Mendapati pelukan hangat pertama kali yang diberikan adik tirinya. Hyejin membalas dengan lembut pelukan itu. Ia dapat merasakan kekhawatiran yang dirasakan oleh adiknya itu.
"Dia sangat mengkhawatirkanmu, Hyejin." ucap Nattan menyela.
Hyejin tersenyum kecil, sampai pelukan itu terlepas. Hyejin melihat dengan jelas bahwa sosok adik yang selama ini begitu dingin terhadapnya, kini menangis didepannya karena begitu mengkhawatirkannya.
Bahkan Nattan disana, sampai meledek Mykel yang disebut-sebut sebagai kutub utara itu kini berubah menjadi anak cengeng.
"Aku tidak cengeng!" tekan Mykel tidak terima.
Hyejin terkekeh, "Terimakasih, aku juga senang melihat mu baik-baik saja."
Mykel mengusap kecil air mata dipipinya, ia menatap dalam Hyejin. "Terimakasih sudah menjaga ayah dengan baik. Tapi, aku minta maaf karena tidak bisa menjaga yang lain."
Hyejin menggeleng, ia tidak bisa menyalahkan Mykel, karena ia juga sama-sama tidak bisa menjaga rekan mereka yang lain.
Nattan lalu menyela percakapan diantara mereka, dengan berkata bahwa surat yang Hyejin dapat dari Pak Wang, itu sudah di edit oleh Mykel. Nattan berkata, bahwa Jangsu berusaha memberi pesan kepada Hyejin yang sebenarnya, namun karena takut ketahuan akhirnya ia hanya menuliskan pesan biasa.
Untungnya saat surat itu diberikan kepada Pak Wang oleh Yuna, Mykel berhasil untuk menyelipkan pesan kecil disana, sebelum akhirnya Pak Wang tiada.
Hyejin sekarang menjadi paham, mengapa bagian belakang surat terasa lebih tebal, karena itu ulah Mykel yang sengaja mencetak disana.
Mykel juga menambahkan, ia tidak bisa menghubungi atau memberitahu Hyejin tentang rencana Yuna, karena Nattan menyuruhnya pergi untuk tidak terlibat dengan masalah ini. Ketika ia hendak menghubungi, selalu saja Yuna menghalangi seolah-olah ia tahu bahwa Mykel mengancam rencananya.
Lalu pada akhirnya, tidak ada pilihan lain selain pilihan ini walaupun akhirnya harus mengorbankan nyawa Pak Wang.
Mendengar semua penjelasan itu, Hyejin hanya bisa menunduk diam. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena malah tidak berguna, bahkan memperburuk keadaan.
Mykel yang melihat Hyejin termenung, ia mengusap lembut bahu kakaknya itu, sembari berkata bahwa Hyejin sudah melakukan yang terbaik, bahkan ayahnya masih disini itu juga berkat Hyejin.
Hyejin mengangguk sembari tersenyum hangat, "Terimakasih... Terimakasih banyak."
Mykel membalas senyuman Hyejin, ia lalu berbalik dan berjalan kearah makam Jangsu. "Kau melihatnya? sekarang beristirahatlah dengan tenang."
"Hyejin..." ucap Nattan.
Hyejin menoleh, menunggu Nattan melanjutkan ucapannya.
Nattan mengangkat tanganya, mengelus lembut rambut Hyejin. "Aku pergi sekarang, jaga dirimu."
Bola mata Hyejin berbinar, belum sempat ia membalas, Nattan sudah terlebih dahulu menurunkan tanganya sembari menoleh kearah Jeremy yang sedari tadi hanya memperhatikan. "Jaga putriku..." lalu setelahnya Nattan berjalan pergi dan masuk kedalam mobil.
Mykel yang melihat ayahnya, ia kemudian berjalan menghampiri ke mobil. Namun sebelum masuk, Mykel kembali menoleh kearah Hyejin. Dengan senyuman hangat dan manis, ia mengatakan ucapan selamat tinggal.
"Kak, hiduplah dengan baik."
Hyejin tersenyum, ia senang, tapi entah kenapa hatinya terasa sesak. "Tentu, kau juga...Mykel."
Mykel masuk kedalam, dan mobil pun melaju, dengan diiringi lambaian selamat jalan dari Hyejin.
Jeremy yang mengerti perasaan Hyejin, ia membantu menenangkan dengan merangkul bahu Hyejin, dan meyakinkan bahwa suatu hari nanti mereka pasti bertemu lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
REVENGE BLOOD
Teen FictionSeorang gadis kecil yang seharusnya tumbuh dengan belaian kasih sayang dan didikan baik dari orang tua. Kini ia harus menerima takdir dari kehilangan ibunda tercinta. Tumbuh menjadi wanita berdarah dingin, hanya sekedar untuk membalaskan dendam. A...
