HALLO GUYS AKU UPDATE!! sebenarnya kemarin rencananya aku mau double up tapi ternyata gak jadi hehe.. :'( plis kemarin author galau berat, tapi gapapa yang penting aku masih bisa update hari iniii😊
Jangan lupa Vote dan Komen di setiap paragraf biar aku makin semangat nulis dan makin rajin update chapter-chapter selanjutnya ‼️
Aku gak bakalan lama-lamain update kalau kalian mau ngeramein chapter inii!!
REVISI SETELAH END.
||Happy Reading||
"Persiapan wedding sama ruangan yang harus lo rapiin gimana? udah kelar?" Tanya Ziven pasa Yulia di sebrang sana, mereka sedang mengobrol lewat sambungan telefon.
"Udah kelar, ruangannya udah bersih. Persiapan dekorasi weddingnya juga tinggal dikit lagi, soalnya tukang-tukangnya pada gercep."
Setelah mereka mengobrol dan berdiskusi berempat beberapa hari yang lalu, Jingga memutuskan untuk membagi tugas agar rencana mereka berjalan lancar.
Yulia, Yulia bertugas untuk mengawasi persiapan dekorasi dan membersihkan sebuah ruangan untuk mereka menyembunyikan Herlin pada acara pernikahan, karena setelah acara itu selesai mereka akan langsung pergi menuju bandara.
Thira, Thira hanya di tugaskan untuk mengawasi Yulia karena Jingga sangat tahu bagaimana Yulia. Yulia selalu selalu ceroboh dalam melakukan setiap hal, di tambah lagi keadaan Thira yang sedang mengandung sehingga Perempuan itu tidak bisa melakukan aktivas berat.
Sementara itu Jingga dan Ziven bertugas untuk menjemput Herlin ke rumah sakit, terdengar mudah namun tidak semudah yang kalian dengar karena mereka harus bisa meyakinkan Herlin yang sama sekali tidak mengingat bahkan mengenali mereka.
"Lo berdua gimana? aman kan?" ujar Yulia balik bertanya mengenai keadaan mereka.
"Gak aman, Herlin gak mau ikut sama kita." jawab Ziven dengan nada suara yang terdengar lirih akibat kewalahan.
"WOY! BANTUIN GUE, PACARANNYA NANTI AJA!!" teriakan Jingga dari dalam ruang rawat inap Herlin langsung membuat Ziven gelagapan dan langsung memutus panggilan telfonnya bersama Yulia dan bergegas kembali masuk ke dalam ruang rawat inap Herlin menghampiri Jingga.
"Herlin kamu ikut sama kita ya?" ujar Jingga, sudah berulang kali ia mengajak Herlin namun gadis itu malah menolak dan menggelengkan kepalanya. Herlin juga tidak mau turun dari barnkar, padahal Jingga berniat mendudukkan Herlin di atas kursi roda agar memudahkan mereka membawa Herlin pergi dari rumah sakit.
"Herlin mau ketemu Daddy Zergan, gak mau sama kalian." sahut Herlin, ia sudah sangat lelah menyahuti dan menolak semua ajakan dari laki-laki yang berdiri di sebelah brankarnya ini.
"Pasti kalian kan yang culik aku?"
Ziven menepuk pelipisnya sendiri, ia sudah kehabisan akal untuk meyakinkan Herlin agar mau ikut bersama mereka "Herlin, kita bukan penculik kita itu temen lo–"
"Jangan pake lo–gue." tegas Jingga menyela ucapan Ziven. Ia sudah sedari tadi berusaha berucap selembut mungkin pada Herlin tapi Ziven masih saja tidak mengerti dan tidak mengikuti apa yang ia lakukan.
Ziven mengangguk pasrah "Kita itu temen kamu Herlin, kamu tau nama kami kan?" pancing Ziven, ia berharap Herlin mengingat nama mereka, karena akan sulit jika Herlin benar-benar lupa dan tidak mengenali mereka sama sekali.
Ziven berharap, jika Herlin tidak mengenali Jingga minimal gadis itu masih mengingatnya.
Herlin terdiam, sepertinya ia sedang mencoba berfikir keras untuk mengingat siapa kedua laki-laki dewasa di hadapannya. Karena seingat Herlin teman-teman SDnya tidak ada yang memiliki wajah setampan kedua laki-laki ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
HERLINA [END]
Teen Fiction⚠️cerita ini hanya di publish di lapak @Rhea_margareth, jika kalian menemukan cerita dengan alur seperti ini di lapak orang lain berarti itu plagiat‼️ SEQUEL CERITA : Transmigrasi Bella Tentang bagaimana Varen membalas perbuatan Cllara, hingga memis...
![HERLINA [END]](https://img.wattpad.com/cover/363443459-64-k941517.jpg)