Suara hentakan kaki, nafas yang terengah-engah dari dua sosok lelaki yang berlari masuk kesebuah gedung, yang biasa orang-orang menyebutnya Rumah Sakit.
Pandangan yang berlarian, mencari jalan kemanakah mereka harus segera pergi. Sampai disalah satu dari mereka buka suara. "Kenza, dimana ruangannya?" tanya Charles disela-sela helaan nafasnya.
"Giboom bilang, Hyejin berada dilantai dua, diruangan nomor 09."
Mendapatkan konfirmasi, kedua lelaki itu kembali berlari masuk, mencari jalan untuk bisa mencapai tempat yang mereka tuju. Namun, mereka berdua tak sadar, jika ayah mereka, Jeremy. Yang juga ikut tertinggal jauh dibelakang, karena mobil yang harus diparkiran terlebih dahulu.
••=••
Langkah demi langkah, ruangan demi ruangan yang dilalui, fokus Charles dan Kenza tak pecah untuk mencari sang pujaan hati.
Sampai ketika bayangan orang yang menghubungi mereka mulai terlihat. Giboom berdiri diambang pintu, seperti sedang menunggu sesuatu.
Mendapati hal itu, Charles dan Kenza semakin mempercepat langkahnya, sampai mereka tiba, dan langsung segera meraih gagang pintu, mengabaikan Giboom yang sudah menyapa dengan senyuman lebarnya.
"HYEJIN!!"
Kedua lelaki itu mendadak membeku diambang pintu, setelah akhirnya berhasil menemukan orang yang mereka cari. Melihat Hyejin yang tengah terduduk diranjang, dengan disampingnya Bora yang tengah mengaduk secangkir teh hangat.
Tanpa banyak bicara, Charles dan Kenza langsung menghampiri.
"Kau baik-baik saja?"
"Apa yang sakit?"
"Kenapa sampai seperti ini?"
"HEYYY!!" Teriak Bora menyela. Bukan tanpa sebab Bora melakukan itu, selain merasa kesal karena pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan, padahal kondisi Hyejin baru saja membaik.
"Apa kalian tidak melihat?! Hyejin sedang sakit, dan kalian malah seperti itu." sambungnya penuh penekanan.
Mendengar perkataan Bora, Charles dan Kenza menyadari kesalahan mereka. Perlahan, mereka berdua mundur dengan pandangan tertunduk kebawah.
Hyejin terkekeh kecil, "Aku baik-baik saja, maaf membuat khawatir."
Charles dan Kenza, mengangkat pandangan dengan hembusan nafas lega. "Syukurlah, Hyejin." ucap Kenza.
"Kalian ini jahat sekali. Aku sudah menunggu kalian di pintu masuk, tapi kalian mengabaikanku." gerutu Giboom yang baru saja masuk menutup pintu.
Charles menoleh dengan kerutan didahinya, "Kenapa kau memberitahu jika Hyejin tida bernafas? Hah?!"
"Benar. Kenapa?" timpal Kenza ikut bertanya.
Giboom yang mendengar, ia sempat terdiam sejenak, sembari melihat kearah Hyejin, yang sepertinya juga menunggu penjelasan dari dirinya.
Giboom lalu memberitahu, bahwa Bora, pacarnya tidak bisa dihubungi dari kemarin malam. Giboom pikir bahwa Bora pasti pergi kerumah Hyejin. Oleh karena itu, keesokan harinya Giboom pergi kerumah Hyejin.
Tapi tidak disangka-sangka, Giboom malah menemukan Hyejin tergeletak ditanah. Otomatis Giboom panik, dan langsung menghubungi semua orang yang bisa ia hubungi tanpa memeriksa kondisi Hyejin terlebih dahulu. Dan setelah ia menelpon banyak orang, dirinya baru memeriksa kondisi Hyejin yang ternyata Hyejin masih bernafas. Dengan cepat, Giboom membawa Hyejin kerumah sakit terdekat.
"Aku minta maaf jika aku membuat kepanikan. Hanya saja waktu itu, perasaanku juga campur aduk. Aku juga khawatir dengan Bora." sambung Giboom.
"Kamu menyalahkan diriku?" tanya Bora yang langsung membuang muka.
KAMU SEDANG MEMBACA
REVENGE BLOOD
Ficțiune adolescențiSeorang gadis kecil yang seharusnya tumbuh dengan belaian kasih sayang dan didikan baik dari orang tua. Kini ia harus menerima takdir dari kehilangan ibunda tercinta. Tumbuh menjadi wanita berdarah dingin, hanya sekedar untuk membalaskan dendam. A...
