16

5.4K 458 5
                                        


Tiga hari telah berlalu sejak pembicaraan jaemin di taman belakang dan pria Na itu juga tak pernah mengungkit hal itu lagi, dia membiarkan renjun dan memberikan waktu untuknya saat ini.

Seperti saat ini terlihat renjun tengah membantu taeyong membakar daging karena mereka mengadakan barbeque dadakan untuk merayakan jaehyun yang telah keluar dari rumah sakit kemarin. Hanya mereka saja. Sedangkan para maid telah disuruh menyelesaikan pekerjaan mereka lalu pulang dan kembali besok pagi, yang tersisa hanya bibi kang juga para bodyguard yang berjaga. Chenle bahkan tengah bersama dengan ayah dan kakeknya.

"Renjun?"

"Iya imo?"

"Apa kau sudah memutuskan untuk mencari pendamping nak? Seperti yang aku tau kau sudah lama sendiri. Apa masih sangat sulit?" Renjun hanya diam menatap taeyong.

"Mianhe, aku bukan mau ikut campur nak, tapi aku sudah menganggapmu sebagai anak kandungku sendiri, apalagi kau sangat mirip dengan seseorang yang sangat aku sayangi dan orang itu sudah berpulang 15 tahun yang lalu."

"Tidak apa imo, dan mengenai ucapan imo tadi, aku juga ingin berdamai dengan masa lalu tapi aku merasa tak pantas mendapatkan siapapun imo, aku benar-benar benda rusak, bahkan mantan suamiku saja mencampakkan ku hingga aku kehilangan anakku." Ucap renjun meneteskan airmatanya begitu saja.

"Hei, siapa yang mengatakan kau benda rusak sayang? Justru yang harusnya menyesal adalah mantan suamimu itu, karena dia mencampakkan orang sebaik dirimu. Kau pantas sayang, bahkan orang yang pada akhirnya berhasil membawamu bersama dengannya dan membahagiakanmu akan sangat beruntung sepanjang hidupnya sayang. Kau sangat baik dan pantas bahagia." Ucap taeyong sembari menggenggam tangan renjun dan diapun menghapus airmata renjun.

"Kalau kau tak percaya dengan dominan manapun, apa tak bisa kau percaya pada anakku renjun. Bukankah kau sudah mengenalnya selama 15 tahun? Masa lalu kalian sama dan kalian di pertemukan oleh takdir, bukankah itu hal yang harus di perhitungkan? Ditambah kalau aku boleh jujur renjun, cucuku menuruni sifatmu bahkan wajah kalian mirip, kau seperti ibu kandungnya, bahkan ikatan batin kalian juga erat, kau tau sejujurnya aku dan suami ku selalu berharap jaemin akan menjadikanmu istrinya dan hidup bahagia Dengan keluarga utuh bersama chenle, tapi aku tak mau egois untuk memaksakan keinginanku nak." Ucap taeyong. Renjun hanya diam saja sembari menatap taeyong dan diapun memeluknya.

"Maafkan saya imo hiksss..."

"Sssttt, aku mengerti nak. Jangan menangis lagi. Nanti kalau chenle sadar dia akan marah padaku. Dia sangat menyayangimu nak." Ucap taeyong dan renjun hanya menganggukkan kepalanya saja.  Jaemin yang akan ke toilet melihat ibu dan asistennya berpelukan lalu mendekat.

"Ada apa ini?"

"Ah, tidak ada jaem, renjun hanya merasa sedikit sakit kepala saja." Ucap taeyong berbohong karena merasakan pelukan renjun mengerat padanya.

"Mau saya bantu kembali ke kamarmu?" Ucap jaemin datar tapi tatapannya sangat panik dan taeyong bisa merasakan kepanikan itu.

"Tidak perlu jaem, kau mau kemana?" Ucap taeyong sembari mengelus kepala renjun.

"Toilet."

"Pergilah ke toilet, biar mommy yang membawa renjun duduk disana dulu."

"Baiklah." Ucap jaemin lalu diapun pergi ke toilet tanpa menaruh kecurigaan apapun saat ini.

"Jaemin sudah pergi nak." Ucap taeyong dan renjunpun melepaskan pelukannya lalu menghapus airmatanya.

"Kau sangat menggemaskan setelah menangis. Sekarang kau duduk saja disana." Ucap taeyong dan renjunpun mengangguk lalu duduk disalah satu kursi yang dekat dengan tempat memanggang daging. Lalu menutup matanya sembari berpikir mengenai perkataan taeyong, jaehyun, juga jaemin yang menghantui pikirannya dan dia juga teringat permintaan chenle sebelum mereka ke LA.

Beberapa menit kemudian, jaemin kembali dan melihat renjun yang menutup matanya di kursi itu, lalu diapun mendekat dan itu tak lepas dari tatapan taeyong. Jaemin lantas memberikan selimut pada renjun yang memang sengaja dia bawa saat akan kembali ke taman belakang karena dia tak mau renjun semakin sakit akibat udara malam. Lalu diapun mendekat pada Taeyong.

"Mommy ke Daddy saja. Biar aku yang melanjutkannya."

"Baiklah, makasih " Ucap taeyong tersenyum lalu diapun menuju jaehyun dan chenle.

"Halmonie disini, apa Daddy bersama dengan bunbun?" Ucap chenle melihat kearah belakang dan dia bisa melihat renjun tidur di kursi dan ayahnya memanggang daging.

"Bunbun kenapa halmonie?" Ucap chenle membuat jaehyun juga melihat kearah renjun.

"Sedikit tidak enak badan." Ucap taeyong dan chenle langsung beranjak dari duduknya lalu mendekat pada renjun bahkan berjongkok disebelah renjun.

"Chenle jangan membangunkan renjun, biarkan dia istirahat sebentar, setidaknya setelah daging masak dia bisa makan dulu sebelum kembali ke kamar." Ucap jaemin.

"Ne daddy." Ucap chenle mengerti lalu diapun merapikan anakan rambut renjun.

"Bunbun jangan sakit, chenle gak mau bunbun sampai sakit." Ucap chenle dan itu masih bisa di dengar oleh renjun yang benar-benar merasa sangat senang sekali karena hal sederhana dari chenle. Sepertinya keputusan yang saat ini akan dia ambil sudah benar. Dan dia pasti akan mempertahankan apapun keputusan yang dia buat nantinya.






























👨‍👨‍👦👨‍👨‍👦👨‍👨‍👦

Never Good Bye (jaemrenle)END✔ Sudah Terbit!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang