sore yang padat.
"Mau ke mana sih?" tanya Laura saat menyadari jika arah yang dituju Salman berbeda dengan arah jalan ke rumah mereka.
Salman tidak menjawab hingga sampai di area alun-alun kota dan memarkirkan mobilnya di sana. Tanpa mengajak Laura turun, Salman memulai pembicaraan.
"Ura, ayo pengajuan."
Laura menatap wajah pria berkacamata hitam itu dengan seksama. Ia bisa melihat pantulan ekspresi wajahnya yang kebingungan.
"Pengajuan?"
Salman mengangguk. Ia melepas kacamatanya. "Kita nikah."
Laura tidak berkedip selama beberapa detik. Ia berusaha mencerna kata-kata Salman. "Nikah?"
Salman mengangguk. "Ya. Nikah."
"Mas ... kenapa mendadak?"
"Kita sudah sama-sama tua, Ura. Apa iya kita harus penjajakan lagi? Anggap saja ini realisasi impian lama kita dulu. Dua puluh delapan tahun lalu."
Tidak bisa dipungkiri, Laura begitu bahagia saat ini. Namun, semuanya sangat mendadak.
"A-aku harus ngapain kalau gitu?"
"Aku kirim datanya, apa-apa yang harus kamu lengkapi. Karena orangtuamu udah nggak ada semua, jadi aku bakal ke rumah Om kamu. Setidaknya aku tetap minta ijin untuk menikahimu."
Laura terdiam, menyembunyikan buncah rasa bahagianya. Ia tidak bisa menahan lagi jika sejujurnya dirinya begitu nyaman kembali berdekatan dengan Salman.
"Tapi anak-anak?"
"Justru anak-anak yang maksa aku buat segera halalin kamu. Alma dan Nathan sama-sama memaksaku untuk segera melangkah. Jadi, mereka pasti akan senang kalau apa yang mereka inginkan terwujud. Lagi pula aku tidak mau dianggap tidak bertanggung jawab karena sudah mengajakmu bermalam di luar tempo hari."
Laura mengangguk-angguk. Jemarinya terulur. "Aku janji nggak akan nyakitin kamu lagi. Apalagi ninggalin kamu. Aku bakal bayar semua kesakitan yang pernah aku kasih ke kamu, Mas. Aku janji."
Begitu tulus Laura berucap, tetapi Salman hanya merespon sekedarnya. Ia kembali melajukan mobilnya. Salman, mengambil langkah ini hanya untuk menjaga nama baiknya dan membuktikan jika dirinya bukan laki-laki tidak baik seperti yang dituduhkan sang putri padanya karena mengajak Laura pergi tanpa adanya ikatan sebelumnya.
Laura tidak tahu jika perasaan yang ia miliki tidak berbanding lurus dengan perasaan Salman. Dulu keduanya memang saling mencintai, sebelum akhirnya Laura pergi dan menikah dengan orang lain. Namun sekarang semua berbeda. Cinta itu kembali mekar di hati Laura, tetapi tidak di hati Salman.
✨✨✨✨✨✨✨✨
Hai semuaaa
Lanjut nggak?
Mau bilang apa ke om salman?
KAMU SEDANG MEMBACA
Selaksasmara
RomanceSetiap manusia pasti punya kisah asmara. Ada puluhan ribu kisah di luar sana. Kegagalan dalam satu hubungan, tak berarti penghakiman jika kita tak berhak bahagia. Setiap insan akan menjadi RATU dan RAJA dalam mahligai yang tepat. Kadang, kita harus...
