Detak jantung yang seperti tiba-tiba berhenti, tubuh terasa begitu berat seperti baru dihantam benda yang begitu berat. Melihat sosok Pak Wang yang tergeletak penuh luka dan bersimbah darah.
Dengan hampir seluruh tubuh bergetar, perlahan jari jemari Hyejin mendekati wajah milik orang dihadapannya. Mengusap lembut pipi lawannya dengan nafas yang hampir terputus.
Rasa sesak kini tak tertahankan lagi, yang membuat genangan air yang dari tadi tergenang perlahan mulai turun berjatuhan. "Ti-tidak mungkin, ini tidak mungkin kan?"
Hyejin kemudian berniat untuk beranjak bangun meminta pertolongan dari orang-orang didalam. Namun ketika tangannya hendak terlepas dari tubuh Pak Wang, tiba-tiba dirinya merasakan sebuah gerakan kecil pertanda bahwa orang dihadapannya masih bertahan.
Dengan cepat, Hyejin mendekatkan telinganya kedada lawan untuk mengecek detak jantungnya. "Masih berdetak, walaupun lemah."
Melihat masih ada kesempatan, Hyejin kembali beranjak bangun, tapi lagi-lagi ketika tubuhnya sudah mau berdiri sempurna, tiba-tiba gerakannya terhenti ketika tangan lawannya menggenggam kuat pergelangan tangan Hyejin.
Mengerti maksud itu, Hyejin kembali bersimpuh dengan kini kepala korban diletakan diatas pangkuannya. "Kau baik-baik saja?! Katakan sesuatu!"
Seperti merasa sakit, nafas yang terengah-engah, terlihat kelopak mata Pak Wang yang perlahan terbuka dan melihat kearah lawannya. Senyuman kecil terukir disana, ketika tahu bahwa orang yang menemukannya adalah Hyejin.
"Kau ini kenapa? Tunggu, aku akan mencari bantuan."
"Tidak Perlu...Hyejin..."
"Apa maksudmu? Kenapa kau sampai seperti ini?! katakan padaku siapa pelakunya?"
Pak Wang kembali tersenyum, ia menggelang pelan, "Hyejin...Jangan pernah sakit lagi." Perlahan tangan Pak Wang terangkat menuju wajah Hyejin, dengan lembut ia mengusap pipi milik gadis dihadapannya. "Tolong jangan beritahu siapapun tentang ini, dan kumohon...Tolong jaga Tuan dan mykel."
Hyejin menbantah, ia menggeleng kuat dengan air mata jatuh satu persatu, "Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak... Bertahanlah aku akan mencari bantuan."
"Hyejin... Ini permintaan terakhirku... Terimakasih."
Tangis Hyejin pecah seketika bersamaan dengan tangan Pak Wang yang terjatuh begitu saja. Rasa sesak, rasa sakit muncul bersamaan, melihat orang yang sudah ia anggap keluarga sendiri, pergi untuk selamanya.
"Tidak...Tidak...Aku mohon bangunlah." Hyejin terus berharap dengan tangisnya yang belum surut, memeluk jasad orang yang ia sayangi sampai tak terasa bahwa langit mulai menggelap.
Akhirnya rasa yang dulu dipendam kembali, rasa dimana harus mengikhlaskan kepergian. Mau tak mau, Hyejin harus menerima kenyataan lagi.
Perlahan tubuh Hyejin bangun, dengan hati yang masih bersedih, Hyejin merapihkan jasad Pak Wang, dan membersihkan sebagian noda darah dengan bajunya.
Hyejin juga melepas jas yang dipakai Pak Wang, berniat untuk menutupi sebagian tubuh Pak Wang. Tapi ketika jas hitam itu akan diselimutkan, Hyejin merasa bahwa saku sebelah kanan jas terasa lebih berat.
Jari-jemari Hyejin pun mencoba untuk mengambil, mencari tahu apa yang berada disana. Dan ketika benda itu ditarik, Hyejin melihat dua kertas yang dilipat dengan ukurannya yang cukup besar. Hyejin membuka kecil salah satu kertas hingga terlihat sedikit tulisan didalam.
Namun setelah terbaca, Hyejin terlihat bergegas memasukan kedua lembar kertas itu ketasnya lalu kembali merapihkan jasad Pak Wang. Setelah semua selesai, Hyejin berjalan pergi dari taman bersamaan dengan langit yang kini sudah gelap.
KAMU SEDANG MEMBACA
REVENGE BLOOD
Teen FictionSeorang gadis kecil yang seharusnya tumbuh dengan belaian kasih sayang dan didikan baik dari orang tua. Kini ia harus menerima takdir dari kehilangan ibunda tercinta. Tumbuh menjadi wanita berdarah dingin, hanya sekedar untuk membalaskan dendam. A...
