Chenle sampai di rumah dan diapun langsung berlari menuju ruang tengah mansion megah itu dan diapun langsung melihat nenek, kakek, ayah juga ibunya berkumpul.
"Halbojie dan halmonie kapan sampai?" Ucap chenle.
"Beberapa jam yang lalu." Ucap taeyong tersenyum dan chenle hanya menganggukkan kepalanya lalu diapun menyempil diantara jaemren lalu memeluk lengan ibunya itu.
"Bagaimana sekolahnya lele?"
"Lancar Mama, bagaimana dengan keadaan Mama? Mama sudah lebih baik bukan?"
"Hmm." Angguk renjun sembari mengelus kepala anaknya itu dan chenle pun langsung menyandarkan kepalanya pada bahu renjun sedangkan taeyong hanya menggelengkan kepalanya melihat cucunya masih sangat manja. Tapi, dia juga mewakajar kan hal itu, karena untuk sampai tahap ini benar-benar membutuhkan waktu yang sangat lama bagi chenle.
"Tidak ada yang aneh selama di sekolah ataupun di perjalanan bukan?"
"Tidak ada Daddy, memangnya apa yang akan terjadi?" Ucap chenle santai. Jaemin hanya diam saja dan menatap penuh selidik anaknya itu, karena biar bagaimanapun jaemin tahu kalau anaknya sudah tahu soal apa yang terjadi pada renjun, dan berniat mencari pria brengsek itu, membuat jaemin semakin posesif pada anaknya itu, apalagi ini bisa menyangkut keselamatannya.
"Jangan begitu chenle, daddymu hanya sangat cemas padamu dan kau harus tahu kalau dia sangat posesif." Ucap taeyong dengan gaya berbisik.
"Terserah saja halmonie."
"Lele, tidak boleh begitu sayang. Minta maaf pada Daddy."
"Maaf Daddy." Ucapnya datar lalu diapun langsung menyembunyikan wajah nya di ceruk leher renjun untuk menghirup wangi ibunya itu.
"Bagaimana dengan acara pesta pernikahan kalian? Kapan akan melihat tuxedo?" Ucap taeyong penasaran.
"Mungkin besok mom, kami juga sudah membuat janji dengan salah satu boutique, mengenai undangan semua kolega juga telah di undang, masih tersisa beberapa undangan saja." Ucap jaemin. Sontak saja chenle langsung melihat kearah ayahnya dengan mata berbinar dan jaemin sangat tahu kalau anaknya pasti menginginkan sesuatu saat ini.
"Kau ingin apa lele?"
"Apa boleh minta satu undangan ada satu teman yang ingin aku undang dan aku sudah berjanji. Kalau jie pasti daddy sudah mengundang Daddy jeno, jadi tak perlu."
"Baiklah, ambil saja di meja kerja Daddy nanti." Ucap jaemin.
"Oke." Ucap chenle semangat.
"Aku juga minta satu Hyung, karena aku harus mengundang sahabatku. Aku juga bisa menitipkan undangannya pada lele besok."
"Hmm." Angguk jaemin sembari mengelus kepala istrinya itu sedangkan chenle hanya memutar malas bola matanya karena ayahnya itu sangat buchin sekali.
At. Apartemen Haechan.
Haechan masuk dengan sangat tak bersemangat karena dia masih kepikiran permintaan jisung padanya tadi, dia bukannya ingin menolak hanya saja dia belum yakin, ditambah dia sangat tahu siapa itu Lee jeno dan keluarga Lee, ini seperti langit dan bumi. Dan lagi walaupun dadanya berdebar kencang saat bersama jeno, apa mungkin jeno juga merasakan hal yang sama?
Haechan lantas mendudukkan dirinya di sofa lalu diapun menyandarkan tubuhnya itu.
"Apa yang harus aku jawab? Bagaimana kalau jeno Hyung tak setuju dengan jisung. Mau sesayang apapun jeno Hyung pada jisung dia pasti tak akan mau menikahi orang yang dia tak cintai. Aku benar-benar tak tahu harus apa saat ini." Gumamnya lalu diapun menutup matanya dan membukanya kembali lalu mengambil ponselnya dan membuka room chat antara dirinya dan renjun.
Injun.
Injun? Apa kau sibuk? Apa aku boleh berkunjung malam ini?
Setelah mengirim pesan itu, Haechan terus menunggu jawaban tapi tak kunjung ada jawaban apapun dari renjun.
"Aaaa, sudahlah. Lagian sepertinya renjun sedang tak memegang ponselnya. Nanti kalau dia pegang dia juga bakalan lihat." Monolog Haechan lalu diapun mengumpulkan semangatnya kembali lalu pergi membersihkan dirinya sebelum bersantai mungkin(?) Karena pikirannya sangat penuh sekarang.
At. Mansion Lee.
Jisung pulang dengan supir dan diapun langsung melihat bibi song.
"Bibi?"
"Iya tuan muda?"
"Apa Daddy sudah pulang?"
"Belum tuan muda." Jisung hanya mengangguk tanda mengerti lalu diapun langsung menuju lantai dua mansion itu dengan berjalan secara perlahan. Maklumlah dia masih menggunakan tongkat saat ini.
Di kamar jisung.
Jisung menutup pintu kamarnya lalu diapyn duduk diatas tempat tidurnya setelah meletakkan tasnya di sofa yang ada didalam kamarnya itu. Dan diapun mengeluarkan ponselnya dari saku lalu melihat kontak ayahnya dan menghubunginya.
Drrtt...Drrtt...Drrtt...
"Hallo dad?"
"Ada apa jie? Kau butuh sesuatu? Ingin Daddy suruh halmonie ke mansion?"
"Anio, hanya saja ada yang ingin aku katakan pada Daddy. Bisakah Daddy segera pulang?"
"Apa harus sekarang jie? Daddy lumayan sibuk."
"Jam berapa Daddy pulang? Daddy tidak akan lembur bukan? Karena ini tak bisa ditunda sampai besok."
"Hmm, Daddy tidak akan lembur, sebelum makan malam Daddy pastikan sudah di rumah."
"Baiklah, sampai jumpa nanti." Lalu jisungpun mematikan ponselnya dan diapyn menidurkan tubuhnya dengan kaki menjuntai lalu menatap langit-langit kamarnya.
"Semoga saja Haechan ssam tidak menolak dan Daddy setuju. Aku ingin keluarga lengkap. Mommy pasti juga akan merestui dari atas sana." Monolognya.
👨👨👦👨👨👦👨👨👦
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Good Bye (jaemrenle)END✔ Sudah Terbit!
FanfictionSudah terbit di Hifumi Publisher!!! Chapter masih lengkap! Start: 30 Juni 2023 End: 10 Juli 2024 "Kau bukan ibuku, bagiku ibuku hanya Huang Renjun." 330Na Chenle. "Apa aku pantas untukmu?" Huang Renjun. "Aku mencintaimu, walaupun terlambat tolong te...
