Tiga gadis cantik yang kini duduk di jok tengah, menikmati perjalanan sambil berbicara ke sana ke mari.
"Siapa ya yang ngirim chat kayak gitu? Apa mungkin mami kandungmu?"
Queen curiga. Alma mengendikkan bahu.
"Kamu tahu nggak alamat tempat ayahmu nginep? Kata abangku ayahmu itu pulang ke rumah tiap habis dinas."
"Aku udah coba lacak. Aku minta bantuan Bang Egi tadi. Dia nemu koordinatnya. Dan, udah aku kasih ke Pak Eko."
Alma menunjuk ke arah layar peta elektronik yang berada di dashboard mobil mewah milik Queen.
"Jadi, kita langsung ke sana?"
"Enaknya gimana?"
"Mampir masjid dulu, salat dhuha dulu yuk?" ajak Nuansa.
Alma dan Queen yang berapi-api, mendadak terguyur air es. Namun, itulah mereka. Satu gadis barbar, satu gadis tomboy, dan satu gadis saliha jika sedang bersama, saling melengkapi.
"Oke deh, kita salat dulu. Pak Eko, kita mampir masjid dulu ya? Eh iya, habis ini bapak langsung pulang aja nanti kami jalan-jalan sendiri. Pulangnya dijemput sama kakaknya Nuan."
"Siap, Non."
Setelah mampir ke masjid terdekat dari titik tujuan, Pak Eko menghentikan mobil kembali di perumahan elite dimana lokasi rumah yang diperkirakan di tempati oleh Salman selama di Jogja.
"Non, beneran turun di sini?" Pria itu tak yakin.
"Iya, Pak. Tenang aja. Bapak pulang aja atau mau istirahat dulu di rumah Kaliurang, silakan." Queen berkata ramah pada sopirnya.
Pria itu akhirnya menurut. Tiga gadis di sana mencari rumah bernomor 7 sesuai dengan titik yang didapat oleh Alma dari Egi.
"Yang itu kan ya?"
Pos sekuriti kosong, tiga gadis tadi tak bisa bertanya pada siapapun karena komplek di sana sepi di jam kerja.
"Eh, eh, itu ada orangnya keluar. Itu ayahmu kan?" Queen menunjuk ke arah laki-laki berkaos hitam yang kini tengah tertawa bersama dua orang wanita.
Alma menghentikan langkahnya. Queen dan Nuansa ikut diam.
"Sini dipangku ayah, mami suapin."
Wanita yang lebih muda terlihat begitu senang.
"Yeeeey!" Pekikny girang.
Salman terlihat gemas dan beberapa kali mengecup puncak kepala putri sulungnya.
"Seneng banget sih, hmm? Dasar manja, kesayangan ayah."
Ucapan Salman terdengar di telinga Alma. Entah kenapa ia tidak suka dengan hal itu.
"Iya dong, aku emang kesayangan ayah dan mami kan?"
Wanita yang tengah memegang piring itu terkekeh. "Iya, cuma kamu yang kami sayang. Nggak ada yang lain. Cuma Salwa Maura Kanaya, putri kesayangan kami. Ya kan, Ayah?"
Salman mengangguk. Mendengar hal itu, Alma tidak tahan lagi. Ia pun memaksa masuk lewat gerbang yang terbuka separuh.
"Apa ini tugas penting yang Ayah emban sampai lupa ninggalin anak di rumah sendiri?"
Pertanyaan itu membuat Salman dan dua orang lain terkejut.
"Alma?"
Salman jelas terkejut mendapati putri bungsunya di sana.
"Lima hari aku nggak tidur. Aku terus berpikir tugas negara macam apa yang membuat Ayahku, laki-laki yang tidak pernah bisa lepas dari aku sama sekali nggak kasih kabar. Dan ternyata ini jawabannya? Kenapa Ayah nggak bilang aja?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Selaksasmara
Storie d'amoreSetiap manusia pasti punya kisah asmara. Ada puluhan ribu kisah di luar sana. Kegagalan dalam satu hubungan, tak berarti penghakiman jika kita tak berhak bahagia. Setiap insan akan menjadi RATU dan RAJA dalam mahligai yang tepat. Kadang, kita harus...
