55 || Happiness?

88 17 10
                                        

Dibawah langit yang mulai naik dengan hawa panasnya yang mulai terasa. Hyejin berjalan sembari memegangi perutnya dengan kedua tangannya. "Tahan sebentar lagi, Hyejin."

Ternyata, rasa mual dan pusing yang Hyejin rasakan sepulang dari Cafe masih tetap terasa, tangannya menopang pada tiang listrik, tak kuat dengan rasa sakit dikepala yang semakin menjadi-jadi.

Hyejin mengangkat pandangannya, menoleh kanan kiri untuk meminta bantuan. Tapi sialnya, jalan menuju gang rumahnya sangat jarang diakses orang-orang. Tak ada siapapun disana, selain Hyejin sendiri.

Sinar matahari yang semakin menyengat membuat kedua kaki mulai bergetar. Perlahan tubuh Hyejin mulai turun dan jatuh ambruk ditanah. Hyejin berusaha untuk tetap tersadar, dengan mengatur nafasnya dan mengangkat kuat-kuat kelopak mata yang terasa begitu berat. Namun pada akhirnya, pandangannya mulai buram seraya dengan kelopak mata yang perlahan tertutup sempurna.

∞•Ω•∞

Kediaman Natasha.

Terlihat Natasha yang tengah berdiri dibelakang halaman rumahnya, kedua tangan terkepal didada, dengan sorot mata takjub memandangi bunga-bunga yang bermekaran hasil dari jernih payahnya sendiri.

Tanpa ia sadari, diambang pintu menuju halaman belakang terlihat wanita yang juga memandanginya dari kejauhan. Wanita itu tersenyum hangat, "Natasha, apa yang sedang kau lakukan panas-panas begini?"

Natasha menoleh, dirinya yang sedang memandangi bunga-bunganya terusik. "Eh ibu?" Natasha berbalik, berjalan menghampiri."Sudah berapa lama ibu berada disini?"

"Lumayan lama, lagian ibu hanya merindukan putri cantik ibu ini." balasnya mencubit pelan hidung Natasha.

Natasha terkekeh geli sembari menurunkan tangan ibunya, "Aku akan mengajak ibu berkeliling tamanku." Natasha mulai melangkah, sembari satu tangan lain menggenggam tangan untuk menuntun ibunya.

Mereka berdua berkeliling kecil, mengabsen setiap bunga-bunga yang tumbuh dan mulai bermekaran disana. "Tunggu, bukankah itu bunga Lily?" tanya ibu, membuat kedua langkah mereka berhenti.

Natasha menoleh, ia melihat kearah mata ibunya memandang. "Bukankah nenek memberikan nama ibu dari bunga itu? Oleh karena itu aku menanamnya."

"Bunga Lily. Bunga yang penuh makna dan cantik seperti ibuku." sambung Natasha melempar senyuman hangat.

Ibu Natasha, Lily. Tersenyum untuk membalas senyuman putrinya. Kedua pandangan wanita itu berubah kembali memandangi bunga-bunga disana.

"Apa ibu pernah merindukan nenek?" tanya Natasha.

Lily terkekeh, "Kenapa bertanya seperti itu?"

"Jika nenek masih ada disini...Apakah ayah masih mau memukul ibu?" Natasha menoleh, menatap Lily.

Lily yang mendengar ucapan Natasha tersentak, dengan cepat kedua tangannya mencengkram bahu Natasha. "Jangan pernah berkata seperti itu lagi."

Mata Natasha memerah, dengan penglihatan mulai buram akibat genangan air dimata. Ia tak mempermasalahkan jika ayahnya kasar, atau memukulnya asal jangan kepada ibunya. Tapi apa kenyataannya? Ayahnya selalu memukulnya bahkan kepada ibunya.

Natasha selalu mengajak ibunya untuk pergi dan meninggalkan ayahnya. Meskipun tak hidup semewah biasanya, tapi yang terpenting adalah keselamatan dan terhindar dari kekerasan.

Tapi Lily menolak keras keinginan putrinya. Alasan utama ia tak meninggalkan Lorgan, suaminya. Karena dulu keluarga mereka memiliki masalah besar dengan orang yang berbahaya. Jika mereka pergi begitu saja, kemungkinan orang yang memiliki masalah dengan mereka akan mengincar atau bahkan membunuh mereka. Sekarang, mereka bisa hidup aman karena berada dibawah perlindungan Lorgan.

Lily kira masalah sudah diselesaikan dulu. Tapi sayangnya bawahan dari Lorgan malah membuat masalah lagi sehingga masalah terus berlanjut hingga saat ini.

Natasha terdiam mendengar penjelasan ibunya. Air mata yang sudah tergenang lama, satu persatu mulai berjatuhan bersamaan dengan pandangan menunduk kebawah. "Ib-u...Tidak menya-yangiku?"

"Bukan seperti itu Natasha..." Lily mengusap lembut pipi putrinya yang kian membasah. Rasa sesak dihati terasa, melihat dirinya yang tak bisa melindungi putri semata wayangnya itu.

Perlahan, Nastaha menurunkan tangan ibunya, ia lantas menggenggam kuat sembari menatap serius wanita dihadapannya. "Apa jika ayah mati, ibu akan senang?"

Lily tersentak dengan bola matanya membulat sempurna, "Natasha, sudah ibu kata--"

"Jika ayah mati...Ibu tidak akan sakit lagi kan?" suara Natasha bergetar kuat. "Apa jika ayah-"

"Sudah cukup!" Lily menaikan suara.

Tubuh, bola mata, bahkan kedua bibir ikut bergetar mendengar bentakan dari sang ibu. Baru pertama kalinya Natasha melihat Lily dengan sorot mata dan nada suara yang begitu menyengat kedalam hati.

"Jangan pernah mengucapkan kata itu lagi dihapanku." ucap Lily, lalu berbalik pergi meninggalkan Natasha yang terdiam mematung.

Sampai ketika bayangan wanita itu benar-benar tidak terlihat lagi. Tubuh Natasha jatuh ambruk dengan kedua kaki bersimpuh ditanah. Kedua bola mata tetap menyorot kearah kemana wanita yang begitu ia sayangi nya pergi. "Kenapa ibu seperti itu padaku?"

••^••

"Ayah, menurutmu bagaimana Hyejin?" tanya Charles kepada Jeremy yang tengah menyetir mobil.

"Tidak bisakah kau menyerah dan pergi saja darinya?" timpal Kenza, menyorot tajam kearah Charles.

"Kau takut kalah? Kenza?" Charles menoleh, dengan salah satu sudut bibir terangkat.

Jeremy memijat dahinya, ia menghela nafas lelah. "Kalian berdua berhentilah... Jangan menambah rasa pusing ditengah kemacetan ini."

Charles dan Kenza menurut. Mereka menyilangkan tangan dibawah dada lalu membuang pandangan, melihat ke arah luar jendela mobil.

"Aku lupa jika hari ini adalah hari kerja."gumam Jeremy lalu kembali menghela nafas. Dirinya menyesal karena tadi setelah Hyejin pergi, mereka malah mengobrol lebih banyak tanpa mengingat bahwa hari itu adalah hari rabu, dimana jam kerja sedang dalam jadwal padat-padatnya.

Melihat kendaraan di depan tidak ada gerakan, Jeremy mematikan mesin mobilnya dan memilih untuk memainkan ponsel sembari menunggu keadaan membaik. Berbanding terbalik dengan kedua putranya, Charles dan Kenza yang masih diselimuti rasa kesal akan pertandingan untuk mendapat wanita yang mereka dambakan.

"Kenapa kakak tidak bisa mengalah untukku?" Kenza angkat suara, dengan pandangan tetap melihat keluar jendela.

Charles menghela nafas, ia perlahan berbalik menatap serius kearah Kenza. "Karena aku tahu, apa yang kau tidak tahu. Kenza..."

Kenza yang mendengar jawaban kakaknya, perlahan berbalik menatap serius balik lawannya. Perlahan kerutan didahi terlihat seperti memberi kode agar lelaki disampingnya itu meneruskan ucapannya.

Drrrrttt Drrrtttt....

Suara notifikasi telpon yang tiba-tiba terdengar membuyarkan fokus kedua lelaki itu. Kenza yang sadar bahwa itu dari ponselnya, ia langsung meraih untuk melihat siapa yang menelpon.

"Ku kira siapa." gumam Kenza setelah melihat bahwa yang menelpon adalah Giboom. Kenza sempat menghela nafas kecil, lalu setelahnya jarinya menggeser tombol angkat pada layar ponselnya.

"Ya? Ada apa?"

"Ini gawat Kenza!"

"Apa maksudmu? Jangan bermain-main Giboom."

"Hyejin...Hyejin..."

Mendengar suara Giboon yang panik, dan bersangkut paut dengan Hyejin. Membuat Charles dan Jeremy ikut berbalik menatap kearah Kenza.

"Ada apa dengan Hyejin? Cepat katakan!" tekan Kenza yang ikut panik.

"Aku...Aku menemukan Hyejin tergeletak ditanah, dan sekarang...Hyejin tidak bernafas."





NEXT ?
Vote dulu dong

REVENGE BLOOD Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang