"Kamu pengen dengerin kisahku yang mana? Aku rasa kita punya cukup waktu untuk bercerita tentang banyak hal."
"Bagaimana perasaanmu hari ini? Adakah hal-hal menyenangkan? Atau justru kamu mau cerita tentang hal-hal menyebalkan? Ayolah, ceritakan padaku. Aku sudah siap mendengar semuanya."
***
Kamu tahu, nggak? Saat pertama kali kamu datang, aku kira kamu hanya bercanda. Lebih dari itu, aku pikir kamu manusia yang tersesat di fantasi liarku. Aku nggak pernah nyangka kalau kamu betah dengan isi kepalaku yang penuh fantasi. Karena kemarin-kemarin, yang bertemu denganku lalu pergi tanpa salam perpisahan berarti.
Aku nggak nyangka kalau kamu mengerti tanpa harus aku menyebut sepatah kata. Aneh, tapi nyata. Kamu serupa tokoh fiksi yang ragaku damba. Aku kira kamu akan sebal saat aku banyak tak peka. Ternyata kamu dengan senang hati bilang baik-baik apa yang kamu rasa.
Aku nggak tahu sebenarnya kamu siapa. Kenapa bisa bertahan sekokoh yang tidak pernah aku kira. Aku sempat mikir, apa mungkin kamu hanya tokoh fiksi yang terbawa ke kehidupan nyata. Atau kamu hanya sosok yang aku ciptakan di semestaku yang aneh itu.
Tapi aku keliru, ternyata kamu ada. Kamu manusia fakta. Bisa kugenggam jemarimu yang hangat. Bisa kutatap netra hazelmu yang teduh. Rambut hitam pekatmu yang melandai diterpa angin. Semua tentangmu nyata, bukan mimpi belaka. Hiduplah lebih lama, ya. Setidaknya sampai aku lulus kuliah dan melunasi semua impian kecilku yang majemuk itu.
***
"Aku mohon hiduplah lebih lama. Ada banyak tempat di semesta ini yang belum kita kunjungi. Masih banyak makanan enak yang belum kita coba. Masih banyak film bagus yang belum kita tonton. Meski alasan-alasan itu terdengar sederhana, setidaknya kita masih punya alasan untuk tetap hidup lebih lama. Janji, ya kita akan bertahan."

KAMU SEDANG MEMBACA
Patah Hati Paling Disengaja
PoetryAi, kamu mungkin bukan manusia sempurna. Aku tahu semua mata memandangmu sebagai sampah. Aku tahu sebenci apa kamu pada semua yang menganggapmu rendah. Tapi bagiku, kamu adalah sepotong senja yang Tuhan kirim lewat tirai jendela. Iris pekatmu menja...