Cia menggeliatkan badanya, entah kenapa badannya terasa pegal, mungkin efek ia ketiduran di sofa kemarin.
"Gue kok di kamar? Bukanya kemarin gue nonton terus ketiduran?" Tanya Cia pada dirinya sendiri, berusaha mengingat kejadian tadi malam.
Ah mungkin dipindahin Kakak, batinnya
Cia mengikat rambutnya asal ke belakang, lalu dengan cepat mandi dan memakai seragamnya. Setelah itu ia turun ke bawah dan mendapati kakaknya makan sandwich sambil memandangnya lekat.
"Nih minum susu, kakak anterin." Arka menyerahkan segelas susu pada Cia yang menerima dengan ekspresi yang tidak terbaca.
"Kemarin yang mindahin aku ke kamar, kakak?"
Arka mengerutkan dahinya, setahunya kemarin sepulang dari club ia langsung tidur, pagi ini pun ia sangat berusaha menghilangkan efek vodka nya kemarin malam, ia tidak mau terlihat buruk di mata adiknya, meskipun Cia sudah tau bagaimana Arka.
"Bukan. Pak Wadi mungkin." Jawab Arka, Cia hanya mengangguk dan tidak ingin memusingkan hal tersebut.
"Mbak Sari! Bawain sisir dong!" Teriak Arka, mbak Sari yang sedang menyiapkan bekal untuk Cia menghentikan pekerjaannya sebentar.
"Ini, Kak." Mbak Sari menyerahkan sebuah sisir, Arka menerimanya dan ia berdiri dari kursinya membuat Cia heran.
"Kalau sekolah yang rapi dong dek, masa cewek rambutnya berantakan gini." Cia sedikit tersentak karena Arka tiba-tiba menarik ikat rambutnya.
"Pelan-pelan bego!"
Tangan Arka terulur untuk menyentil bibir Cia.
"Ga usah ngomong kasar bisa kan?" Cia hanya bergumam dan membiarkan kakaknya menyisir rambutnya.
Mbak Sari yang sedang memasukkan bekal Cia ke dalam tasnya tersenyum melihat kedua saudara itu.
"Kamu hari ini test? Good luck! Kerjain yang bener! Nanti kalau kamu libur kakak bakal ajak liburan!" Arka mengelus rambut Cia lembut, Cia yang daritadi memainkan ponsel, menatap Arka karena mendengar kata 'liburan'.
"Bener? Nanti sekalian ajak Hera ya Kak? Ga sabar libur gue." Cia yang terlampau senang mencium pipi kakaknya yang sedang menyetir itu. Arka hanya tersenyum lalu mencubit pipi Cia gemas.
"Iya sayang. Doni juga nanti kakak ajak, biar rame."
Cia yang tidak terlalu memusingkan sekolah, tersenyum senang. Sejak meninggalnya kedua orang tuanya, baginya sekolah hanya rutinitas karena menurutnya tidak ada lagi yang akan ia usahakan kebahagiaan dengan nilainya yang bagus, toh sekarang, tanpa belajar pun Cia masih bisa bertahan masuk 10 besar.
Setelah berpamitan pada kakaknya, Cia memasuki sekolah dengan senyum yang tidak hilang dari wajahnya, ia tidak sabar untuk memberitahu Hera bahwa 1 minggu lagi mereka akan liburan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother Conflict (sudah terbit ebook)
Randomlink ebook : https://play.google.com/store/books/details?id=HOX5DwAAQBAJ Arka memiliki adik yang sangat disayanginya, 2 tahun lalu orang tuanya meninggal karena kecelakaan mobil dalam perjalanan menuju hotel di New York untuk melanjutkan proyek aya...
