"Permisi, sepertinya kau salah orang." ucap Charles yang merasa bahwa tidak ada hal yang salah yang dilakukan oleh dirinya, Hyejin, ataupun teman-temannya.
Seulgi tersenyum, "Aku tidak salah, aku kesini karena ingin menjenguk Hyejin."
Charles sempat mematung sejenak, karena bagaimana polisi didepannya tahu kalau Hyejin sedang sakit?
"Bisa aku bertemu Hyejin?" tanya Seulgi membuyarkan lamunan Charles.
Charles kembali buka suara dengan berkata bahwa Hyejin sedang beristirahat dan belum bangun. Namun kembali, hal itu dipatahkan ketika sebuah suara terdengar dari dalam. "Polisi Seulgi, silahkan masuk."
Charles menoleh kearah mana asal suara itu muncul, yang ternyata dari Hyejin yang kini sudah terduduk di ranjang.
Melihat itu Charles yang awalnya sedikit keberatan dengan kedatangan Seulgi, mau tak mau mempersilahkannya masuk. "Silahkan masuk." ucapnya.
Seulgi berterimakasih, lalu berjalan masuk dan langsung duduk dikursi dekat ranjang milik Hyejin. "Sebenarnya, aku mendengar kau sakit dari kedua temanmu. Makanya ku putuskan untuk menjengukmu terlebih dahulu."
Mendengar penjelasan dari Seulgi, Hyejin hanya bisa meminta maaf karena telah merepotkan. Padahal sakit yang Hyejin rasakan hanya sakit perut biasa. Tapi nyatanya, perkara itu dibantah oleh Seulgi, karena meskipun hanya penyakit biasa jika sampai masuk rumah sakit berarti penyakitnya sudah dalam level lanjutan. Seulgi meminta kepada Hyejin, agar lainkali lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatan.
Pembahasan obrolan terus berganti, membicarakan hal-hal kecil nan hangat, yang membuat mereka berdua tak sadar jika waktu berlalu bergitu cepat.
Seulgi kemudian izin pamit kepada Hyejin, dan kembali memberikan saran baik, termasuk berdoa agar Hyejin lekas membaik.
"Eumm, permisi Seulgi..."
"Iya? Ada apa Hyejin?"
"Kamu tahu kemana polisi Jimmy pergi? Aku sudah mencoba menghubunginya tapi ponselnya tidak dapat dihubungi."
"Ouh polisi Jimmy, ia pergi menjenguk temannya didesa dan belum kembali."
"Ternyata begitu...Baiklah terimakasih banyak."
Seulgi tersenyum simpul, "Kau merindukan Jimmy?"
mendengar perkataan Seulgi, dahi Hyejin mengkerut bingung. "Tidak kok..."
"Tapi Jimmy bilang, dia merindukanmu."
"Maksudmu?"
Belum sempat mendapat jawaban dari pertanyaan yang terakhir, Seulgi sudah langsung beranjak pergi. "Lekas membaik Hyejin."
Melihat itu, Hyejin hanya bisa terdiam sembari melihat punggung polisi wanita itu yang semakin menjauh.
Charles kemudian duduk menghampiri, setelah selesai menutup kembali pintu. "Seulgi dan Jimmy? bukankah itu polisi yang menangani kasus disekolah kita tempo lalu?"
"Kau sangat akrab dengan mereka ya? Apalagi Jimmy." sambung Charles yang kini berinisiatif memotong buah apel yang disediakan Bora tadi.
Hyejin menggeleng, "Tidak...Kami hanya sering bertemu, oleh karena itu kami terlihat lebih akrab."
"Ada apa Charles?" sambung Hyejin.
"Bukan apa-apa." jawab Charles yang langsung memakan apel ditangannya yang padahal belum terkelupas semua.
Hyejin yang melihat tentu saja dibuat kaget, karena cara makan Charles, ditambah dengan wajahnya yang begitu jelas memperlihatkan bahwa dirinya sedang marah.
Karena penasaran, Hyejin bertanya apa yang telah terjadi. Atau mungkin Charles juga mengenal Seulgi dan Jimmy.
"Tidak." ucap Charles sembari menelan apel yang ia kunyah.
Hyejin terdiam memandangi wajah Charles, sembari menunggu Charles melanjutkan perkataannya.
"Hanya saja...Kenapa harus Jimmy? Kenapa Harus lelaki lain yang kau tanyakan? Sedangkan aku dihadapanmu." sambung Charles yang langsung membuang muka.
Sontak, perkataan yang dilemparkan Charles membuat Hyejin terdiam membeku dengan mata yang membulat sempurna. Perlahan, senyuman kecil terukir disudut bibir Hyejin. "Charles...Aku..."
"HYEJIN...KAMI KEMBALI..."
Sebuah teriakan tiba-tiba terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka. Terlihat pelaku yang berteriak, siapa lagi jika bukan Bora dan Giboom yang datang. Namun saat itu, bukan hanya mereka berdua yang datang, tetapi Jeremy dan Kenza terlihat kembali datang.
"Kau sudah bangun Hyejin." ucap Kenza menghampiri. "Suhu badanmu sudah turun?" sambungnya sembari menempelkan punggung tanganya didahi Hyejin.
"Aku baik-baik saja." balas Hyejin, bersamaan dengan tangan Kenza yang kembali turun.
"Eh, kau mengupas apel untuk Hyejin? Charles?" tanya Bora yang terusik melihat piring dan pisau, serta sedikit kulit apel yang tersisa.
"Aku ke toilet dulu." jawab Charles yang langsung beranjak pergi.
Pandangan semua orang yang berada disana tertuju pada Charles yang berjalan pergi.
"Apa dia menjagamu dengan baik ketika aku tidak ada?" tanya Kenza.
Hyejin menggeleng, sembari menyenderkan punggungnya ke dinding yang berada dibelakang nya. "Tidak, ia sudah menjagaku dengan baik."
••=••
Waktu kembali berlalu, langit malam yang gelap kini tergantikan oleh matahari yang mulai muncul, dengan sinar hangatnya menembus jendela kamar.
Terlihat Hyejin yang berbaring, sembari memandangi langit-langit atap ruangannya. Kembali pikiranya mengingat kejadian beberapa hari lalu, yang tak lain, Nattan. Hyejin masih berpikir jika semua itu mimpi, tapi ia juga sadar bahwa itu adalah sebuah kenyataan dunia.
Hyejin kemudian perlahan bangun dan duduk diranjangnya. Ia mengedarkan pandangannya, melihat orang-orang baik yang menemaninya kemarin malam. Charles, Kenza, Giboom dan Bora, yang terlihat masih tertidur dikasur yang disediakan disana.
Karena pilihan mereka yang ingin menginap untuk menemani Hyejin, Jeremy menyiapkan tempat tidur, berupa 4 kasur beserta selimut dan bantal setelah sebelumnya Jeremy pamit pulang.
Hyejin menghela nafas panjang, perlahan dirinya mulai bergerak turun dari ranjang berniat untuk keluar dan mencari udara segar. Langkah yang begitu hati-hati, Hyejin berjalan keluar dan sebisa mungkin tidak membangunkan teman-temannya.
Hyejin tidak pergi terlalu jauh, ia hanya pergi ke taman kecil yang disediakan rumah sakit disana. Sembari melihat bunga-bunga yang segar di pagi hari, Hyejin malah teringat dengan mendiang ibunya.
Potongan-potongan kenangan kembali menghampiri, dan sialnya bukan hanya mendiang ibunya. Melainkan semua hal-hal berat yang Hyejin lalui selama ini kembali muncul.
Kepergian? Kekecewaan? Rasa sakit? Apa lagi? Semua itu berhasil membuat mata Hyejin memerah dan memberikan rasa sesak dihati. Namun Hyejin berusaha tenang, ia perlahan mengusap air mata, sebelum air mata itu berjatuhan.
Hyejin meyakinkan dirinya sendiri, bahwa pasti ada pelangi diujung perjalanannya. Entah kapan ia akan bertemu dengan pelangi itu, tapi kali ini dirinya harus bisa bertahan sampai akhir.
Merasa bahwa dirinya sudah terlalu lama berada disana, ditambah rasa khawatir muncul, jika teman-temannya bangun dan melihat dirinya tidak ada diranjang akan membuat mereka panik.
Hyejin berniat untuk cepat kembali, tapi belum sempat ia melangkahkan kakinya. Tubuhnya tiba-tiba diam membeku, sorot mata begitu terkejut, tak kala melihat kedatangan seseorang yang menghampiri.
"Ternyata kau disini...Hyejin."
"Sudah kubilang...Anggap kita tidak saling mengenal, Tuan...Nattan."
NEXT ?
Vote dulu dong
KAMU SEDANG MEMBACA
REVENGE BLOOD
Teen FictionSeorang gadis kecil yang seharusnya tumbuh dengan belaian kasih sayang dan didikan baik dari orang tua. Kini ia harus menerima takdir dari kehilangan ibunda tercinta. Tumbuh menjadi wanita berdarah dingin, hanya sekedar untuk membalaskan dendam. A...
