Episode 116

23 1 0
                                        

"Nadia itu adalah Adik saya." Yusuf menghela nafas, ia sendiri merasa malu dengan kelakuan Nadia.

Rangga dan Guru yang lain terkejut, Yusuf tidak pernah menceritakan apapun tentang keluarganya yang bernama Nadia.

"Dia jatuh cinta pada Ivan saat pertama kali melihat Ivan datang kerumah bersama Sinya untuk melamar Nadia, aku pikir Nadia akan menikah dengan Ivan, tapi ternyata menikah dengan Ayahnya Ivan." Yusuf merasa sangat menyesal dengan sikap Nadia, gadis itu tetap menikah dengan Sinya padahal tidak cinta.

"Tunggu, Pak. Bukankah Pak Ivan itu keponakan Bapak?" Rangga bertanya.

"Benar, tepatnya saya menganggap Ivan seperti keponakan saya sendiri sejak Ivan masih kecil. Jadi saya tahu semua tentang Ivan, hanya saja saya tidak menyangka Ivan tumbuh menjadi pria tampan dan menawan." Yusuf tersenyum sendiri.

Rangga mengangguk, mereka tidak tahu mana cerita yang benar, tapi tidak tertarik juga untuk bertanya.

Rangga dan Ian memutuskan segera pulang, namun terpaku melihat adegan mesra Maulana dan Fira di depan kantor Guru.

"Kenapa Pak Ivan dan Fira masih pelukan di sini?" Rangga bertanya dengan lirih, tatapan matanya memancarkan rasa iri.

"Mungkin Pak Ivan mengira kita semua sudah pulang, karena sudah sepi juga." Ian mencoba memahami, ia memperhatikan sudah tidak ada lagi murid yang tersisa selain Fira.

"Aku jadi ingin punya Istri." Rangga menatap sepasang Suami Istri itu cemburu.

Maulana melepaskan pelukannya pada sang Istri, ia menundukkan kepala kemudian sedikit memiringkan kepala hendak mencium bibir Fira.

Rangga dan Ian tidak sabar melihat adegan romantis itu.

"Pak Ivan."

Maulana terkejut dan langsung menegakkan kembali kepalanya mendengar suara Indri, ia pikir semua Guru sudah kembali ke rumah masing-masing, tapi ternyata masih ada yang belum pulang.

Rangga dan Ian menoleh pada Indri kesal, seakan ingin mengatakan,"Ganggu saja."

Indri berjalan mendekati Maulana."Pak Ivan tadi mau apa?"

Maulana memutar tubuh."Maaf, Bu Indri. Saya kira semua sudah kembali, kalau begitu saya dan Istri saya pergi dulu."

Maulana meraih pinggang sang Istri lalu membawanya pergi, Indri kesal sendiri dengan Maulana, pria itu sekarang selalu menjaga jarak dengannya.

Rangga dan Ian berjalan mendekati Indri."Bu Indri ganggu saja, kenapa tadi tidak tunggu sampai Pak Ivan dan Fira ciuman?" Rangga menatap Indri kesal.

"Pak Rangga, ini di sekolah. Harusnya Pak Ivan tidak melakukan itu." Indri heran dengan Rangga.

"Mau dimanapun juga tidak apa-apa, Bu. Mereka itu sudah halal, lagi pula kan Pak Ivan tadi bilang, Pak Ivan mengira kalau kita semua sudah pulang. Jadi dikira hanya ada Pak Ivan dan Fira saja, lagian hanya mencium Istrinya, Bu." Rangga tidak membenarkan ucapan Indri.

"Maaf, kalian jangan bertengkar lagi. Setiap orang punya pemikiran beda-beda, lagi pula Pak Ivan juga tidak berniat pamer. Hanya ..." Ian diam sejenak.

Indri dan Rangga menunggu kalimat selanjutnya dari Ian.

"Hanya Pak Ivan itu sebenarnya tipe pria mesum, tapi karena Pak Ivan itu seorang Guru Agama, jadi berusaha menutupinya." Ian melanjutkan kalimatnya.

"Pak Ian, jangan bilang seperti itu. Pak Ivan hanya begitu pada Fira saja, pada yang lain tidak kok." Rangga merasa kalimat Ian berlebihan dalam mengartikan sikap Maulana.

"Saya pikir apa yang dikatakan Pak Ian itu benar, saya sering melihat Pak Ivan itu mencium Fira saat tidak ada orang. Saat di ruang kerja Pak Ivan sepi, dan saya sengaja mengin..." Indri langsung menutup mulut menyadari dirinya hampir membongkar kebiasaan mengintip Maulana saat pria itu sendirian.

Rangga dan Ian syok mendengar ucapan Indri, mau apapun profesi seseorang yang namanya wanita cemburu pada pria itu akan melakukan apapun.

"Sudalah, saya mau pulang dulu. Biasanya yang menutup dan mengunci pintu gerbang itu Pak Fransis." Indri memutar tubuh meninggalkan tempat itu, rasanya sangat memalukan ketahuan mengintip.

***

Maulana membukakan pintu mobil untuk sang Istri, setelah gadis itu masuk dan duduk dengan nyaman di jok penumpang, ia pun berjalan memutar dan duduk di jok kemudi.

Maulana segera melajukan mobil meninggalkan halaman sekolah SMA Dirgantara, pria itu tidak memutar menuju jalan ke rumahnya namun arah lain.

"Kita mau kemana, Mas?" Fira menoleh pada sang Suami, pria itu terlihat tenang namun menyimpan emosi dalam hati.

"Mas belum pernah ajak kamu shopping, Mas mau bawa kamu ke Mall. Kamu belanja apa saja yang kamu suka." Maulana tersenyum menoleh sejenak pada sang Istri.

Fira mengangguk, ia kembali mengalihkan perhatian pada jalan di depan."Belanja apa? Aku sama sekali tidak ada niat."

"Apa kamu tidak pernah ke Mall?" Maulana heran dengan jawaban sang Istri.

"Tidak pernah, aku paling beli baju juga dibelikan Ayah. Mall itu untuk orang kaya, kalau orang seperti ku palingan hanya mejeng." Fira tersenyum malu, seakan mengatakan perbedaan kasta antara dirinya dan sang Suami.

"Mejeng?" Maulana menaikkan sebelah alis, tidak mengerti maksud kata mejeng.

"Iya, Mas." Fira menoleh pada sang Suami."Mejeng itu, aku hanya jalan-jalan saja, tidak beli apapun dan gaya-gayaan saja hehehe."

Maulana tersenyum tipis."Baiklah, nanti kamu boleh beli apa saja."

Fira mengangguk."Mas sepertinya sedang kesal."

Maulana menghela nafas."Mas memang kesal, Mas merasa diperlakukan oleh Nadia. Bisa-bisanya dia datang ke sekolah dengan pakaian seperti itu, Mas ini seorang Guru Agama, dia seperti tidak menghargai Mas saja."

Fira mengangguk, ia tersenyum lembut."Mas, Mas jangan terlalu kesal. Kemarin Mas habis berkelahi dengan orang-orang aneh itu, malamnya Mas masuk rumah sakit. Aku takut kalau sekarang Mas kesal lagi, Mas masuk rumah sakit lagi." Gadis itu mengalihkan perhatian pada sang Suami.

"Jika Mas izinkan, aku bisa kok bicara sama Mama Nadia."

Maulana tertegun sejenak, selain Ibunya, baru sekarang ada yang peduli lagi padanya. Ia menoleh sejenak pada sang Istri."Tidak, Sayang. Mas baik -baik saja, karena itu Mas ingin mengajakmu berbelanja di Mall, kamu adalah hiburan untuk Mas."

"Ouh." Fira merasa aneh, hiburan seseorang dengan membelanjakan seorang Istri.

MB (Mall Bulan)

Mall Bulan adalah sebuah pusat perbelanjaan yang megah dan modern, terletak di jantung kota. Dengan arsitektur yang unik dan futuristik, Mall Bulan menjadi ikon kota yang menarik perhatian banyak orang.

Di dalam Mall Bulan, pengunjung dapat menemukan berbagai toko-toko yang menjual produk-produk fashion, elektronik, makanan, dan lain-lain. Terdapat juga area bermain anak-anak, bioskop, dan restoran yang menyajikan berbagai jenis makanan.

Mall Bulan memiliki suasana yang nyaman dan ramah, dengan pencahayaan yang indah dan dekorasi yang elegan. Fasilitas parkir yang luas dan aman, serta layanan keamanan yang ketat, membuat pengunjung merasa aman dan nyaman berbelanja.

Mall Bulan juga menjadi tempat pertemuan yang populer bagi masyarakat, dengan berbagai acara dan kegiatan yang diadakan secara berkala. Dengan demikian, Mall Bulan menjadi sebuah destinasi yang wajib dikunjungi bagi siapa saja yang ingin berbelanja, bersantai, dan menikmati waktu bersama keluarga dan teman-teman.

Suami Terbaik 2 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang