07. Egois?

2.3K 92 18
                                        

Hallo, akhirnya aku update lagi. Kalian masih semangat kan buat baca cerita ini sampai end?
Jangan lupa Vote dan Coment, follow dulu sebelum baca!!

||Happy Reading||




Varen berlari menaiki anak tangga rumahnya, ia baru saja mendapat kabar dari Bella kalau putrinya itu pingsan.

Pria itu bergegas menuju ke arah kamar Herlin, pintu kamar itu tertutup rapat dan ada seorang wanita di depan pintu "Gimana keadaan Herlin?" Tanya Varen pada Cllara yang berdiri di depan pintu.

"A-aku tidak tau, Bella melarang ku masuk." sahut wanita itu lirih.

Ceklek.

Tiba-tiba pintu itu terbuka dari dalam memperlihatkan Zergan yang keluar dengan raut wajah sedikit lesu "Dokter sudah memeriksanya, keadaan Herlin sangat buruk." Ucap pria tua itu kepada putranya.

Varen yang mendengar itu merasa sedikit bersalah, tanpa basa basi lagi ia masuk ke dalam kamar lalu menghampiri Herlin yang terbaring di ranjang dengan keadaan tak sadarkan diri.

"Maaf kan Papa." lirih Varen mengecup kening putrinya lembut dan penuh aksih sayang.

Bella menghelan nafasnya "Dokter bilang Herlin terlalu banyak fikiran dan sering overthinking, dan jika itu terus berlanjut kemungkinan besar Herlin bisa terkena gangguan cemas atau bahkan bisa depresi." jelas wanita itu membuat Varen mendongak  menatap Bella dengan raut wajah sedih.

"Apa gak sebaiknya kamu ngasih tau Herlin yang sebenarnya? ngasih tau kalau ibu kandung nya Herlin itu Cllara?" Varen nampak terdiam, pria itu bingung apa yang harus ia lakukan.

"Udah lupain dendam kamu ke Cllara, yang terpenting sekarang adalah kondisi Herlin." Bella duduk di tepian ranjang menatap cucunya yang tengah terbaring tak sadarkan diri dengan rasa bersalah yang menghantui benaknya.

"Benar Varen, ini salah. Salah karna kita memisahkan seorang anak dari ibu kandung nya." Ujar Zergan yang baru saja masuk ke dalam kamar tersebut. Varen menjadi semakin bingung, apa ia harus mengakhiri penderitaan Cllara sekarang

Tapi Varen masih tidak rela akan hal itu.

"Gak, keputusan Varen udah bulat. Varen gak bakalan kasih tau apa-apa soal Cllara sama Herlin." tegas pria itu. Bella tak menyangka jika Varen  sudah sangat terlarut dalam dendamnya pada Cllara hingga putranya itu menjadi egois bahkan tak memikirkan kesehatan Herlin.

Mata Bella berkaca-kaca mendengarnya "Kenapa Varen? kenapa kamu egois? dia putri kamu." Zergan memeluk istrinya menenangkan wanita itu di dalam pelukannya.

"Ma, Herlin gak perlu sosok ibu kayak dia." jawab Varen dengan tegas.

***

Cllara duduk di luar, di teras. Ia ingin mencari udara segar, sekaligus menghilangkan rasa sesak di hatinya kala mendengar ucapan Varen tadi. Cllara sangat sedih kala mendengar hal itu.

Varen sangat tega, bahkan dengan putri nya sendiri. Apa dia tidak mengkhawatirkan mental gadis itu? bukankah jika mengalami gangguan kecemasan yang berketerusan bisa menimbulkan depresi?

Cllara sangat khawatir dengan keadaan putrinya, bagaimana caranya agar semua masalah ini cepat berakhir?

Wanita itu ingin hidupnya kembali normal, bahagia dan bisa menikmati semua alur dalam hidupnya. Cllara ingin bahagia bersama Herlin, dia ingin Herlin memanggilnya dengan sebutan 'mama' apakah itu terlalu mustahil untuknya?

HERLINA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang