Kalandra memarkirkan mobil putih miliknya di pelataran sebuah masjid. Tiga orang di dalam mobil masih tertidur pulas. Hanya Queen dan Kalandra yang terjaga dan memutuskan untuk turun menunggu maghrib tiba.
"Santri-santri hari ini aman?" tanya Queen.
Pria yang tengah mengabadikan moment di area samping halaman masjid menjawab tanpa menoleh.
"Aman. Sesaji mereka masih banyak jadi nggak rewel."
Suara tawa Queen terdengar pelan. Bahasa yang digunakan Kalandra cukup menggelitik.
"Gus... kenapa ada ibu yang jahat pada anak kandungnya sendiri? Bukannya ibu harusnya adalah orang yang paling sayang sama anaknya?"
Kalandra memberanikan diri sedikit melirik sosok di sampingnya.
"Tidak ada yang sempurna selain Allah. Jangan heran kalau hanya melihat keanehan dari makhluk-makhluk Allah. Karena memang tidak ada yang sempurna."
Queen mengembus napas. "Tapi Gus Kala sempurna," cicitnya.
Bukannya salah tingkah, Kalandra malah tertawa. "Kalau saya sempurna, saya tidak akan berdiri sedekat ini dengan wanita yang bukan mahram saya."
"Gus jangan pakai saya anda doooong! Kaku banget tahu!"
"Sengaja, biar mengimbangimu yang ber-Lu Gue."
Lagi-lagi, Kalandra menjawabnya dengan santai. Ia menjepret ke sana ke mari, menuntaskan gelitik rasa akan hobi fotografinya.
"Gus, fotoin dong."
Kalandra menggeleng.
"Kamu bisa selfie kan? Kamu biasa selfie kan? Ngapain minta foto. Taruh saja kameramu di sana, kamu pose di sini."
Queen mengembus napas kesal. "Ih, nyebelin banget sih jadi orang. Mau maki-maki tapi takut kualat," gerutu Queen.
Kalandra menyimpan senyumnya. Ia hanya bisa mengelus dada melihat tabiat adik sahabatnya sekaligus sahabat adiknya itu.
Dengan rasa kesal, Queen akhirnya memasang kamera di tripod yang memang berdiri tak jauh dari ke duanya. Ia ingin mengabadikan moment matahari tenggelam yang begitu indah dari halaman masjid yang memang letaknya di atas bukit.
Beberapa foto sudah diambil Queen. Hingga Kalandra bersuara. "Maju sedikit, duduk di situ."
"Ih, ngapain sih? Disuruh fotoin nggak mau, pake sok-sokan ngatur."
"Percaya sama saya. Duduk di sana, hadap kanan."
Queen akhirnya menurut ia bersandar pada tembok setelah menyetel timer kameranya. Kalandra bersandar di dinding yang lain.
"Hei, ngapain? Prewed?"
Suara Nathan terdengar dari arah parkiran mobil. Queen dengan santai menyahut.
"Iya dong. Jangan lupa dateng ya ke kondangan kami. Sorry ya Koh, kami duluan. Soalnya kami sat set das des wat wet."
"Mulutnya," komplain Kalandra.
Queen menyibak rambutnya. "Kenapa mulutku? Manis tahu. Mau coba?"
"Astagfirullah. Kamu mau saya laporin ke kakakmu?"
Mendengar kata kakak, jelas nyali Queen menciut. Bagaimana tidak, empat kakaknya luar biasa garang jika sudah berbicara mengenai norma dan etika.
"Ja-jangan. Maaf." Queen tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya.
"Perempuan itu makhluk terhormat. Dan kehormatannya, salah satunya ada di tutur katanya. Jadi, coba perbaiki satu hal itu."
Ucapan Kalandra memang seperti kata-kata biasa tetapi entah kenapa Queen merasa tersentil. Ia sejatinya bukan orang seperti itu jika di rumah, dan Kalandra paham betul.
KAMU SEDANG MEMBACA
Selaksasmara
RomansSetiap manusia pasti punya kisah asmara. Ada puluhan ribu kisah di luar sana. Kegagalan dalam satu hubungan, tak berarti penghakiman jika kita tak berhak bahagia. Setiap insan akan menjadi RATU dan RAJA dalam mahligai yang tepat. Kadang, kita harus...
