"Sini, dengerin aku. Kamu udah usaha sebisa kamu. Nggak ada yang telat, emang belum waktunya aja. Nggak usah bandingin pencapaian mereka sama pencapaian kamu. Setiap bunga punya waktu mekarnya masing-masing.
Kamu nggak kalah, kamu tetap pemenang di hidupmu. Kamu sedih? Wajar, kok namanya juga manusia. Tapi jangan lama-lama, ya. Kita jalan lagi, aku temenin. Kamu nggak sendiri. Percaya sama aku."
Tangis itu pecah, menyelinap ke pucuk baskara.
"Gapapa, kok kalau mau nangis. Sini, di pundak aku."
"Apa yang kamu takutin? Kamu nggak sendiri, ada aku. Kalau kamu capek, istirahat sebentar nggak dosa, kok. Kalau mau nangis juga boleh-boleh aja. Sini, di pundak aku.
Kamu udah lakuin yang terbaik, aku tau itu. Kalau belum sekarang, berarti nanti. Dan aku yakin, ketika hari baik itu tiba, kamu sudah layak untuk mendapatkannya. Kamu percaya aku, kan?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Patah Hati Paling Disengaja
PoetryAi, kamu mungkin bukan manusia sempurna. Aku tahu semua mata memandangmu sebagai sampah. Aku tahu sebenci apa kamu pada semua yang menganggapmu rendah. Tapi bagiku, kamu adalah sepotong senja yang Tuhan kirim lewat tirai jendela. Iris pekatmu menja...