69

2K 229 4
                                        

Keesokan paginya semuanya berjalan dengan lancar, bahkan jaemin mengantarkan chenle sebelum ke kantor setelah adanya drama renjun yang ingin ikut dan membuat jaemin mau tak mau meminta bantuan ibunya hingga akhirnya renjun mau menurut untuk tak ikut, sebenarnya jaemin cukup bingung mengenai perubahan istrinya itu, tapi dia hanya beranggapan kalau istrinya itu sedang kelelahan dan cemas yang berlebihan saja padanya. Jadi dia tak ambil pusing sama sekali.

Jaemin sampai diperusahaan dan diapun langsung menuju ruangannya dan mengkode kedua asistennya untuk ikut.

"Apa semua yang sudah saya suruh kalian siapkan sudah 100%"

"Sudah Presdir semua penembak dan anak buahmu akan ada di tempat acara, disetiap sudut. Tapi saran saya agar nyonya memakai baju anti peluru, begitu pula dengan Presdir." Ucap Jay.

"Saya mengerti."

"Presdir?"

"Ada apa?" Datar jaemin melihat kearah jake.

"Nyonya akan baik-baik saja bukan? Biar bagaimanapun nyonya adalah teman saya selama ini." Ucap Jake yang jelas takut sang teman kenapa-napa.

"Saya akan pastikan istri saya baik-baik saja. Kau harus benar-benar menyelesaikan perintah saya agar tak ada kesalahan. Apa kalian berdua mengerti?" Ucap jaemin menatap bergantian asistennya itu.

"Kami mengerti Presdir." Ucap keduanya.

"Baiklah, kalian boleh keluar " Ucap jaemin datar dan keduanya membungkuk lalu keluar.

Di luar ruangan jaemin.

"Jangan cemas, nyonya akan baik-baik saja." Ucap Jay melihat Jake masih kelihatan cemas.

"Biar bagaimanapun aku pasti akan cemas Jay, ini menyangkut keselamatan renjun, sebelum dia menikah dengan Presdir Na, dia adalah teman kita. Aku tak mau sesuatu terjadi pada renjun." Ucap Jake.

"Aku yakin Presdir tak akan membahayakan nyonya. Dia pastikan akan melindungi nyonya." Ucap Jay.

"Tetap saja aku sangat cemas, kenapa harus nyonya yang menghadapi semua ini?" Ucap jake hampir menangis. Jay lantas memegang kedua bahu Jake dan menatapnya.

"Dari pada mencemaskan orang lain, lebih baik kau mencemaskan dirimu sendiri." Ucao Jay.

"Maksudmu?"

"Setelah malam ini selesai sesuai dengan rencana kita semua. Kau harus mempertimbangkan untuk menjadi kekasihku. Apa kau mengerti?" Jake terdiam seketika dengan mata membulatnya. Dia kira perkataan Jay Tempo hari saat dia mabuk itu bohong. Jay yang menyadari ekspresi Jake hanya tersenyum.

"Aku tidak akan lupa Jake. Karena aku mengingat semua hal saat aku mabuk. Jadi, tolong pikirkan itu oke? Aku menunggu jawabanmu." Ucap Jay lalu diapun pergi mengurus sesuatu membuat Jake mematung seketika.

Beberapa menit kemudian, jenopun datang ke perusahaan sahabatnya itu lalu melihat salah satu asisten sahabatnya yang diam mematung begitu saja.

"Asisten Shin?" Tapi tak ada jawaban apapun.

"Jake?" Tapi masih sama.

"Jake Shim!" Membuat sang empu langsung tersadar dan diapun langsung membungkuk pada jeno.

"Jangan melamun saat bekerja asisten Shim. Apa jaemin ada didalam?"

"Ne Presdir Lee." Jeno lantas pergi begitu saja dan masuk tanpa mengetuk pintu ruangan sahabatnya itu.

Ceklek.

Jaemin melihat kearah pintu dan menemukan sang sahabat yang datang. Lalu jaeminpun beranjak dari kursinya dan duduk disofa begitu pula jeno yang duduk dihadapannya.

"Kenapa kau ingin bertemu denganku?" Ucap jeno to the point

"Kau pasti sudah mendengar kalau aku akan datang untuk pertama kalinya ke acara itu bukan?" Ucap jaemin dan jeno hanya mengangguk saja.

"Kau juga memutuskan untuk datang bukan?" Jeno kembali mengangguk.

"Dengan kekasih mu bukan?" Jeno lagi dan lagi mengangguk.

"Kalau begitu kau harus memasangkan baju anti peluru padanya, juga jangan lupa padamu." Ucap jaemin datar.

"Apa maksudmu?" Ucap jeno bingung.

"Kau bisa lihat dan dengarkan." Ucap jaemin lalu menyerahkan iPad nya dan jenopun melihat juga mendengar semua yang terekam di iPad itu.

"Dia benar-benar sudah gila!" Marah jeno.

"Kau tenang lah, kau tahu, aku sebenarnya sudah menyiapkan segalanya bahkan membongkar kejahatan sih brengsek itu pada semua media"

"Kenapa dia mengincar istrimu?"

"Dia adalah mantan suaminya dulu, dan dia juga yang membunuh orangtua istriku dan mengambil hartanya." Ucap jaemin datar.

"Lalu? Apa alasan dia ingin membunuh istrimu?"

"Karena jika istriku tetap hidup, maka dia tak akan bisa memiliki hartanya sepenuhnya karena dia tahu aku akan mengambil harta milik istriku itu." Ucap jaemin datar.

"Dan dia bekerja sama dengan mantan istrimu?"

"Hmm, sih brengsek kecil itu hanya terobsesi untuk terus bersamaku. Tapi, kau tahu aku sudah menyiapkan segala hal untuknya, agar dia tak mencoba menggangguku lagi." Datar jaemin.

"Lalu?"

"Ini, kau bisa melihat berkas ini. Dan mungkin kau akan sangat marah, ditambah dia juga berniat membunuh kekasihmu." Ucap jaemin datar lalu memberikan amplop berwarna cokelat itu.  Jeno lantas membuka amplop cokelat itu lalu diapun melihat semuanya, bukti kematian istrinya dulu dan juga bukti kematian mertuanya.

"Dia benar-benar sangat gila sekali. Aku pasti akan membalasnya " Ucap jeno datar.

"Maka dari itu aku membawamu. Karena dia bukan hanya mengincar milikku tapi milikmu. Untuk kedua orang itu, aku sangat yakin kalau mereka hanya akan menunggu dan melihat dari apartemen. Jadi, kita hanya perlu mengawasi apartemen itu dan menangkap keduanya lalu kita menjalankan tugas kita dan bersenang-senang malam ini." Datar jaemin.

Tok...tok...tok..

"Masuk!"

Ceklek.

Jaemin melihat kedatangan soobin lalu diapun menatapnya datar bahkan jeno juga sama.

"Ada apa Presdir? Kenapa Presdir ingin bertemu dengan saya?" Ucap soobin.

"Kenapa kau harus merendahkan dirimu Presdir Choi Soo bin? Apa kau merasa aku tak akan pernah mengetahui siapa kau sebenarnya?" Ucap jaemin datar dan itu membuat soobin benar-benar sangat kaget begitu pula dengan jeno.

"Apa niatmu sebenarnya?" Ucap jaemin menatap tajam pada soobin.

"Aku—



































👨‍❤‍💋‍👨👨‍❤‍💋‍👨👨‍❤‍💋‍👨

Never Good Bye (jaemrenle)END✔ Sudah Terbit!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang