61 || a Cup of Tea?

33 10 0
                                        

Malam pun berganti, antara bulan dan matahari yang kembali bertukar tugas. Hyejin terlihat bergegas pergi dari rumahnya, menuju Mansion Nattan dengan menaiki taksi.

Hal utama yang ia kejar kali ini adalah menemui Nattan dan bertanya tentang semua yang telah terjadi. Hyejin juga akan mengenyampingkan masalah kematian ibunya untuk sementara, demi meluruskan masalah yang sedang terjadi.

"Kita sudah sampai."

"Terimakasih." Hyejin turun dari mobil, dan bergegas masuk kedalam. Tapi belum sempat jari-jemarinya menyentuh gagang pintu masuk, seseorang sudah membuka pintu dari dalam yang ternyata adalah Yuna.

Yuna yang saat itu melihat Hyejin dihadapannya sempat terkejut lalu tak lama langsung memeluk Hyejin dengan tangisnya yang pecah.

Hyejin yang tidak mengerti apa yang telah terjadi hanya terdiam menunggu wanita yang memeluknya.

Yuna kemudian perlahan melepas pelukannya, sembari menghela nafas panjang. "Syukurlah kau datang Hyejin, aku benar-benar takut."

"Ada apa nyonya?"

Yuna melirik kanan-kiri, dan langsung menarik masuk Hyejin, membawanya ke ruangan miliknya tanpa membalas pertanyaan yang dilemparkan Hyejin.

Sesampainya diruangan, Yuna langsung menutup cepat pintu, dan memegang kedua tangan Hyejin. "Tolong aku, Nattan pasti akan membunuhku Hyejin..."

"Membunuh? Tapi kenapa?" tanya Hyejin yang terkejut.

Yuna kembali menghela nafas, perlahan-lahan ia mulai menjelaskan apa yang telah terjadi.

Ternyata, kemarin sore. Yuna berniat untuk melihat bunga-bunga yang katanya sudah bermekaran ditaman belakang. Oleh karena itu ia pergi kesana sendiri, sembari ingin menyiram bunga-bunga tersebut.

Namun ketika ia sampai didepan pintu dapur menuju taman, samar-samar Yuna melihat Nattan bersama Pak Wang yang berada disana dari celah pintu. Yuna waktu itu ingin menyapa, tapi tak lama suara tembakan pistol terdengar yang membuatnya terkejut bukan main.

Yuna yang melihat bahwa Pak Wang ditembak oleh Nattan, langsung berlari menjauh dengan memutari taman lewat jalan belakang Mansion.

Yuna percaya, bahwa Nattan pasti sedang menyingkirkan saksi-saksi yang mengetahui masalah tentang pembunuhan ibunya Hyejin, yaitu Minjin.

Sedangkan, saksi yang mengetahui masalah itu adalah dirinya dan Pak Wang, oleh sebab itu Yuna berpikir Nattan ingin membunuh saksi mata yang ada.

"Tolong aku...Hyejin..."

Hyejin yang mendengar penjelasan Yuna hanya bisa terdiam mematung, dirinya juga sama-sama terkejut karena orang yang menembak Pak Wang adalah Nattan sendiri.

Tapi Hyejin merasakan sesuatu yang janggal, karena jika memang benar pelakunya adalah Nattan. Ia tidak akan setega itu membunuh Pak Wang, karena Pak Wang adalah orang yang selama ini menemani Nattan. Dan, kenapa tulisan disurat Jangsu bilang jika dalang dibalik semua ini adalah si secangkir teh? Apa itu julukan yang dimiliki oleh Nattan?

Yuna yang melihat Hyejin hanya terdiam, ia kembali bersuara dengan meminta bantuan Hyejin untuk menyingkirkan Nattan. Yuna berpikir, daripada dirinya yang disingkirkan, lebih baik dirinya yang terlebih dahulu menyingkirkan Nattan.

Mendengar permintaan itu, tentu saja membuat Hyejin lebih terkejut. Karena mana mungkin dirinya mampu menyingkirkan Nattan, orang yang sudah ia anggap sebagai sosok ayah. Meskipun menerima kenyataan pahit yang ia terima dari Nattan.

Tapi ketika Hyejin melihat keadaan Yuna yang begitu terpukul, Hyejin hanya bisa menghela nafas panjang dan menenangkan Yuna bahwa semua akan baik-baik saja.

"Dan juga nyonya, sebelum itu...Aku ingin bertemu terlebih dahulu dengan tuan Nattan." ucap Hyejin.

"Tidak, jangan bertemu dengannya. Aku takut terjadi sesuatu padamu Hyejin."

"Tuan Nattan tidak akan melukaiku, tapi jika memang terjadi sesuatu kepadaku, aku sama sekali tidak peduli." balas Hyejin.

Melihat sorot mata Hyejin yang serius, Yuna pun akhirnya mengiyakan permintaan Hyejin dengan syarat ia juga akan ikut untuk menemani Hyejin menemui Nattan.

"Tentu nyonya, silahkan."

••=••

Setelah Yuna merapihkan diri, ia bersama Hyejin berjalan bersama menuju lantai dua, keruangan kerja milik Nattan.

Sesampainya didepan pintu, mereka berdua sama-sama terdiam mematung didepan pintu berwarna coklat keemasan. Sampai akhirnya Hyejin memberanikan diri, dan mengetuk pintu.

TOK...TOK...

"Permisi tuan. Ini aku, Hyejin."

"Masuklah."

Mendengar pemilik sudah memberi izin, Hyejin lalu membuka pintu dan masuk bersama Yuna. Terlihat Nattan yang tengah duduk dimeja kerjanya dengan sebuah laptop dihadapannya.

Nattan yang melihat tamu datang, langsung berdiri dari kursinya dan mempersilahkan keduanya untuk duduk dikursi sofa yang ada disana. Nattan juga terlihat meminta pelayan untuk membuat minuman untuk tamunya.

Setelah itu, Nattan langsung duduk di kursi sofa bersama Hyejin dan Yuna, dengan sebuah meja kaca kecil sebagai penengah diantara mereka.

Suasana sempat hening, karena ketiganya sama-sama terdiam tak ada yang memulai obrolan. Sampai pelayan datang, dengan membawa tiga cangkir teh hangat.

Nattan akhirnya membuka percakapan dengan mempersilahkan Hyejin dan Yuna untuk meminum teh hangat tersebut.

Namun, Hyejin hanya menunduk diam memperhatikan secangkir teh dihadapannya, yang membuatnya kembali teringat dengan pesan yang ada di surat milik Jangsu.

Pikiran Hyejin berperang, secangkir teh? Kenapa harus secangkir teh? Apa karena pemiliknya menyukai teh?

Hyejin kemudian mengangkat pandangannya menoleh kearah Nattan, "Permisi tuan, kenapa tuan tidak meminum teh nya?"

Nattan menghela nafas kecil, "Kau tahu aku alergi dengan teh. Aku menyuguhkannya karena kau menyukainya, apalagi dengan Yuna." balasnya sembari melempar pandangan kearah Yuna.

Yuna yang mendengar itu, ia terkekeh kecil. "Kau bisa saja."

"Tapi benarkan? Kau bahkan bisa menghabiskan beberapa cangkir sehari." timpal Nattan.

Hyejin yang mendengar itu, kedua bola matanya membulat, ia kembali menunduk. "Jadi begitu."

"Yuna? Bisa kau keluar sebentar? Aku ingin bicara empat mata dengan Hyejin." pinta Nattan.

Yuna meletakan cangkir tehnya, "Apa penting? Tidak bisakah aku tetap disini?"

"Ini bukan apa-apa, aku hanya ingin berbicara dengan putriku."

Yuna yang tak bisa menolak, mau tak mau ia mengiyakan. Yuna perlahan berdiri, sembari melirik kecil kearah Hyejin, seperti memberi kode supaya berhati-hati. Lalu setelahnya, ia berjalan keluar ruangan.

Suara pintu kembali ditutup terdengar, melihat suasana yang sudah hening, Nattan kembali angkat suara. "Aku tahu, kau sudah mengerti...Hyejin."

"Apa maksudmu tuan?" tanya Hyejin dengan posisi masih menunduk.

"Besok, adalah penghujung acara. Aku ingin, kau mengikuti acaranya."


NEXT ?
Vote dulu dong

REVENGE BLOOD Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang