Pukul tiga sore, suasana kelas masih sangat tegang. Hari terakhir ujian menjadi hari paling berat, karena pelajaran yang dihadapi adalah pelajaran yang paling sulit untuk dilewati.
Teng... Teng...
"Akhirnyaaaa...." Giboom menghela nafas panjang.
Semua murid merasa senang, karena waktu ujian akhirnya berakhir, walau mereka tidak yakin dengan jawaban yang mereka isi, tapi yang terpenting waktu pulang sudah tiba.
"Kepalaku rasanya ingin copot." keluh Bora.
Hyejin tersenyum kecil. Namun, senyumannya langsung turun kembali. Setelah melihat ponselnya masih tidak ada jawaban masuk dari Jimmy. Lima hari lalu Jimmy berjanji akan memberikan jawaban yang dibutuhkan, namun sampai saat ini, nomor nya masih tidak aktif.
Sudah bertanya kepada Seulgi, namun sayangnya, bahkan Seulgi tidak tahu kemana Polisi itu pergi. Setelah menjenguk temanya yang ada di desa, Seulgi hanya mendapat kabar jika perjalanan Jimmy terhenti karena badai.
"Kau baik-baik saja, Hyejin?" tanya Charles yang melihat Hyejin tampak khawatir.
Hyejin mengangguk pelan.
"Ayolah Hyejin... Jangan mematahkan semangat. Besok lusa kita akan ke taman hiburan." Sela Giboom menghampiri.
"Lagian, kau sendiri yang bilang jangan terlalu memikirkan nilai." Lanjut Giboom.
Hyejin tersenyum seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Aku tidak memikirkan nilai... Ak-"
"Sudah-sudah. Ayo kita pulang, atau sekolah akan ditutup." Sela Bora, yang langsung merangkul Hyejin.
••=••
Langkah kaki murid-murid yang dipenuhi canda dan tawa. Memberikan gambaran betapa lega dan bahagia nya perasaan mereka setelah selesai ujian akhir semester.
Mereka mulai membuat sebuah rencana akan pergi liburan, atau melakukan apa setelah kenaikan dan kelulusan nanti.
Hyejin yang teringat juga, ia tak lupa membuat rencana untuk pergi kepantai bersama. Menikmati sunset sekaligus merayakan kelulusan sebelum akhirnya mereka berpisah menempuh jalan masing-masing.
"Ide yang sangat bagus... Aku setuju." ucap Bora.
"Astaga... Bukankah kita akan ke taman hiburan?" tanya Natasha.
Bora mengangguk, "Tentu saja. Setelah kelulusan baru kita pergi kepantai."
"Tentu, tentu. Kita akan pergi kesana bersama. Sekarang, ayo pulang. Kau perlu istirahat." Sela Giboom.
Bora megangguk setuju, digerbang sekolah, ia berpamitan kepada Hyejin dan yang lainnya. "Jangan lupa istirahat Hyejin, aku tidak ingin melihatmu sakit lagi."
Mendengar ucapan Bora, Hyejin tertegun. Menatap kedua mata lawan yang menyipit degan senyuman hangatnya. Belum sempat membalas, Bora sudah terlebih dahulu pergi dengan lambaian tangannya.
"Kalau begitu, aku juga pamit." Ucap Natasha
Hyejin tersenyum lembut, memberitahu Natasha untuk berhati-hati sekaligus mengingatkanya, jika butuh sesuatu atau terjadi sesuatu jangan sungkan untuk menghubungi Hyejin.
Natasha terkekeh kecil, "Kau mengkhawatirkan ku?"
Hyejin mengangguk penuh. Setelah kematian ayah Natasha seminggu yang lalu, sekarang Natasha lebih sering sendirian dirumahnya. Bukan tanpa alasan Hyejin seperti ini, hanya saja, dari mulai ia masuk sekolah. Teman yang selalu mendukung nya adalah Natasha dan Bora. Bahkan Hyejin, sudah menganggap Natasha seperti kakaknya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
REVENGE BLOOD
Fiksi RemajaSeorang gadis kecil yang seharusnya tumbuh dengan belaian kasih sayang dan didikan baik dari orang tua. Kini ia harus menerima takdir dari kehilangan ibunda tercinta. Tumbuh menjadi wanita berdarah dingin, hanya sekedar untuk membalaskan dendam. A...
