66 || "You are Great"

28 4 1
                                        

Kini, jam menunjukkan pukul 20:06 malam. Dua jam lamanya Kenza, Natasha, Giboom dan Bora, yang terlihat masih menunggu didepan rumah Hyejin.

Giboom menghela nafas panjang, ia menoleh mengabsen orang-orang yang ada disana. Sampai pandangannya berhenti, mengarah ke Bora. "Kau baik-baik saja?"

Bora yang saat itu sedang menyender dibahu Natasha, menggeleng kecil.

Melihat itu, Giboom dengan cepat mengecek suhu Bora dengan menempelkan punggung tangannya didahi Bora. "Panas..."

"Kenza, kita tidak bisa terus disini. Selain itu juga, aku yakin Hyejin pasti baik-baik saja." ucap Giboom.

Kenza yang mendengar ucapan dari Giboom, dan melihat kondisi Bora yang begitu lemas. Akhirnya, ia menyuruh Giboom untuk pulang terlebih dahulu bersama Bora. Sedangkan dirinya, akan menunggu beberapa menit lalu setelah itu menyusul pulang.

Giboom yang saat itu dilanda rasa panik. Ia tidak menoleh ataupun membalas perkataan Kenza, ia memilih langsung membantu Bora, dan menuntunnya berjalan pergi.

Dan kini tersisa Natasha dan Kenza. Natasha yang melihat kondisi Bora memburuk. Ia kemudian mengajak Kenza untuk pulang saja, karena angin malam sangat berbahaya. Ditambah mereka berdua masih menggunakan seragam sekolah, dan tidak memakai baju tebal.

Namun Kenza menolak, "Kau pulang saja dahulu, aku ingin menunggunya."

Mendengar balasan dari Kenza, Natasha merasa kesal. "Hey Kenza, bisakah sekali saja jangan terlalu memikirkan dia? Pikirkan dirimu, pikirkan kesehatanmu!"

Kenza terdiam, ia mengangkat pandangannya ke arah rumah Hyejin tanpa membalas perkataan Natasha. Lalu tak lama, Kenza menoleh, "Pergilah." ucapnya lalu berjalan dan duduk didepan teras rumah.

Kekesalan Natasha memuncak, ia melempar tatapan penuh penekanan kearah Kenza. "Sejak awal... Niatku baik kepada kalian. Tapi jika itu keinginanmu Kenza, akan aku kabulkan." ucapnya lalu berbalik pergi.

Kenza yang mendengar perkataan Natasha, ia tersontak sembari melihat kepergian wanita yang kini pergi menjauh. Namun lamunannya pecah tak kala mendengar ponselnya berdering. "Ayah?"

Kenza dengan cekatan langsung mengusap titik angkat pada ponsel.

"Halo, Kenza? Kau dirumah?"

"Eum-mm..." Kenza sempat terpaku, ia ragu-ragu untuk mengatakan bahwa dirinya sedang dirumah Hyejin.

"Ayah tahu kau sedang menunggu dirumah Hyejin. Tapi untuk sekarang kembalilah pulang, Hyejin baik-baik saja dan sedang bersama ayah."

Kenza mengerutkan dahinya, "Ayah sedang dimana? Aku akan menyusul."

"Sudah, sekarang pulanglah itu pesanku." balas Jeremy lalu menutup telpon.

Mendengar sambungan terputus, Kenza kembali tersentak, ia bangun dari duduknya. Dengan kesal kembali menelpon ayahnya, tapi sayangnya tidak ada balasan. "Sial..."

••=••

"Ayah menelpon Kenza?" tanya Charles.

"Benar. Ayah hanya khawatir dia tidak pulang dan tetap menunggu disana."

Charles mengangguk kecil, lalu kembali bertanya apa yang sudah terjadi kepada Hyejin. Namun Jeremy hanya menghela nafas kecil, dan berkata bahwa Hyejin hanya kelelahan dan membutuhkan istirahat.

Charles menggeleng, ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan ayahnya. Pasalnya, Hyejin belum bangun dari tadi siang, membuat Charles semakin yakin bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.

Jeremy kembali menenangkan putranya dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja.

Melihat respon ayahnya, Charles hanya menghela nafas pelan dan kembali memandangi Hyejin yang masih tertidur diranjang. Sampai ketika tangan ayahnya menyentuh bahunya yang membuatnya sontak menoleh.

"Kau pulanglah, temani adikmu dirumah." pinta Jeremy.

Charles spontan menolak, "Aku akan menjaga dan menunggu Hyejin sampai ia bangun."

Jeremy menggeleng, "Tidak perlu, ayah yang akan menjaganya. Terlebih lagi, Hyejin masih memiliki urusan."

Charles mengerutkan dahinya, "Apa urusannya? Kenapa ayah tidak memberitahuku saja?"

Jeremy menurunkan tangannya, seraya menghela nafas pelan. "Aku akan beritahu semuanya, kepadamu dan juga kepada adikmu. Tapi untuk sekarang ayah mohon pulanglah."

Melihat tatapan ayahnya yang begitu serius, Charles tidak ada pilihan lain selain menurut. Ia sempat menoleh kearah Hyejin, setelah sesudahnya ia berbalik pergi.

∞•Ω•∞

Matahari pagi kembali menyapa dengan membawa kembali sinar hangatnya. Seseorang yang masih tertidur di ranjang terusik oleh sinar hangat yang menembus melalui jendela disana. Perlahan tubuhnya bangun, dengan kelopak mata yang berusah terbuka.

"Kau sudah bangun, selamat pagi."

Sapaan seseorang membuatnya menoleh, "Tu-tuan Jeremy?"

Jeremy terkekeh kecil, "Terakhir kali kau memanggilku dengan sebutan ayah...Hyejin."

Hyejin tersentak, "Euu– maksudku..." Hyejin terpaku, bibirnya sulit berucap.

Jeremy kembali terkekeh, "Sudah... Bagaimana keadaanmu? perawat bilang kau terkena tembakan?"

Hyejin mengangguk, namun tak menjawab pernyataan Jeremy.

Melihat lawan bicaranya yang tidak bisa membalas, Jeremy memilih duduk disamping Hyejin sembari memberikan bubur yang sudah ia siapkan. "Sekarang kau makanlah, bukankah kau memiliki janji?"

Hyejin melihat kearah bubur yang diberikan Jeremy, lalu setelahnya ia kembali mengangkat pandangannya, memberikan tatapan lembut dan hangat seolah-olah berkata, "Terimakasih."

••=••

Setelah selesai bersiap-siap, Hyejin dan Jeremy bergegas berangkat untuk memenuhi janji Hyejin kepada Nattan kemarin.

Selama perjalanan, Hyejin kembali membuka surat yang ditinggalkan Jangsu. Terlihat senyuman kecil tak kala Hyejin kembali membaca isi surat tersebut.

"Surat apa itu?" tanya Jeremy yang terlihat penasaran.

Hyejin menoleh, "Ini... Dari rekanku, Jangsu..."

"Sudah, tidak apa-apa. Dia sudah tenang disana." balas Jeremy.

Hyejin terkejut, kedua bola matanya berbinar. "Bagaimana tuan Jeremy tahu jika rekanku sudah tiada?"

Jeremy tersenyum kecil, sembari terus fokus menyetir. Ia menjelaskan, bahwa Nattan sudah memberitahu semuanya, bahkan alasan kenapa Hyejin terkena tembakan. Yang dimana semua itu hanya untuk menjebak Yuna.

Nattan juga memberitahu kepada Jeremy, jika Yuna tidak bisa menyingkirkan Hyejin terlebih dahulu, maka ia akan sulit untuk menyingkirkan Nattan. Namun juga sebaliknya, ia akan sulit menyingkirkan Hyejin, kecuali Hyejin disingkirkan oleh Nattan sendiri.

Mendengar penjelasan dari Jeremy, Hyejin hanya terdiam sembari pandangannya yang kembali turun menatap kembali surat yang ia pegang.

"Kau sudah melakukan yang terbaik, Hyejin." ucap Jeremy yang memecahkan suasana, dan berhasil membuat Hyejin tersenyum kembali.

••=••

Tak lama, mobil berhenti didepan sebuah gerbang. Hyejin dan Jeremy turun, dan berjalan berendengan masuk kedalam.

Suasana disana sunyi, mereka berjalan perlahan melewati batu nisan yang tersusun disana. Yah, pemakaman. Seperti janji Nattan kemarin.

Belum lama berjalan masuk, Hyejin melihat bayangan dua orang yang tengah berdiri disamping makam dengan keduanya sama-sama mengenakan jas berwarna hitam. Yang ternyata, adalah Nattan dan Mykel.

Mendengar langkah kaki mendekat, Mykel mengangkat pandangannya melihat bahwa Hyejin datang. Sontak, ia langsung berlari, dan tanpa mengucapkan apapun ia langsung memeluk wanita itu.


NEXT ?
vote dulu dong

REVENGE BLOOD Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang