Bab 19. Brokenheart

236 21 0
                                        


Suntuk rasa, menyerang dua dara yang kini tengah duduk berdua di ayunan.

"Nu, aku sedih. Aku kecewa sama ayahku."

Nuansa menoleh, menatap sahabatnya. "Kenapa?"

"Bisa-bisanya ayahku lengah. Ayah sama Bunda Laura ...."

"Al, ألإِنْسِانُ مَحَلُّ الخَّطَاء وَالنِّسْيَان
Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Tidak ada yang sempurna."

"Tapi aku kecewa. Mereka melanggar syariat loh. Padahal ayah sendiri selalu nyeramahin aku ini itu. Aku tuh kayak ngerasa, ayah ngomong doang. Ayah nggak bisa kasih contoh. Aku kayak patah hati, Nu. Kamu paham nggak sih? Aku tuh kayak ngerasa diselingkuhin aja gitu. Selama ini aku pikir ayahku cuma punya aku dan diam-diam ternyata ada hati lain di luar sana. Aku kecewa, Nu."

Alma menangis. Nuansa turun dari ayunannya. Ia memeluk sang sahabat.

"Al, kamu terlalu posesif sama ayahmu. Ya, wajar sih. Cinta pertama anak perempuan itu memang ayahnya. Aku pun lengket sama abah. Pas abah dijodohkan sama Ummi Ilma, aku juga rada nentang. Tapi, akhirnya mataku terbuka. Ummi baik banget ke abah, aku, dan Mas Kala. Semua butuh waktu Al. Kamu hanya butuh berdamai dengan hal itu. Jangan biarkan setan menunggangi pikiranmu."

Nuansa mencoba membuka pikiran sang sahabat. Ia paham betul kekecewaan Alma.

Suasana taman bermain di area komplek tempat tinggal Alma itu cukup sepi. Jam-jam ini, adalah jam di mana seharusnya orang sudah beraktifitas.

Namun, kosongnya jam kuliah pagi ini membuat Alma semakin gabut hakiki.

"Duh, manisnya berduaan aja nih, Neng? Pelukan kok sama-sama cewek. Sini sama akang."

Nuansa dan Alma menoleh ke arah yang sama. Tiga orang berpakaian cukup nyentrik entah sejak kapan berada di sana.

Alma mengusap air matanya dan segera beranjak. "Nu, cabut," bisik Alma.

Nuansa paham. Ia segera mengambil tasnya yang masih ada di ayunan. Namun, salah satu dari tiga orang di sana menghalangi.

"Eh, eh, bentar dong. Sombong amat ditemeni malah kabur."

"Maaf, Pak. Anda tidak sopan menyentuh barang orang sembarangan." Nuansa memperingatkan.

Perkataan Nuansa ternyata memancing kekesalan si penghalang.

"Heh, cupu. Sok-sokan jilbab gede. Paling tempel dikit juga minta lagi. Sok suci lu. Kedok aja pake jilbab. Padahal orderannya paling kenceng."

Alma terpancing karena sahabatnya dilecehkan. "Tolong jaga mulutnya ya!"

Nuansa menarik tangan Alma, mengajaknya lari dari sana. Baru beberapa langkah keduanya lari, tiga pria itu mengejar mereka.

"Heh! Mau ke mana?"

Alma berhasil membela diri, karena jelas dirinya sudah dibekali dengan latihan cukup keras dari sang ayah sejak kecil. Sementara Nuansa, dia adalah si anak sholihah yang pasrah pada Tuhannya.

"Bawa yang itu aja!" Putus salah satunya.

Dan, Nuansa-lah yang menjadi korban. Alma berusaha menyelamatkan Nuansa tetapi dirinya terkena serangan di bagian perut hingga membuatnya limbung dan terjatuh.

Satu tombol di jam yang ia kenakan pun ia tekan.

"Ayah! Nuan dibawa pergi orang! Tatto Kambing."

Alma berusaha segera bangkit, meraih tas Nuansa untuk mencari kunci dan berjalan menuju motor Nuansa.

****

"Sial!" umpat Salman reflek.

"Kenapa, Bro?"

SelaksasmaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang