60 || You Can do it

46 11 0
                                        

Pukul 16:38 Sore.

Terlihat sekelompok pelajar, yang berjalan masuk kearah Gang Geungneum yang tak lain adalah rombongan Bora, Giboom, Charles Dan Kenza.

Mendapati bahwa temannya, Hyejin tidak masuk sekolah hari itu, ditambah kesulitan menghubunginya, mereka sepakat akan menjenguk nya setelah jam sekolah selesai. Bahkan Natasha yang dikabarkan menghilang kontak beberapa hari yang lalu, terlihat ikut untuk menjenguk.

Setelah sampai di apartemen, rumah Hyejin. Bora maju untuk menekan bel sembari sesekali menyebutkan nama temannya itu. Tapi setelah menunggu beberapa waktu, mereka tak kunjung mendapat jawaban dari sang pemilik.

Sampai akhirnya Charles berinisiatif untuk menekan bel, namun sedikit lagi jarinya menyentuh bel. Suara pintu terbuka membuatnya kembali mengurungkan niatnya tersebut.

Terlihat Hyejin yang membukakan pintu dengan keadaan rambut sedikit berantakan. Charles dan yang lainnya melihat keadaan Hyejin, langsung bisa menebak jika gadis itu baru saja bangun dari tidur siangnya.

Hyejin yang melihat bahwa teman-teman nya yang datang, langsung menyambut dengan hangat, "Ternyata kalian, silahkan masuk."

Ketika teman-teman yang lainnya sudah masuk, Hyejin menyadari bahwa ada satu orang yang masih diluar, yaitu Natasha. Menyadari itu adalah Natasha, Hyejin langsung menyapanya dan bertanya kemana saja dia selama ini.

Rasa khawatir Hyejin tentang Natasha, tidak hilang begitu saja walaupun sudah berlalu 5 hari lamanya. Dan kini melihat langsung temannya itu, membuat perasaannya langsung lega.

Natasha memberitahu alasan kenapa dia tidak ada kabar, karena ternyata ayahnya baru saja wafat. Membuat dirinya terpuruk dan bersedih beberapa hari terakhir.

Hyejin yang mendengar, ia langsung memegang kedua telapak tangan Natasha, "Tenang saja, semuanya pasti akan baik-baik saja. Aku turut berdukacita."

"Terimakasih Hyejin. Ouh yah, ayo cepat masuk ke dalam, kamu belum pulih sepenuhnya."

Natasha dan Hyejin lalu menyusul masuk, duduk diruang tamu bergabung dengan teman-temannya yang sudah menunggu. Banyak pertanyaan yang ditanyakan kepada Hyejin, karena dirinya tidak masuk sekolah dan ponselnya yang sulit dihubungi.

Hyejin menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia kemudian menjawab setiap pertanyaan yang keluar. Hyejin memberitahu, ketika kemarin usai pulang sekolah, ia merasa begitu lemas dan berniat untuk beristirahat saja. Tapi sampai pagi tiba, rasa lemas dan pusing masih terasa yang membuat Hyejin mau tak mau harus libur untuk beristirahat kembali.

"Maafkan aku karena tidak menghubungi dulu." ucap Hyejin mengangguk kecil untuk meminta maaf.

"Tidak apa-apa, aku lega kau baik-baik saja." balas Bora.

"Tapi tetap saja, lain kali kau harus memberi kabar." timpal Charles.

"Aku tahu, maafkan aku teman-teman."

"Ouh yah Hyejin...Aku tidak melihat keberadaan Jungwoon, kemana dia?" tanya Kenza menambahkan.

Hyejin sempat terdiam sejenak, "Ouhh...Jungwoon. Dia sudah pulang sejak lama bahkan sebelum aku jatuh sakit."

"Ternyata begitu, pantas saja aku tidak melihat dirumah sakit waktu itu." balas Kenza.

••=••

Waktu pun berlalu, kegiatan dari sekelompok orang yang berada dirumah Hyejin, hanya dihabiskan dengan mengobrol santai. Tak terasa jam kini sudah menunjukkan pukul delapan malam, membuat mereka semua harus mengakhiri kegiatan dan kembali kerumah masing-masing.

Sebelum pulang, Charles dan yang lainnya berniat untuk mengajak Hyejin untuk kembali dirawat dirumah sakit, karena mendengar perkataan Hyejin yang mengatakan dirinya masih tidak akan masuk sekolah besok. Namun Hyejin kembali meluruskan maksudnya, dimana ia hanya ingin beristirahat dirumah, bukan berarti ia kembali sakit.

Malam itupun diakhiri dengan salam selamat malam dari teman-teman Hyejin yang kembali pulang.

BRUKH...

Tubuh Hyejin terjatuh, ia terduduk depan pintu kamarnya. Hyejin menghela nafas panjang, ia menyenderkan tubuhnya dibadan pintu kamar sembari sesekali melihat langit-langit.

Hyejin memang sedari awal menunggu kedatangan teman-temannya karena ia tahu mereka pasti datang. Jadi dirinya bersiap mempersiapkan diri, supaya teman-temannya tidak khawatir.

Namun, setelah kepergian teman-temannya. Tubuhnya langsung lemas, karena memang Hyejin sudah tidak ada energi untuk bertahan. Entah kenapa perasaannya selalu mengatakan untuk mengakhiri hidupnya saat itu juga.

Hyejin memegangi dadanya, terasa sesak dan sakit. Bahkan sepasang mata juga ikut merasakan sakitnya dengan menjatuhkan air mata, yang membasahi pipinya.

Drrtt....Drrrttt...

Sebuah notifikasi ponsel mengusik Hyejin. Awalnya, Hyejin tidak menggubris notifikasi itu, tapi karena notifikasi terus berbunyi pertanda bahwa banyak pesan masuk, Hyejin perlahan bangun dan mengambil ponselnya yang ada dimeja komputernya.

Hyejin kemudian duduk kembali diatas ranjang sembari membuka notifikasi apa yang masuk. "Nomor asing? Siapa ini?"

Hyejin menekan pesan dari nomor tersebut, dan membaca deretan pesan yang masuk disana. Yang ternyata dari Jungwoon. Sontak hal tersebut membuat Hyejin terkejut.

Tangis Hyejin kembali pecah, "Maafkan aku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tangis Hyejin kembali pecah, "Maafkan aku..."

Hyejin menyadari, bahwa dengan mengakhiri semuanya tidak akan ada bagusnya, bahkan mungkin malah memperburuk keadaan. Ia melupakan banyak orang-orang disampingnya, yang senantiasa mendukung dirinya. Meskipun ditinggalkan beberapa orang, itu tidak bisa menjadi alasan untuk mengakhiri hidup.

Hyejin lalu perlahan bangun, ia membersihkan air mata yang membasahi pipi. Menarik napas panjang, dan menenangkan dirinya.

"Bertahanlah Hyejin, kau harus menyelesaikan dan mencari jawaban dari semua ini. Pembunuh Pak Wang? Si Secangkir teh? Dalang dibalik pembunuhan Kai? Dan urusanmu dengan Luis."




NEXT ?
Vote dulu dong


REVENGE BLOOD Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang