.
[ Harly-Cuplikan ]
.
Siang hari toko buku ternyata tak terlalu padat. Ada beberapa pengunjung yang berlalu-lalang, meskipun begitu situasi toko bisa dibilang sangat kondusif dan tak ada penyesakan.
Pria itu terus berjalan dari satu rak ke rak lain. Hari ini ia berencana untuk membeli volume 3 dari seri komik kesukaannya. Selain itu ... ada juga launching komik horor yang sudah ia tunggu sejak beberapa bulan yang lalu. Ini adalah minggu-minggu pertama perilisan, itu juga salah satu alasan jadwalnya dikosongkan untuk langsung berkunjung dan membeli.
Dua buku kini sudah ada di tangan. Jemari-jemari itu menyentuh dagu berpikir. Apakah akan ada hal lain yang menarik perhatiannya tidak ya?
Di lorong sebelumnya sepertinya ada sampul buku yang cukup bagus untuk dibaca. Mungkin jika membelinya seka-
"Eh, sorry," secara tak sengaja sang pria bertabrakan dengan orang di belakang. Ia memang berjalan mundur 2 langkah untuk melihat buku di rak atas, siapa sangka, akan terjadi sesuatu seperti ini. Memang yang namanya-
Mata Harly melotot, ia melihat si gadis dari atas ke bawah. Orang yang bertabrakan dengannya langsung memperlihatkan senyum lebar.
"Hai. Udah lama gak ketemu ya~"
Ha?
Harly buru-buru mundur.
Shīna Gayatri?!
.
.
[ Kai ]
.
.
Manik hitam berkilauan menatap kosong ke atas plafon kamar. Ruang nan luas, pun juga mewah, lampu kristal tergantung menjuntai megah di tengah langit-langit. Cahaya matahari menyusup dari jendela besar yang terbuka tirai, menumpahkan semburat keemasan di atas karpet krem beraksen keemasan.
Di sisi lain ruangan, sebuah ranjang berukuran raja berdiri mewah. Kai terbaring bisu.
"Punya kok!"
Wajahnya kosong ... tenang ... meski begitu beberapa kabel di otaknya seakan berkecamuk dengan apa yang Shīna katakan kemarin di kafe.
"Aku mau minta tolong soal itu ke Fadli. Aku belum bilang sih, tapi aku rasa dia bakalan bantu."
Jemarinya perlahan tertekuk menggenggam guratan seprai yang terasa dingin nan halus di kulit. Angin dari jendela menyentuh wajahnya, sementara suara tirai yang bergesekan pelan menjadi satu-satunya bunyi di kamar.
"Taruhan?" gumamnya.
Semuanya terasa nyaman, tenang, dan sempurna. Hanya pikirannya yang tak kunjung menemukan ketenangan.
Dipikirkan berapa kali pun itu tak pernah terdengar masuk akal. Mereka ini ... apa yang sebenarnya mereka pikirkan? Lalu kenapa pula Shīna bisa berkonflik dengan orang-orang dari sekolah lain? Seberapa parah konfliknya jika sampai ada pertaruhan seperti itu?
Si pria akhirnya terbangun dan pindah ke posisi duduk.
"Mereka itu sebenernya ngapain aja sih selama beberapa minggu ke belakang?"
Kai sudah berusaha mengenyahkan permasalahan-permasalahan ini dari pikirannya. Tapi sialan, tetap saja rasanya ia kepikiran. Kai pikir babak belur Shīna terjadi karena konflik si gadis dengan Sherly. Gadis-gadis itu bertengkar, Shīna tak mau memperpanjang, jadi ya sudahlah. Itu bukan lagi menjadi urusannya jika Shīna tak mau membawa masalah ke komite. Tapi kemarin Shīna baru jujur bahwa itu konflik dengan sekolah lain?
KAMU SEDANG MEMBACA
FIGURAN
Romance🌹 FIGURAN blurb : Shīna Gayatri bukanlah tokoh utama. Dia, hanyalah seorang figuran ... Melihat tokoh utama wanita yang disiksa, melihat tokoh pria yang berjuang mati-matian untuk si cewek, juga melihat si Antagonis yang selalu membuat masalah. Di...
