"Hacker baru?"
"Iya, Bro Man."
Alis pelindung netra pria bernama Salman itu mendadak tertaut.
"Safe kok Bro. Dia temenku kok. Emang freelancer. Junior Bang Yus," bisik Egi.
"Datanya." Salman tak begitu saja percaya.
Egi sudah siap data. Meski hanya sekejap mata ia tampakkan pada sang atasan.
"RF ... Rajendra Faisal. Bisnismen. S2 ekonomi bisnis," gumam Salman setengah berbisik.
"Baru aja nikah, istrinya sedang hamil. Tapi katanya sih istrinya sakit juga, Bro. Jadi, selama beberapa minggu ini dia tinggal di rumah sakit. Di Jogja. Menurut Brother Eza, dia itu cucu dokter Faisal yang punya rumah sakit swasta di sana."
"Istrinya aman kan? Dia tidak membahayakan, kan?"
Egi mengangguk. "Aman. Menurut laporan tim curut, dia tinggal dengan neneknya sebelum pindah ke Solo. Tapi setelah menikah mereka pindah ke Jogja. Ayahnya sudah meninggal, ibunya menikah lagi. Hubungannya dengan ibu kandungnya tidak baik. Mereka putus kontak sejak lama. Waktu menikah pun dinikahkan wali hakim."
Salman mengangguk-angguk. "Oke, kali ini aku percaya. Tapi, secepatnya buat jadwal bertemu dengan dia. Kita harus tetap bertemu langsung. Pekerjaan ini bukan sembarangan."
Egi mengacungkan jempol. Di saat bersamaan, Alma muncul bersama dua rekannya, Nuansa dan Queen.
"Seberat itu tugasmu, Nu?"
"Tidak ada yang berat kalau dijalani dengan ikhlas, Queen."
Senyum Nuansa tercetak sempurna. Egi mendadak membenahi letak kerahnya. Salman menaikkan satu alis. Ia paham gelagat juniornya yang memang terkenal sebagai buaya terselubung itu.
"Jangan main-main sama putri kyai kalau nggak mau kena tulah," tukas Salman.
"Saya nggak main-main, Bro Man. Cuma gemes aja, kok ada cewek nggak tertarik sama saya."
Salman hampir memukul kepala Egi dan kali jni Egi tak kalah gesit. Ia menghindar.
"Hmm, mulai. Inspektur Ladhu Singh sama Jelaram, bertengkar lagi," sindir Alma.
"Lah, Siva dong. Jangan panggil aku anak kecil paman," sahut Queen.
Egi mendadak tengsin karena diejek oleh Alma.
"Nona Bos ngadi-ngadi. Ya kali, abang ganteng gini dikatain Jelaram. Aku kembaran Jeno NCT tau!"
"Heleh, Jeno NCT segala dibawa-bawa. Bias aku itu! Gondrong kek Jenglot aja ngaku-ngaku kayak Jeno." Queen tak terima.
Alma dan Salman terbahak. Namun, berbeda dengan si sholiha Nuansa.
"Astagfirullah, Queen. Nggak baik kayak gitu. Kak Egi kan manusia. Sholih. Masak disamain sama makhluk kayak gitu. Naudzubillah. Nggak baik ngejek orang," bela Nuansa.
Bukan. Bukan karena Nuansa menyukai Egi. BUKAN. Namun, memang karena begitulah Nuansa. Gadis sholiha yang tak pernah tinggi nada bicaranya. Selalu tunduk pandangannya. Tak banyak bicara dan tertawa ketika bersama yang bukan mahramnya.
"Masyaa allah, Nuansa Bening Qurotu'aini, adem banget ya." Egi berkomentar.
"Emang ahli Jannah sama tukang onar beda ya," lanjutnya.
Queen paham jika Egi menyindirnya. "Wah, lagi curhat ya, Bang? Tau aja Nuan ahli surga kamu tukang onar."
"Queen, udah dong. Kak Egi, maaf ya, temenku bercanda kok. Beneran. Maaf ya, jangan salah paham ya?" Nuansa meluruskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Selaksasmara
RomantiekSetiap manusia pasti punya kisah asmara. Ada puluhan ribu kisah di luar sana. Kegagalan dalam satu hubungan, tak berarti penghakiman jika kita tak berhak bahagia. Setiap insan akan menjadi RATU dan RAJA dalam mahligai yang tepat. Kadang, kita harus...
