Jika tiga gadis sudah bersatu, maka jangan harap tak ada ghibah di sana.
"Jadi, gimana kabarnya tuh dosenmu?"
"Sejauh ini aman sih. Rada resek tapi baik. Cuma terlanjur tengsin aja gitu. Soalnya awal perkenalan kami tuh nggak banget. Sumpah malunya ampe ubun-ubun."
Alma bercerita. Queen dan Nuansa terkikik mendengarnya.
"Kalau kamu gimana Nu? Ada yang cakep nggak di jurusanmu?"
"Mm ... Nggak tahu," jawab Nuansa.
Mahasiswi jurusan pendidikan agama islam itu menjawab jujur.
"Aduh Nuansa, jangan bilang lu nggak pernah liat muka temen lu satu-satu?" tebak Queen.
Nuansa meringis. "Kalian kan tahu, selain muka keluargaku, aku cuma hapal muka kalian, muka Om Salman, sama muka Kak Egi. Selain itu aku nggak pernah liat orang dengan seksama."
Queen mencubit gemas pipi Nuansa. Si bontot itu memang terlalu polos dan menggemaskan.
"Ya Allah, Nuan. Pengen deh sekali-kali nyulik kamu terus aku masukin ke night club biar hidupmu penuh warna gitu." Queen berbicara asal.
"Emang night club teh ada yang jual pewarna hidup?"
Netra bulat itu mengerjap-ngerjap. "Ya Allah Gusti Pangeran, bolehkah aku menggigit pipi sahabatku yang polos ini untuk meluapkan kegemasanku padanya?" teriak Queen.
Ucapan Queen ternyata didengar oleh sosok yang berjaga di luar.
"Jangan gigit pipi adikku lagi, Shaqueena Eleganza! Awas kalau sampai kamu aniaya dia, aku laporin abangmu kalau minggu lalu kamu kabur lewat jendela buat jajan mie malem-malem di mini market padahal tipesmu lagi kumat."
Ancaman dari kakak kandung Nuansa membuat Queen menelan ludah.
"Heh, nggak usah ngancem ya. Mas pikir aku berani? Kagak lah!" ucapnya.
Alma dan Nuansa tertawa. Jika sudah mendengar Queen berqdu argumen dengan kakak Nuansa, Kalandra.
"Kenapa sih kakakmu harus sohiban sama kakakku yang paling ngeselin? Masih mending kalau dia itu temennya kakakku yang pertama, kedua, ketiga, keempat, mereka nggak ember. Nah kalau kakakku yang di atasku pas tuh, hmm ... kalian tahu kan speknya gimana. Mulutnya lemes banget kek cewek."
"Kayak kamu," ucap Nuansa sembari terkikik.
Alma membenarkan hal itu.
"Mau lapor sendiri atau dilaporin, Nona Shaqueena?" teriak Kala dari luar.
"Ah brisik deh, Mas!" teriak Queen sembari membuka jendela kamar Alma lebar-lebar.
"Udah diem di situ, ngeronda. Jagain kami bertiga. Oke? Diem tuh ngopi ama nyamuk."
Kala terkejut karena tiba-tiba kepala adik sahabatnya itu muncul.
"Ya udah sana, pada tidur. Nggak usah ghibah mulu. Ngaji kek, lalaran kitab kek, hapalan Quran kek, sholawatan kek. Malah nggibah mulu. Nuan, awas kalau kebanyakan ghibah nanti Mas laporin Abah kamu."
Nuansa mendadak takut. "I-iya Mas. Ampun."
Kala segera menutup kembali jendela saat melihat motor trail hitam milik salah seorang anggota kepolisian terhenti di samping motornya.
"Assalamualaikum," sapa Kala sembari tersenyum.
"Wa alaikumussalam," jawab sang pria yang mengenakan kaos dan celana lapangan itu setelah melepas helm full facenya.
Keduanya bersalaman.
"Mas Kala free malam ini? Nggak ngisi pengajian?"
Kala tersenyum sembari menggeleng. "Demi Nuan, kosongin jadwal dulu. Sebulan ini dia nggak ke mana-mana, kemarin dia ngerengek pengen nginep di sini. Ya sudah kebetulan Om Salman kasih kabar kalau beliau dinas luar kota, sekalian saja bantu temenin di sini. Bang Egi nggak tugas di kantor kah?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Selaksasmara
रोमांसSetiap manusia pasti punya kisah asmara. Ada puluhan ribu kisah di luar sana. Kegagalan dalam satu hubungan, tak berarti penghakiman jika kita tak berhak bahagia. Setiap insan akan menjadi RATU dan RAJA dalam mahligai yang tepat. Kadang, kita harus...
