75

2.5K 82 14
                                        


Pagi ini, mereka terbangun dengan segar, setelah tertidur nyenyak karena kelelahan saat perjalanan naik pesawat yang memakan waktu cukup lama kemarin, mereka sarapan bersama di bagian belakang rumah Stella. Jadi, di belakang rumah Stella terdapat taman dan meja makan persis seperti suasana makan bersama keluarga di beberapa film Itali yang Cia pernah lihat.

Eleua yang sepertinya juga baru saja bangun, diletakkan Stella di sebuah kursi makan bayi.

"Halo, Eleua." Cia mengusap pipi Eleua yang membuat bayi 14 bulan itu tersenyum.

"Say Hello, baby."

"Elo." Kata Eleua yang makin membuat mereka gemas.

"Anak lo nggak diajarin bahasa itali aja?" Tanya Arka random.

Stella meletakkan sebuah mangkuk di depan Eleua dan membiarkan bayi itu memakan makanannya sendiri. "Suami gue yang ngajarin itali, gue Inggris, kakek-neneknya Indonesia, biar dia jadi multilingual." Jelas Stella.

Arka mengangguk, boleh juga nih kalau diterapin ke anaknya nanti.

"Nanti gue anter ke Venice agak siangan ya, sekalian mau ajak Eleua juga."

"Dari Milan ke Venice berapa jam?" Tanya Arka, ia menyelupkan ciabatta ke dalam susu yang membuat Stella mengernyit. Roti gandum khas Itali itu memang biasanya diisi dengan daging dan sayur seperti sandwich.

"Hampir 3 jam, lumayan lama sih ya."

"Kita nanti naik kereta, Kak?" tadi, Cia sempat browsing, perjalanan dari Milan ke Venice biasanya menggunakan kereta.

"Enggak, nanti kita naik mobil aja, biar lebih santai."

"Eat dis." Eleua yang tadinya bermain dengan makanannya, tiba-tiba menepuk-nepuk tangan Cia yang duduk tepat di sampingnya. Bayi yang sedang lucu-lucunya itu sedang memakan buah persik dan disodorkan kearah Cia.

Cia memajukan badannya hingga Eleua dapat menyuapinya. "Thank you, Eleua."

Setelah mereka sarapan hangat yang didominasi dengan celotehan-celotehan lucu Eleua, mereka bersiap untuk ke Venice, dari sejak menonton Chasing Liberty yang tidak sengaja ia lihat dari laptop Arka saat dirinya masih SMP, Cia memang sudah sangat ingin pergi ke Venice untuk melihat keindahannya.

"Mandi dulu sana, Kak."

Arka yang sedang duduk di depan jendela, menyudahi mengecek ponselnya.

"Gimana kalo kita mandi bareng?"

"Gila!"

Sebuah guling mendarat dengan mulus di wajah Arka.

"Kita nggak bisa ke Venice, disana lagi banjir besar. The worst flooding in 50 years." Kata Stella, tadi dia juga sempat menelfon mertuanya yang mengatakan jalanan Venice masih dipenuhi air yang menggenang.

Cia dan Arka yang memang baru saja keluar dari kamar ikut bergabung dengan Stella yang duduk di sofa depan TV.

"Gimana sama keluarga lo disana?"

"Luckily, baik. Tapi kayaknya kalau untuk wisata belum bisa." Stella memandang Cia yang memang ia tahu Cia sangat ingin ke Venice.

"Nggak perlu ke Venice, Milan juga punya banyak wisata menarik, kok."

"Nanti, Lo temenin kita juga lah buat cari rekomendasi hotel disini."

"Lah, disini aja. Ngapain nyari hotel?"

"Nggak enak Kak, masa kita ngerepotin terus." Cia juga sedikit heran, teman cewek Arka kan biasanya semacam Sheila gitu, tapi ini tumben baik banget.

"Halah, apasih malah seneng kok Kakak, biar kamu bisa jagain Eleua juga, belajar jadi istri Arka nanti."

Cia melebarkan matanya dan Arka tersenyum geli.

"Eh nih cemilan, kamu suka coklat kan."

Di depan mereka, seorang pelayan meletakkan kue yang ditengah-tengahnya berisi coklat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di depan mereka, seorang pelayan meletakkan kue yang ditengah-tengahnya berisi coklat.

"Ini namanya, Baci di Dama,enak Eleua aja suka." Eleua yang duduk dipangkuan Stella makan baci di dama dengan coklat yang cemong di wajahnya.

"Habisin dulu pokoknya ini, habis ini gue ajak jalan-jalan keliling Milan."

Brother Conflict (sudah terbit ebook)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang