158

16.1K 1K 143
                                        

Cerita ini hanya fiksi semata,
Dilarang menyebar luaskan cerita
Dimedia sosial manapun
Dan juga dilarang membawa
Cerita ke real life.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

"Kenapa belum tidur ?" tanya adel saat ia sudah sampai di rumah setelah melakukan latihan hingga tengah malam.

"Nunggu kamu" jawab chika

"Kenapa ?" tanya adel

"Adel" panggil chika dengan mata yang sudah berkaca kaca

"Kenapa kak ?" tanya adel yang belum juga menatap chika karna ia sedang sibuk melepaskan sepatu nya.

Bukannya menjawab, chika malah menubrukan tubuhnya pada adel. Ia memeluk adel dengan erat dari belakang.

"Makasih ya. Aku bener bener makasih banget sama kamu" ucap chika dengan air mata yang adel rasa sudah membasahi baju bagian belakang nya.

"Kenapa kak ?" tanya adel sekali lagi, namun kini dirinya sudah membalikan badan dan membalas pelukan chika.

"Kenapa ?" tanya nya lagi

"Aku gak tau apa yang aku fikirin ini beneran atau engga, tapi aku cuman pengen bilang makasih sama kamu" ucap chika dengan nada yang tersenggal dan isakan yang semakin kencang.

"Udah buka amplop coklatnya ya ?" tanya adel yang diangguki chika yang masih ia peluk dengan lembutnya.

Flashback

Saat itu, tepatnya setelah semalam chika dan juga adel cekcok dan berakhir adel yang mengalah menjauh dengan pindag tidur di kamar sebelah. Amplop yang chika dapatkan dari adel semalam tak langsung ia buka. Lebih tepatnya ia belum sanggup untuk membukanya.

Suasana pagi yang biasanya hangat dengan adel yang memasakan sarapan pagi mereka walaupun hanya roti panggang, namun pagi itu terasa dingin dan senyap karna entah sejak jam berapa adel sudah tak berada di rumah, ia sudah pergi latihan dari notes yang chika baca di depan pintu nya. Padahal setau chika latihan hari itu baru di mulai nanti sore.

Hingga siang berlalu, chika belum juga membuka amplop coklat itu. Ia biarkan amplop itu berada di atas meja dekat ranjangnya tanpa ia sentuh sedikitpun sejak ia menaruhnya disana.

Chika baru ada niatan membuka saat menjelang sore, tepat nya setelah ia beberapa kali meyakinkan dirinya untuk segera membuka amplop itu.

Membuka pintu kamar nya, chika beberapa kali menghela nafasnya berat dan beberapakali juga ia menguatkan dirinya sendiri. Semakin lama ia membukanya maka semakin sakit hati juga jika ia mengingatnya, lagi pula mau kapanpun ia membuka amplop itu akhirnya sama saja bukan ? Sama sama harus tanda tangan persetujuan untuk berpisah dengan adel.

Setalah beres dengan urusan packingnya untuk besok, ia akhirnya kini membuka dengan pelan amplop coklat persegi panjang dengan ukuran tak terlalu besar itu. Saat ia membukanya, ia dikejutkan dengan kertas yang sudah dengan keadaan robek beberapa bagian. Apa maksud dari ini ? Chika masih mencerna hal itu.

Ia ambil semua bagian kertas itu satu persatu, ia masih mencerna semuanya dan selanjutnya hanya tangisan yang mengisi sunyi nya kamar. Entah itu tangisan apa ? Chika pun masih menerka hal itu.

Flashback end

"Duduk dulu ya kak, kasian kalo kamu berdiri terus gini" ucap adel menuntun chika untum duduk di sofa.

"Udah buka amplop nya ?" tanya adel dan diangguki chika

"Udah tau isinya ?" tanya adel lagi dan lagi lagi hanya di angguku oleh chika.

"Isi amplop nya udah jadi jawaban semuanya kak, yang kamu fikirin adalah benar. Aku sobek kertas itu dan batalin gugatan cerai itu setelah aku denger cerita kamu tempo hari ke ashel" ucap adel menatap chika yang masih terus menurunkan dengan deras air matanya.

"Kamu nguping ?" tanya chika

"Gak nguping, cuman kebetulan aku mau ngambil cemilan di dpaur dan gak sengaja denger cerita kamu" jawab adel

"Waktu malem itu aku kira kita bakalan langsung baik baik aja setelah kamu buka itu. Tapi nyatanya kamu malah nangis dulu terus nuduh aku selingkuh malah, parah banget emang" omel adel

"Habisnya gimana gak nangis kalo tiba tiba dikasih surat begituan dengan posisi si pasangan masih ada rasa sayang dan cinta ke orang itu" ucap chika diangguki adel paham

"Aku batalin karna aku pengen nebus itu semua. Aku pengen lindungin kamu lebih lebih lagi biar gak ada siapapun yang bisa nyentuh kamu selain aku. Aku pengen perbaikin semuanya, aku liat usaha kamu untuk itu kak, jadi aku memutuskan buat selalu bareng bareng terus sama kalian" ucap adel mengusap lembut pipi chika lalu mengecup singkat bibir itu.

"Asin banget dah" protes adel dengan kekehannya saat setelah ia mengecup bibir chika.

"Adeeeel ih. Ngerusak suasana banget sih ih" ucap chika memukul pelan bahu adel

"Bercanda kak bercanda"

"Kamu tau gak hal apalagi yang bikin aku mutusin untuk batalin itu semua ?" tanya adel

"Aku gak mau kamu sama yang lain kak. Kayaknya untuk liat kamu sama orang selain aku nanti bakalan sakit banget. Kayaknya bukan kamu yang gak bisa tanpa aku, tapi nyatanya aku yang gak bisa tanpa kamu kak. Aku butuh kamu, aku sangat sangat butuh kamu" ucap adel

"Aku gak rela anak aku nanti manggil sebutan papah ke orang lain. Aku gak mau sayang nya dia ke aku ke bagi bagi. Aku gak mau ngasih sebuah trauma ke dia dengan perpisahan kita kak, aku gak mau" ucap adel

"Cinta aku udah habis di kamu kak, kalo pun kita jadi pisah pun aku gak akan cari pengganti kamu. Maaf kalo akhir akhir ini selalu bikin kamu nangis, dan bikin kamu emosi juga maaf ya. Juga maafin segala kesalahan aku ya kak." ucap adel mengusap pipi chika yang kian membasah karna air matanya.

"Kita mulai dari awal ya kak, kita mulai semuanya dari rumah ini cuman kamu, aku, dan juga dia" ucap adel membuat chika kembali tersenyum dan memeluk adel dengan begitu erat.

Ternyata betul adanya ya, setelah badai pasti ada pelangi. Seperti saat ini, setelah segala drama dan juga pertengkaran mereka akan ada dimana akhirnya rasa bahagia menghampiri mereka.


End

Guys akhirnya kita sudah berada di ujung cerita ini. Ini beneran ending guys karna menurut ku cerita ini sudah terlalu panjang, jadi aku mutusin buat menamatkan cerita ini sampai di part ini.

Terimakasih yang sudah baca dari awal hingga akhir cerita ini.

Terimakasih atas segala kritik dan juga saran kalian semua selama ini.

See u di cerita selanjutnya guys.

TAK TERDUGATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang