[12] Resah

2 0 0
                                    

"Laki-laki bedebah kayak lo emang pantas mendapatkan ini semua!"

Natya menghalangi tubuh Akash yang sudah tumbang dengan lebam dimana-mana. "Please, udah, Van!" mohonnya dengan genangan air mata di pelupuk netra.

"Tolong berhenti pukulin Akash, Van." Kali ini suara Natya terdengar serak. Gadis itu menoleh, menatap iba Akash yang meringis kesakitan sembari mengelap rembesan darah yang mengalir di sudut bibir.

"Minggir, Nat! Tuh orang berhak dapetin semuanya! Bahkan dia layak mati!" Rivandra mendesis dengan tatapan tajam. Dia benar-benar lupa siapa yang sedang dihadapinya. Amarah dalam dadanya membuncah kala Natya menghampirinya dengan tangis sesegukan.

Natya menggeleng kuat-kuat. "Akash nggak salah, Rivan. Gue yang salah," lirih Natya dengan tubuh gemetar.

Separuh dirinya hendak membantu Akash yang hampir mati dipukuli Rivan. Separuh lagi tetap bertahan menghalangi tubuh gagah Rivan yang siap kapan saja memberondong dengan pukulan mematikan. Orang kesetanan seperti dia tidak akan ingat apapun.

Natya mencoba mendekati tubuh Rivandra yang dipenuhi amuk amarah. Dia tidak sempat menoleh menatap Akash di belakang sana, entah masih bernapas atau tidak pemuda itu.

Natya menyentuh pelan dada bidang milik Rivan. "Rivan, please berhenti. Akash sahabat lo. Dia bukan orang asing."

"Gue nggak sudi punya sahabat kayak dia!" Rivan menampik kasar. Laki-laki seperti Akash lebih layak mati daripada dikasihani.

Natya memejamkan matanya saat wajah Rivandra dikuasai amarah. Tanpa disadari, Rivandra sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya. Sentuhan Natya di dadanya yang bergemuruh memberikan efek tenang secara tidak langsung.

Patah Hati Paling DisengajaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang