"Lalu untuk kematian Pak wang?" tanya Hyejin.
Nattan menghela nafas kecil, ia menjelaskan bahwa memang benar ialah orang yang menembak Pak wang. Tapi ada alasan tersendiri kenapa ia melakukan itu.
Dikarenakan saat itu situasi sedang kacau, ditambah pak Wang maupun Nattan sudah tahu apa motif dari Yuna. Akhirnya, pak Wang meminta agar Nattan yang membunuhnya sebagai pengabdian terkahirnya. Daripada pak Wang harus terbunuh oleh tangan kotor Yuna.
"Maafkan aku... Aku lambat menyadarinya." ucap Hyejin yang tersadar ia begitu lambat menyadari semua itu.
"Jangan meminta maaf Hyejin. Pikiranmu kacau karena itu bersangkut paut dengan ibumu." balas Nattan.
"Bersangkut paut? Dengan Minjin?" tanya Jeremy ditengah obrolan.
Nattan awalnya tidak mau memberitahu, tapi ketika ia melihat bahwa Hyejin tidak mempermasalahkannya. Akhirnya, Nattan melanjutkan kembali ceritanya.
Karena sebenarnya, orang yang membunuh Minjin adalah Luis yang dibantu oleh Yuna. Mereka berdua bekerja sama untuk mengambil semua yang dimiliki Minjin, lalu setelah itulah mereka mulai mengincar Nattan.
Tentu saja, Jeremy yang mendengar alasan kenapa Minjin tiada, membuatnya dipenuhi dengan amarah. Karena yang membunuhnya adalah Luis, orang yang begitu ia percayai untuk menjaga wanitanya yang malah berbalik malah membunuh wanitanya.
Nattan yang melihat, perlahan ia menenangkan Jeremy. "Tenanglah, aku memiliki sedikit koneksi untuk menemukan Luis."
"Aku akan mencabik-cabik tubuhnya." ucap Jeremy penuh penekanan.
Nattan tersenyum tipis, "Kau tidak berhak membunuhnya, karena itu hak Hyejin."
Jeremy terkekeh, "Hyejin adalah putriku, jadi...Itu juga hak ku."
Nattan mengerutkan kedua alisnya, ia lalu meminta Jeremy untuk menjelaskan kenapa Hyejin bisa disebut sebagai putrinya.
Jeremy kembali terkekeh, ia memberitahu bahwa dulu sebelum Minjin menikah dengan Luis. Ialah yang pertama menikahi Minjin, walau dengan pernikahan sederhana. Dan saat itu, Minjin berhasil mengandung.
Nattan yang mendengar cerita tersebut ia tertawa kecil, "Dasar licik."
"Tentu tidak, Nattan. Kami menikah dalam pernikahan yang sah." bela Jeremy.
"Terserah kau, sekarang aku ingin..." Nattan bangun dari duduknya, ia berjalan menghampiri Hyejin yang sedari tadi hanya memperhatikan obrolan mereka.
Tubuh Nattan perlahan turun, bersimpuh dengan kedua kakinya dilantai. Yang sontak hal itu membuat Jeremy mau Hyejin terkejut bukan main. Bahkan saat itu Hyejin ingin meloncat dari ranjang, untuk membantu Nattan bangun.
"Duduklah dengan nyaman Hyejin. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu." ucap Nattan.
Hyejin mengangguk, "Silahkan...Tuan."
Nattan merendahkan pandangannya, "Aku ingin berterimakasih dan meminta maaf untuk semuanya, Hyejin..."
"Aku sadar, kehadiran mu bukan hanya tamu bagiku. Tapi, juga adalah cahaya untuk hidupku yang hanya fokus pada pekerjaan."
"Kau membuatku belajar banyak, dan karena itu, aku ingin berterimakasih dengan benar."
"Sudah berapa kali nyawamu hampir hilang hanya karena keegoisanku? Yang tak pandai menjadi seorang ayah?"
"Dan untuk kali ini..." Pandangan Nattan naik, disusul oleh tubuhnya yang ikut bangun. Perlahan Nattan mendekat, dan memeluk lembut gadis dihadapannya.
Dan hal itu membuat Hyejin kembali terkejut sekaligus tangisnya yang ikut pecah. Mendapat sebuah pelukan hangat dari orang yang begitu ia percayai untuk pertama kalinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
REVENGE BLOOD
Teen FictionSeorang gadis kecil yang seharusnya tumbuh dengan belaian kasih sayang dan didikan baik dari orang tua. Kini ia harus menerima takdir dari kehilangan ibunda tercinta. Tumbuh menjadi wanita berdarah dingin, hanya sekedar untuk membalaskan dendam. A...
