Satu jam pelajaran tidak menerima pelajaran apapun, Edo sebagai Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan pun memaklumi, ia bahkan sengaja membelikan murid-murid kelas 3F minuman dan makanan di kantin kemudian dibawa ke ruang kelas sebagai tanda permintaan maaf.
"Jadi bagaimana, apakah kalian semua bersedia memaafkan Bapak?" Edo duduk di meja Guru sambil memakan semangkuk Mie Ayam.
"Tentu saja, Pak." Antonio mengeluarkan kotak merah dari dalam tasnya, ia bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati Edo.
"Saya baru beli jam tangan baru, Pak. Buat Bapak saja." Antonio menaruh kotak merah itu di atas meja.
Edo terdiam sejenak, jam tangan yang milik Antonie itu limited edition dan harganya pun tidak murah.
"Antonio, ini ..."Edo meraih jam tangan itu."Harganya pasti tidak murah."
"Biasa saja kok, Pak. Tidak semahal punya Pak Ivan juga." Antonio memutar tubuh setelah memberikan jawaban, ia kembali duduk di bangkunya dan memakan bakso.
Maulana menoleh pada Antonio, ia duduk di bangku Fira sambil menyuapi sang Istri makan Mie Ayam."Kenapa bawa-bawa Bapak?"
Antonio mengalihkan perhatian pada Maulana."Jam tangan Bapak kan sangat mahal."
"Biasa saja, hanya 55 juta." Maulana melanjutkan dalam hati."Dolar Amerika."
"Itu sangat mahal, Pak Ivan." Edo mengalihkan perhatian pada Maulana, ia bangkit dari tempat duduknya lalu berdiri di samping Maulana.
Edo memperhatikan jam tangan yang melingkari pergelangan tangan Maulana."Itu pinggirannya seperti permata."
Maulana menoleh pada jam tangan miliknya."Bukan, Pak. Itu hanya hiasan." Maulana tidak berkata jujur bahwa pinggiran bagian tengah itu adalah berlian.
Fira meraih tangan Maulana lalu memperhatikan jam tangan itu, memang sangat indah.
Jam tangan Graff Diamonds Hallucination milik Maulana adalah sebuah mahakarya yang luar biasa. Dengan harga sekitar $55 juta, jam tangan ini terdiri dari rangkaian berlian langka dan berwarna-warni dengan total 110 karat, dipadukan dengan gelang platinum yang elegan.
Desainnya yang unik dan mewah membuat jam tangan ini menjadi salah satu yang paling eksklusif di dunia. Berlian-berlian yang digunakan memiliki warna dan potongan yang sangat langka, membuatnya menjadi sangat berharga.
Dengan memiliki jam tangan Graff Diamonds Hallucination, Maulana menunjukkan selera dan statusnya yang tinggi. Jam tangan ini tidak hanya sebuah aksesori, tetapi juga sebuah karya seni yang sangat berharga.
"Ini ..." Fira menunjuk bagian warna-warni di jam tangan tersebut.
Maulana menghela nafas malas melihat cara Edo dan Fira memperhatikan jam tangan miliknya."Sudah, jangan dilihat lagi."
Edo menarik kepalanya, begitupun Fira. Mereka merasa setiap barang yang dipakai pria itu bukan barang biasa, tidak ada yang harganya biasa saja.
"Pak Ivan, Bapak beli dimana jam tangan itu?" tanya Edo penasaran.
"Di pasar." Maulana asal menjawab, ia membeli jam tangan itu di Graff Diamonds, dirinya pemilik perusahaan berlian tentu paling suka berbelanja di tempat-tempat yang setara.
Edo memutar tubuh malas, kucing pun tidak akan percaya kalau jam tangan macam itu terdapat di pasar bebas.
***
Waktu menunjukkan pukul 13:00, jam pelajaran telah selesai, Antonio berjalan mendekati Fira.
"Fira, kamu mau tidak jadi pacarku?" Ia berkata dengan senyum manis.
Naira dan Fira terkejut, Fira menatap Antonio bingung."Kamu tahu aku sudah punya Suami, aku mencintai Mas Ivan. Bagaimana mungkin aku jadi pacarmu?"
"Tidak apa-apa, kamu bisa jadi Istrinya Pak Ivan, tapi juga jadi pacarku."Antonio menggerakkan tangan hendak menyentuh tangan Fira, namun gadis itu menyingkirkan tangannya.
"Aku tidak ingin menyakiti hati Mas Ivan, aku seorang Istri, jadi aku akan selalu setia pada Suamiku." Fira menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan perlahan.
"Mas Ivan adalah sosok Suami sempurna untukku, tidak pernah menuntut ku untuk menjadi Istri sempurna. Mas Ivan adalah Suamiku, tapi dia bersedia menjadi pacarku juga. Jadi maaf, aku tidak bisa pacarmu." Fira menatap Antonio menyesal, bukan karena menyesal karena cinta melainkan telah melukai perasaan seseorang.
Antonio menghela nafas."Ya sudah tidak apa-apa, tapi jika nanti kamu dan Pak Ivan berpisah, aku masih setia menunggu."
Antonio tersenyum kemudian memutar tubuh dan meninggalkan kelas.
Naira memandang punggung Antonio prihatin."Kenapa dia maksa sekali ingin menjadi pacar mu?"
"Karena Antonio merasa aku tidak merepotkan." Fira asal menebak, ia membereskan perlengkapan sekolah kemudian memasukkan ke dalam tas.
Andrian tersenyum sinis melihat Antonio menerima penolakan dari Fira, ia berjalan mendekati Fira kemudian berkata."Kamu semakin cantik sekarang."
Jika dulu Andrian mengatakan itu, pasti jantungnya akan berdebar tapi sekarang itu terasa hambar, dan biasa saja."Artinya Mas Ivan sukses menjadi seorang Suami."
Naira menahan senyum melihat ekspresi jengkel di wajah Andrian."Kau jangan godain Fira deh, nanti pacarmu marah. Nanti nuduh-nuduh lagi seperti kemarin."
"Aku akan putus dengannya." Andrian bicara tanpa memandang Naira, ia berjalan begitu saja melewati kedua gadis itu.
Kesal dalam hati karena mendapat penolakan dari Fira, hingga sekarang rasanya masih tidak percaya bahwa Fira bisa dengan mudah jatuh cinta pada orang yang baru.
"Fir, dulu kamu sungguh cinta sama Andrian?" Naira penasaran dengan hubungan masalalu mereka.
Fira mengangguk, ia melangkahkan kaki meninggalkan kelas bersama Naira."Dulu aku berpikir dia adalah pria sempurna, tampan dan kaya, sedangkan aku hanya anak seorang petani biasa." Ia bicara dengan miris, rasanya sangat konyol mencintai seseorang yang tidak mencintainya.
Naira mengangguk."Aku pikir Antonio jauh lebih tampan dari Andrian."
Fira tersenyum kecil."Dulu bagiku tidak ada yang setampan Kak Andrian, namun jika dipikir-pikir..." Fira menoleh pada Naira.
"Mas Ivan jauh lebih rupawan." Fira mengalihkan perhatian ke ruang Guru, dalam ruangan itu terlihat para Guru membereskan buku dan ada juga yang masih ngobrol.
Pandangan Fira tertuju pada Maulana, pria itu berdiri di sambil memegang sebotol air mineral di tangan kiri dan kue di tangan kanan, tidak terlihat seperti seorang bangsawan melainkan seperti para Guru yang lain.
Maulana memilih paras putih bersih, dirinya bahkan kalah, mata berwarna safir seperti bukan orang Indonesia, tubuh tinggi 191 dan berat antara 80-85.
Maulana bisa dikatakan sebagai pria memiliki tubuh tinggi tegap, Fira tersenyum sendiri melihat Rangga selalu sibuk hendak menyentuh kulit Maulana, bukan karena rasa suka melainkan iri.
"Pak Ivan itu tidak seperti orang Indonesia, lihatlah." Naira menunjuk Maulana menggunakan pandangan matanya.
"Pak Ivan memiliki hidung mancung, alisnya tebal ... Kenapa ada pria seperti itu?"
Fira mengerutkan kening, ia menoleh tidak suka pada Naira."Kamu bisa sekali memuji Suami orang di depan Istrinya."
"Hehehe." Naira nyengir."Aku hanya berkata jujur, tapi Pak Ivan tidak sombong. Lihat saja, dia juga bisa makan jajan pasar yang harganya murah meriah."
Fira mengangguk, tidak seperti orang kaya pada umumnya, Maulana selalu menghargai jika diberikan sesuatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomanceDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
