"Sorry, Nat akhir-akhir ini gue jarang ketemu sama lo. Semenjak pacaran gue juga udah jarang dengerin lo cerita."
Rivandra mengembuskan napas perlahan. Menyandarkan punggung di kursi besi minimarket. Sejenak melirik Natya yang menjilati ice cream cokelat favoritnya.
"Lo kangen gue yang dulu, ya, Nat?"
Pertanyaan tiba-tiba Rivandra membuat Natya spontan menoleh. Hidungnya belepotan terkena cokelat ice cream. Rivandra sejenak ingin tertawa menatap Natya yang mengernyitkan dahi.
"Udah gede masih aja belepotan, Nat! Malu sama umur!" Rivandra mengelap hidung Natya dengan tangannya.
Natya terpaku. Irisnya tidak beralih dari menatap wajah hangat Rivandra. Lihatlah pemuda dengan rambut jingkrak di hadapannya ini. Natya seperti kembali menemukan Rivandra yang dulu dikenalnya. Rivandra yang begitu manis.
"Adhi bilang apa aja sama lo?" tukas Natya setelah Rivandra selesai mengelap hidungnya.
Rivandra menggeleng pelan. "Gue juga pengen balik kayak dulu, Nat. Gue juga pengen sebebas dulu." Hela napas Rivandra terdengar berat. Jelas di wajahnya tersimpan resah, yang matian-matian ia lenyapkan, tapi percuma.

KAMU SEDANG MEMBACA
Patah Hati Paling Disengaja
PoetryAi, kamu mungkin bukan manusia sempurna. Aku tahu semua mata memandangmu sebagai sampah. Aku tahu sebenci apa kamu pada semua yang menganggapmu rendah. Tapi bagiku, kamu adalah sepotong senja yang Tuhan kirim lewat tirai jendela. Iris pekatmu menja...